Perempuan adalah makhluk unik yang diciptakan untuk melengkapi laki-laki dalam mengemban tanggung jawab besar dari Tuhan.  Keberadaan perempuan hendaklah memberikan nilai lebih kepada sekitarnya.  Seharusnya kehadiran perempuan menjadikan lingkungan lebih indah.  Adanya perempuan menyebabkan kebermaknaan.

Mariana Poedji Christanti – FSI Club Ministry

MAJALAH SUARA HARAPAN.COM – Beberapa wanita yang bergabung dalam kelompok Bible Study kami menamakan diri: Kelompok Hidup Bermakna.  Nama yang akan mendorong setiap kami memperjuangkan kehidupan bermakna demi kemuliaan Tuhan kami, YesusKristus.  Hari itu, seperti biasa kami berdiskusi seru mempelajari I Samuel 25:1-44, kisah Abigail yang bertindak bijaksana menahan pertumpahan darah yang akan dilakukan Daud dan pasukannya atas suami dan komunitasnya.  Abigail, perempuan istimewa dalam perikop tersebut menjadi fokus pembahasan kami.  Tanda tanya besar segera muncul dalam benak sebagian besar di antara kami, bagaimana mungkin perempuan sebaik dan semanis Abigail memiliki Nabal, suami yang dursila?  Pertanyaan-pertanyaan berikutnya segera menyusul.  Bagaimana Abigail mengawali pernikahannya?  Apakah ia dipaksa menikah?  Apakah ia berada dalam tekanan adat dan tradisi?  Bagaimana Abigailmampu menjalani perjalanan hidup bersama seorang dursila?  Apakah yang membuatnya mampu bertahan dalam pernikahan yang terlihat tak seimbang itu?  Apakah pertemuannya dengan Daud (I Samuel 25:23-31) adalah harapan yang sesungguhnya terbersit dalam diri Abigail untuk melepaskan diri dari ikatan pernikahannya dengan Nabal?

Beberapa informasi memberikan sedikit pencerahan bagi kami.  Ada dua Abigail yang terkait dengan kisah Raja Daud di Israel.  Pertama, adalah Abigail mantan istri Nabal (I Samuel 25:3) yang kemudian menjadi istri Daud (I Samuel 25:40-42) lalumemiliki anak bernama Khileab (II Samuel 3:3,memiliki akar kata ‘Kaleb’ seperti nama keluarga dari mana Abigail berasal, artinya: seperti ayahnya; arti lainnya: ayahnya kutahan– ini nampaknya nama yang diberikan Abigail kepada buah cintanya dengan Daud, untuk mengingatkan peristiwa di mana Abigail menahan Daud dari tindakan berdosa menumpahkan darah sesama bangsanya, yaitu Nabal), disebut juga Daniel (I Tawarikh 3:1, artinya: Allah adalah hakimku).  Kedua, adalah Abigail anak Isai ayah Daud.  Abigail, adik tiri Daud ini menikah dengan Yeter orang Ismael, dan melahirkan Amasa yang kelak menjadi panglima Daud(II Samuel 17:25; I Tawarikh 2:13-17).

Abigail maupun suami pertamanya yaitu Nabal adalah keturunan Kaleb (I Samuel 25:3).  Hal ini memberikan gambaran bagaimana Abigail dipertemukan dengan Nabal dalam suatu pernikahan.  Ikatan kekerabatan adalah alasan yang memungkinkan pernikahan tersebut terjadi.  Suatu kondisi yang bisa jadi membuat perempuan pada waktu itu tidak memiliki keleluasaan untuk menentukan sendiri dengan siapa ia ingin menghabiskan seluruh hidup pernikahannya.

Tentu dapat dibayangkan bagaimana sulitnya hidup Abigail bersama Nabal yang berkarakter buruk.  Namun kesulitan tersebut tidak menjadi alasan bagi Abigail untuk bertumbuh dalam keindahan karakter sebagaimana yang dikehendaki Tuhan.  Abigail berlaku sebagai seorang istri yang baik sekalipun ‘mungkin’ ia tidak diperlakukan dengan baik oleh Nabal suaminya.  Justru Abigail menjadi ‘perisai’ bagi kehormatan Nabal, ketika suaminya itu bertindak bodoh.  Bahkan terlihat, bahwa Abigail mengambil peran sebagai ‘penyelamat’ bagi hidup Nabal dan semua yang ada di bawah tanggungjawab Nabal (I Samuel 25:24), atas kesalahan yang diperbuat suaminya dengan menghina dan mengabaikan kebaikan Daud.  Dengan cara yang luar biasa, Abigail mengerjakan apa yang tidak dapat dilakukan suaminya.

