Majalahsuaraharapan.com| Selamat merayakan kehidupan sebagai perempuan-perempuan pemberi hidup, terkhusus semua perempuan yang saat ini sedang berjuang antara melindungi diri sendiri dan menolong orang lain di ambang batas kehidupan. Semoga Saudara semua diberikan hati yang besar, semangat yang tak pernah usang, dan harapan yang selalu mengiringi langkah juang.

Dalam merefleksikan semangat perjuangan Kartini layaklah kita memberikan apresiasi kepada para perempuan yang saat ini menjadi garda terdepan pejuang melawan pandemi covid 19—para tenaga kesehatan. Keteguhan dan ketegaran yang diwariskan Kartini dalam perjuangannya menjadi sebuah pemaknaan kontekstual bagi mereka, yang siap dengan konsekuensi yang akan diterima. Dimulai dari tidak bertemu keluarga, melawan rasa khawatir dan takut, serta penolakan akibat stigma di masyarakat.

Berdasarkan data World Health Organization (WHO) 2019, jumlah perempuan sebagai tenaga kesehatan secara global mencapai 70 persen dari total keseluruhan tenaga kesehatan. Di Asia Tenggara, mayoritas tenaga kesehatan adalah perempuan, terdapat 79 persen perempuan yang berprofesi sebagai perawat dan 61 persen sebagai dokter. Di Indonesia, berdasarkan data Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) per April 2017 tercatat jumlah perawat sebanyak 359.339 orang yang terdiri atas 29 persen atau 103.013 perawat laki-laki dan 71 persen atau 256.326 perempuan.

BACA JUGA:   Shalat Id Berlangsung di Depan Gereja, Jemaat GMIT Kalvari Tunda Ibadah

Meningkatnya jumlah pasien yang terkena virus corona sampai saat ini tentunya tidak sebanding dengan jumlah perawat yang tersedia. Rasio perawat terhadap 100.000 penduduk Indonesia pada 2014 sebesar 94,07 perawat per 100.000 penduduk, pada 2015 menurun menjadi 87,65 perawat per 100.000 penduduk serta pada 2016 secara nasional adalah 113,40 per 100.000 penduduk. Rasio ini masih jauh dari Rencana Strategis Kementerian Kesehatan tahun 2015-2019 sebesar 180 perawat per 100.00 penduduk. Kementerian Kesehatan (2017).

Hal inilah yang menjadi kendala dalam pemutusan mata rantai penangan covid, yang tidak hanya dirasakan Indonesia, tetapi juga dunia. Permasalahan kekurangan tenaga kesehatan dengan sendirinya mengakibatkan beban jam kerja melampaui batas normal bagi tenaga kesehatan; terutama bagi perempuan di samping itu dampak psikologis, ekonomi dan stigma sosial, kesehatan dan keselamatan juga merupakan faktor paling penting. Berdasarkan catatan Ikatan Dokter Indonesia (IDI), hingga 6 April terdapat 24 dokter meninggal karena Corona, tujuh orang di antaranya perempuan.

BACA JUGA:   Romo Franz Magnis: Tingkatkan Solidaritas agar Terbebas COVID-19

Hingga kini terdapat persoalan mendasar terkait kebutuhan terhadap Alat Pelindung Diri (APD). Kebutuhan APD tersebut dianggap mendesak keberadaannya, mengingat perawat sebagai petugas medis yang kontak langsung dengan pasien. Untuk ini, pemerintah diharapkan memberikan perhatian sebaik-baiknya terhadap pejuang garis terdepan melawan covid untuk memastikan kesehatan dan keselamatan mereka terjamin.

Di samping itu, kita pun tidak dapat melupakan perempuan-perempuan di balik tersedianya kebutuhan APD bagi tenaga medis. Mereka perempuan yang masih bekerja di dalam ancaman dampak covid 19 demi untuk keselamatan perempuan lain adalah salah satu bentuk kontribusi paling nyata saat ini. Terdapat sekitar 60 persen UMKM di Indonesia yang memproduksi masker, baju pelindung, dan hand sanitizer juga diperankan oleh perempuan. Di Yogyakarta terdapat UMKM yang berahli produksi ke pembuatan masker yang dikerjakan seluruhnya oleh perempuan (www.tagar.id).

Tidak lupa juga perempuan-perempuan pengambil kebijakan yang melakoni peran pucuk pimpinan sebagai pejabat publik seperti menteri, gubernur, walikota, dan bupati guna penganganan dampak covid 19 dalam melakukan kebijakan-kebijakan strategis untuk mengatasi persoalan siklus perputaran ekonomi daerah, kesejahteraan masyrakat, permasalahan kesehatan dan sosial dan dampak lainnya.

BACA JUGA:   Pimpinan Tuhan

Tak boleh dilupakan pula para perempuan pekerja kreatif seperti influencer yang memberikan kontribusi mereka melalui kampanye positif melalui media sosial bagi masyarakat Indonesia seperti tetap stay at home, penggunaan masker, galang donasi untuk membantu tanaga kesehatan maupun masyarakat yang terkena dampak covid. Perempuan pekerja sosial yang menggerakan lembaga-lembaga bantuan sosial serta para jurnalis yang senantiasa bertugas meliput di tengah wabah covid, serta para pengusaha yang mengubah skema produksi untuk membantu kebutuhan APD para tenaga medis seperti perancang busana Anne Avantie, yang memproduksi dan menyumbangkan APD secara gratis, adalah bentuk pemaknaan paling konstekstual terhadap perjuangan Kartini diikuti oleh perempuan Indonesia saat ini.

Bagi perempuan tenaga kesehatan, pengambil keputusan, para pekerja formal dan informal, ibu rumah tangga, perempuan aktifis mahasiswa, pekerja kreatif, jurnalis, pengusaha serta semua perempuan Indonesia, selamat memaknai kembali perjuangan Kartini dengan pengorbanan paling tulus yang Saudara lakukan saat ini. Kehidupan memang selalu membutuhkan energi positif para perempuan penjaga kehidupan.* Satuharapan

KOMENTAR ANDA