Teologi adalah bagian dari jalan keluar untuk memecahkan kebuntuan urusan mendirikan suatu Universitas Kristen yang baru di Kupang.


Pdt. Semuel Victor Nitti

Majalah Suara Harapan – Pada mulanya Akademi Teologi Kupang diharapkan akan dibuka pada Januari 1979. Mengantisipasi rencana itu rektor Sekolah Teologi GMIT di Tarus, Pdt. Chr. P. Banoet, S.Th (kini alm) membuka kelas khusus di ST Tarus yang dinamai kelas pra-akademi teologi pada Januari 1998, dengan kurikulum khusus termasuk bahasa Ibrani dan bahasa Yunani. Yang diterima di kelas pra-akademi itu adalah tamatan SMP, SMA, PGSLP dan seorang pendeta (Pdt. Yes Sabuna). Ternyata pembukaan Akademi Teologi ditunda sehingga kelas khusus tersebut diintegrasikan dengan Sekolah Teologi Tarus. Teman-teman yang berijazah SMA dan pendeta diurus lanjut ke UKSW Salatiga, diantaranya: Pdt. Yes Sabuna, Corpinus Oematan, Yunus Poli, Maureen Djaranyoera, Lis Sodakh. Kami yang lain, termasuk yang berijazah PGSLP, tetap di Tarus.

Ketika akhirnya Akademi Teologi Oesapa dibuka, sebahagian besar buku-buku perpustakaan Sekolah Teologi Tarus dialihkan untuk mengisi perpustakaan Akademi Teologi Oesapa. Zakharias Neno (waktu tingkat 1 di ST Tarus) dan saya (tk. 3 ST Tarus) mengantar buku-buku tersebut dan bekerja selama dua hari untuk memberi nomor rotor pada buku-buku tersebut. Pada saat itu Zakharias dan saya berkenalan dengan para mahasiswa ATh. Dua dosen tetap yang mengajar di ST Tarus juga mulai mengajar di ATh Oesapa yaitu Pdt. Chr. P. BanoEt dan Ds. C. W. Oppelaar dari Belanda. Beberapa siswa ST Tarus menyimpan dalam hati cita-cita untuk lanjut ke ATh Oesapa setelah tamat, tapi tidak satu pun yang jadi karena berbagai alasan dan malah ke UKDW Yogya atau UKSW Salatiga. Namun beberapa tahun kemudian ada juga tamatan ST Tarus yang lanjut di ATh Oesapa. Sejak ATh Oesapa dibuka ST Tarus tidak lagi menerima siswa baru dan akhirnya ditutup beberapa tahun kemudian.

Selamat merayakan ulang tahun ke 50 sebagai Fakultas Teologi yang sebelumnya adalah Sekolah Tinggi Teologi dan sebelumnya lagi adalah Akademi Teologi. Walau nama berubah namun misi tetap: mendidik calon pendeta (dulunya: orientasi pedesaan), kini pasti orintasi lebih terbuka menanggai globalisasi. Yang jelas perubahan nama dari STT menjadi Fakultas Teologi adalah bagian dari jalan keluar untuk memecahkan kebuntuan urusan mendirikan suatu Universitas Kristen yang baru di Kupang. Dengan perubahan nama itu STT menjadi ibu bagi terlahirnya UKAW. Semoga ia tetap menjadi ibu yang dihormati sepenuhnya. Tuhan Yesus, Kepala gereja, pasti tetap memberkati Fakulltas Teologi dalam UKAW./facebook  Pdt. Semuel Victor Nitti

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here