Di sisi lain, Abigail berhasil mencegah Daud, orang yang dipakai Tuhan itu dari tindakan tercela menumpahkan darah bangsanya sendiri, dengan cara mengarahkannya pada kepentingan (rencana) Tuhan (I Samuel 25:26-31).  Dalam hal ini, persuasi yang dipergunakan Abigail sangat lembut, manis, dan bijaksana.  Perhatian, kepeduliaan, kecerdasan, dan ketangkasannya, serta kerendahan hatinya pun terlihat nyata.  Adapun yang jauh lebih memukau adalah tindakan Abigail ketika memberitahukan kesalahan Nabal.  Ia tidak memperlihatkan kegeraman dan kemarahan yang tak terkendali.  Sungguh Abigail adalah paket lengkap yang memperlihatkan gambaran Amsal 25:11.

Sempat terpikirkan oleh kami, apa yang terjadi seandainya Daud tidak pernah muncul dalam kehidupan Abigail?  Apakah Abigail memandang pertemuan dengan Daud sebagai titik terwujudnya pengharapan akan mimpi indahnya?  Tidak dapat diingkari bahwa kami memang sedang membiarkan pikiran-pikiran nakal berkelana dan menari-nari dalam kepala.  “Mungkin kisah hidup Abigail tak pernah termuat di Alkitab”, demikian dugaan kami.  Kemungkinanbesar Abigail terus akan bersama dengan Nabal sepanjang sisa hidupnya.  Apakah yang akan diperbuat Abigail bila ia tak pernah bertemu Daud dalam hidupnya?  Masihkah ia menjunjung kehormatan Nabal?  Akankah ia terus berperansebagai ‘perisai’ atau ‘penyelamat’ bagi Nabal sekalipun berkali-kali menunjukkan kebodohannya?

Kami mendalami pembicaraan antara Abigail dan Daud (I Samuel 25:24-35).  Kami menemukan bahwasanya apapun yang dilakukan Abigail, semata-mata untuk kepentingan Nabal dan seluruh komunitas yang ada di bawah tanggungjawab Nabal; dan juga untuk kepentingan Daud dan pasukannya.  Tidak terlihat adanya indikasi bahwa Abigail memiliki kepentingan egois.  Jadi apapun yang dilakukan Abigail demi kebaikan pihak lain.  Ia tidak memikirkan kepentingan diri sendiri.  Bahkan seandainya Nabal tidak mati sekalipun, Abigail akan terus memberikan hal-hal baik di sepanjang hidup suaminya.  Bukan oleh sebab ‘apa yang diberikan’ suaminya melainkan ‘apa yang harus dilakukan’ olehnya.Apabila diperhatikan lebih jauh bagaimana Abigail memberikan kesempatan Daud berbuat baik dengan menghargai dan berterima kasih dengan cara meminangnya(melindungi status kejandaannya, sesaat setelah Nabal meninggal) (I Samuel 25:39-42).‘Berbuat melebihi harapan (ekspektasi)’, nampaknya yang sedang diteladankan Abigail.  Inilah hal terindah tentang pribadi Abigail.

Perempuan adalah makhluk unik yang diciptakan untuk melengkapi laki-laki dalam mengemban tanggung jawab besar dari Tuhan.  Keberadaan perempuan hendaklah memberikan nilai lebih kepada sekitarnya.  Seharusnya kehadiran perempuan menjadikan lingkungan lebih indah.  Adanya perempuan menyebabkan kebermaknaan.  Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan dalam Kejadian 2:18, bahwa perempuan adalah ‘penolong yang sepadan’ dalam arti yang luas (bukan dalam konteks pernikahan semata, melainkan dalam konteks kehidupan secara keseluruhan).

Batasan-batasan seperti budaya, tradisi, asumsi, fisik, ilmu pengetahuan, dan lain-lain, tidak perlu memasung perempuan untuk berkarya dalam hidupnya.  Perempuan berkarya bukan berarti harus mengingkari kodratnya.  Justru kebermaknaan hidup perempuan adalah ketika ia mampu mengoptimalkan potensi yang dimilikinya.  Mengoptimalkan potensi yang dimilikinya inilah sebagaicara perempuan menghargai Tuhan yang menjadikannya spesial di muka bumi ini.  Nyatalah dalam hal ini bahwa Tuhan harusnya yang menjadi pusat hidup perempuan.  Sebagaimana Abigail yang mampu bertahan dalam kesulitan, memecahkan masalah, dan menjaga diri dalam kemurnian motivasi, hanya oleh karena ia menjadikan Tuhan sebagai dasar hidupnya.  Maka demikianlah perempuan-perempuan percaya di masa kini seharusnya berlaku.  Ketika perempuan mendasarkan Tuhan di hidupnya, maka ia akan membawa orang lain datang dan dimenangkan di dalam Tuhan.  Hidupnya akan menjadi suluh bagi sekitarnya, bagi dunia yang gelap ini. Kerja sama Suara Harapan dan FSI Club Ministry

http://radiosuaraharapan.com/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here