BULAN PENDIDIKAN GMIT

Kemarin saya mendengar khotbah yang mengesankan tentang kewajiban tolong-menolong dalam urusan pendidikan, maksudnya urusan “kasi sakola anak.” Ajakan ini sah di Bulan Pendidikan yang GMIT rayakan sepanjang bulan Juli. Masalahnya, ajakan sah untuk tolong menolong dalam urusan kasi sakola anak tidak akan menggema kuat dalam praktek karena urusan kasi sakola anak belum atau tidak menjadi bagian dari kewajiban budaya. Dkl, sejauh urusan bertolong-tolongan dalam hal kasi sakola anak masih dianggap bagian yang asing dari tradisi budaya orang GMIT di Timor, maka ajakan itu kurang mendapat respons yang baik. Dibutuhkan proses bedah budaya untuk memasukkan urusan tolong-menolong dalam hal kasi sakola anak ke dalam kerangka budaya setempat, supaya senilai, atau bahkah lebih bernilai dari tolong menolong dalam hal kasi kawin anak. Selain itu dibutuhkan keberanian beberapa keluarga atau rayon dalam setiap jemaat untuk “membudayakan” hal tolong menolong untuk kasi sakola anak, supaya urusan ini tidak dipandang sebagai urusan individu melainkan urusan bersama.

Galatia 6:2: “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu. Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.”

Suara Harapan – Manusia itu makluk sosial. Ia hidup bersama karena saling butuh demi saling memanusiakan. Tata-laku hidup bersama karena salling butuh itu ditradisikan menjadi budaya tolong-menolong. Tolong-menolong dalam bingkai budaya itu dibatasi oleh konteks. Demikianlah dalam masyarakat yang tidak mengenal uang, tolong menolong itu dilakukan dalam batas-batas pinjam-meminjam yang diimbangi dengan ganti-mengganti dalam hal kebutuhan sehari-hari. Di situ tidak dikenal jual-beli antar anggota komunitas yang bersaudara. Jual-beli hanya terjadi dengan “orang luar” yang bukan “orang kita.” Maka “orang luar” bisa membuka usaha berjualan dalam komunitas yang saling menyapa sebagai saudara, dan usahanya berkembang. Tetapi bila salah satu dari “orang kita” membuka usaha jual-beli di antara “sesama kita” maka usahanya tidak berkembang, sebab habis dibon oleh para “kita” yang lain, dan mereka tidak bersedia membayar tanpa merasa bersalah. Justru para “kita” merasa malu dan bersalah kalau bon pada penjual yang “orang luar.”

Baca Juga :  Ratusan Pemuda Karang Taruna Noelbaki Menjaga Keamanan Perayaan Natal

Tradisi bertolong-tolongan yang kuat terpelihara sampai kini adalah tradisi “kumpul keluarga”, yang dalam bahasa Amarasi Ro’is disebut “bua neref” (kumpul hati atau kumpul pengasihan), sebagai kewajiban antar sesama “kita.” Bua neref ini amat menonjol dalam urusan perkawinan (=kasi kawin anak), khususnya belis dan pesta. Hal ini terjadi karena perkawinan adalah peristiwa budaya, bukan peristiwa dan urusan pribadi seseorang di antara para “kita.” Bahasa Kupang kini menyebut peristiwa ini sebagai “Kumpul-Keluarga.” (Kalau saya tidak salah ada istilah dan tradisi Tu’u, di kalangan komunitas Rote, yang lebih berkaitan dengan peristiwa kematian).

Baca Juga :  DI MANA KASIH-NYA?

Kemarin saya mendengar khotbah yang mengesankan tentang kewajiban tolong-menolong dalam urusan pendidikan, maksudnya urusan “kasi sakola anak.” Ajakan ini sah di Bulan Pendidikan yang GMIT rayakan sepanjang bulan Juli. Masalahnya, ajakan sah untuk tolong menolong dalam urusan kasi sakola anak tidak akan menggema kuat dalam praktek karena urusan kasi sakola anak belum atau tidak menjadi bagian dari kewajiban budaya. Dkl, sejauh urusan bertolong-tolongan dalam hal kasi sakola anak masih dianggap bagian yang asing dari tradisi budaya orang GMIT di Timor, maka ajakan itu kurang mendapat respons yang baik. Dibutuhkan proses bedah budaya untuk memasukkan urusan tolong-menolong dalam hal kasi sakola anak ke dalam kerangka budaya setempat, supaya senilai, atau bahkah lebih bernilai dari tolong menolong dalam hal kasi kawin anak. Selain itu dibutuhkan keberanian beberapa keluarga atau rayon dalam setiap jemaat untuk “membudayakan” hal tolong menolong untuk kasi sakola anak, supaya urusan ini tidak dipandang sebagai urusan individu melainkan urusan bersama.

Baca Juga :  EPIFANI: MEMPERSEMBAHKAN DIRI

Akan makin kuat lagi jika proses membudayakan hal tolong menolong untuk kasi sakola anak dikemas sebagai membudayakan suatu akta iman, berbasis pada janji baptisan sebagai jawaban atas anugerah Allah yang menyelamatkan anak-anak juga. Sebab, kata Paulus, demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus, yaitu ketika akta iman ini menyata menjadi aksi gerejawi, aksi bersama warga GMIT. Sejauh ini baru ada satu aksi iman, Mama (GMIT) Panggil Pulang.

Semoga ada Jemaat atau klasis, atau kumpulan Pendeta yang menggagas diskusi ini selama Bulan Pendidikan, supaya pesan pendidikan di Bulan Pendidikan benar-benar mendidik gereja menjadi komunitas tolong-menolong dalam urusan kasi sakola anak.

Selain itu, baik juga jika dalam khotbah, pokok tentang budaya Kumpul Keluarga untuk urusan kasi kawin anak dibedah sebagai model untuk Kumpul Keluarga dalam urusan kasi sakola anak. Bisa juga semangat kebersamaan iman (atau: Psiko-sosial yang dikemas sebagai tanggung jawab iman), yang amat kuat dalam hal membangun “gedung gereja kita” juga dibedah sebagai contoh semangat bersama dalam hal pendidikan anak-anak.

Pdt. Semuel V. Nitti
Komentar