Foto:Google 

Pro Kontra Kelompok Idealis Realistis dan Idealis Egois Sikapi Aksi Demo Mahasiswa.
Demo mahasiswa yang terjadi boleh dibilang besar secara jumlah, dari kuantitasnya. Tetapi dari sisi kualitas perlu dipertanyakan. Kenapa? Karena banyak diantara yang berdemo itu tidak paham apa yang menjadi tuntutannya.

Selain banyak yang tidak paham, tak sedikit pula diantaranya mengajukan tuntutan yang melenceng dari tujuan awal aksi demonstrasi tersebut digelar. Misalnya dengan menuntut Rizieq Shihab dipulangkan atau yang meminta Jokowi turun dari jabatannya. Apa hubungannya.

Karena itu tak heran jika aksi mahasiswa itu kemudian dinilai tidak murni. Ada kelompok di luar mereka yang sengaja menyusup, memanfaatkan keadaan, menunggangi. Yang jelas-jelas terlihat memanfaatkan adalah kelompok Islam fundamentalis radikalis dan para pengkhianat bangsa pengusung khilafah.

Tetapi fakta ini pun masih ditolak oleh kelompok mahasiswa yang benar-benar dengan niatnya. Seolah mereka menutup mata pada yang bahkan sudah tertangkap kamera. Yang jelas sekali gambar dan videonya.

Lalu apa yang menyebabkan gerakan suci kawan-kawan mahasiswa itu mudah disusupi?

Karena rata-rata yang ikut aksi adalah anak muda di usia-usia labil. Mahasiswa baru yang idealismenya masih terkontaminasi emosi. Egois. Yang kadang memiliki pandangan bahwa idealis itu hanya pendapatnya lah yang benar. Yang berseberangan adalah penghalang. Bahkan dianggap musuh yang harus dilawan.

BACA JUGA:   PEMKAB KUPANG MENYELENGGARAKAN PORSENI

Kelompok idealis egois ini sangat mudah dimanfaatkan karena mereka cenderung minim wawasan dan pengetahuan. Para politisi licik picik yang berkepentingan bisa dengan mudah menggerakkan mereka. Sebab tak sedikit dari mereka yang sekarang jadi politisi dulunya juga mengalami hal sama ketika jadi mahasiswa. Bedanya, dulu dimanfaatkan sekarang memanfaatkan.

Begitupun kelompok Islam fundamentalis radikalis dan para pengusung khilafah. Elit-elit mereka pun banyak yang berasal dari organisasi kampus. Tahu persis bagaimana caranya memanfaatkan mahasiswa-mahasiswa idealis egois supaya bisa menyelipkan agenda-agenda busuk mereka.

Tetapi intinya yang memudahkan kelompok idealis egois tersebut disusupi adalah karena emosional dan egois. Kondisi ini mengakibatkan mereka sulit berpikir realistis. Idealisme mereka yang baru berupa konsep atau teori yang ditemukan di buku dan dari kata-kata seniornya itu selalu menuntut penyelesaian dengan cara instan. Pokoknya harus begini. Idealnya mesti begitu. Tak perduli lagi akibatnya apa dan bagaimana, yang penting sikat saja.

BACA JUGA:   Gubernur NTT : Akomodasi Pariwisata Harus Ditingkatkan

Sementara di seberang lainnya, kelompok masyarakat idealis realistis selalu mewanti-wanti setiap aksi yang dilakukan oleh mereka yang idealis egois. Sebab kelompok ini relatif lebih memahami kondisi real di lapangan. Idealisme mereka tidak sempit. Bukan lagi sekedar teori. Pemahannya lebih luas karena sudah berhadapan langsung dengan berbagai permasalahan yang ada. Solusi pemecahan yang ditawarkan pun lebih realistis, bukan lagi yang instan.

Kelompok idealis realistis itu tak lagi sekedar turun kejalan dengan jumlah massa yang besar. Yang kalau tuntutannya tak juga dituruti berbuat anarkis. Yang kalau nantinya akibat berbuat anarkis itu ada korban lalu dibesarkan-besarkan. “Ah… ini sudah usang,” kata mereka. “Sudah tidak efektif. Malah bisa menimbulkan masalah baru yang jauh lebih besar dari yang diupayakan untuk diselesaikan,” tambahnya.

Karena itu kelompok tersebut lebih memilih cara lain dalam merealisasikan idealismenya. Semisal dengan mendatangi langsung pihak-pihak terkait tanpa menggelar aksi unjuk rasa di jalan-jalan yang melibatkan massa dalam jumlah besar. Jika pun harus ke jalan, mereka tak lagi jerit-jerit menakutkan seperti biasa dilakukan orator demo umumnya. Gerakan bakar lilin itu misalnya. Atau dengan menggelar aksi konser damai dan kegiatan-kegiatan kreatif lainnya.

BACA JUGA:   Hidup adalah Belajar

Tapi rupanya, wanti-wanti dari kelompok idealis realistis itu tak ditanggapi positif oleh kelompok idealis egois. Mereka justru dituduh sebagai penjilat yang kehilangan idealismenya. Sebagian lagi dituduh sebagai buzzer yang bersuara karena dibayar.

Yang menarik dari fenomena ini adalah kita bisa cukup mudah membedakan siapa-siapa saja yang tergolong sebagai kelompok idealis realistis dan siapa-siapa pula yang termasuk dalam kelompok idealis egois. Dalam narasi-narasi yang tersebar di sosial media misalnya. Kelompok idealis realistis relatif lebih santai dalam menyampaikan pendapatnya, sementara kelompok idealis egois senantiasa tegang.

Dalam interaksi langsung di dunia nyata juga sama. Mereka yang idealismenya masih disertai egoisme pribadi biasanya selalu berapi-api ketika berbicara. Satu lagi yang menjadi ciri khasnya. Di mata mereka, semua salah, tidak becus. Kecuali yang sependapat. Sementara yang realistis tampak jauh lebih dewasa. Bahkan tak jarang dalam menyampaikan pendapatnya menyelipkan canda yang menyegarkan. Membuat suasana lebih asyik dan jauh dari kesan menakutkan. Seword.com

KOMENTAR ANDA