Demi Kemanusiaan, Ipda Fridus Izinkan WN Timor Leste Masuk ke NTT…

ADVERTORIAL58 Views
NTT-Suara harapan- Inspektur Polisi Dua (Ipda) Albertus Fridus Bere (40) masih mengingat jelas kejadian yang tak akan pernah dilupakannya.

Awal Januari 2018 lalu, saat itu seperti biasa, Fridus sapaan akrabnya sedang bertugas sebagai Kepala Pos Polisi (Kapospol) Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Motamasin di Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Sebagai petugas di pintu perbatasan dengan Distrik Covalima, Timor Leste yang masih berpangkat Brigadir Kepala (Bripka), Fridus selalu siaga bersama anggotanya. Apalagi, nuansa tahun baru masih melekat erat.

Ketika itu, mentari sedang merangkak menuju peraduannya. Tiba-tiba muncul seorang pria berperawakan sedang, kulit gelap dan berambut ikal menghampirinya.

Dengan napas masih belum teratur rapi, laki-laki yang diketahui bernama Primus Manek asal Desa Rainawe, Kecamatan Kobalima, Kabupaten Malaka, NTT, meminta bantuan kepada Fridus.

Permintaan Primus, rupanya tidak langsung disetujui Fridus, lantaran terbilang sulit karena harus berkoordinasi dengan sejumlah pihak terkait.

Primus meminta agar saudarinya asal Distrik Covalima, Timor Leste diizinkan untuk berobat ke Rumah Sakit Penyanggah Perbatasan (RSPP) Betun, Malaka.

“Kondisi perempuan asal Timor Leste itu kritis dan semua badannya kuning, serta kurus kering. Kalau tidak segera ditolong bisa meninggal,” ungkap Fridus,kepada media┬ádi Betun, Jumat (7/10/2022).

Perempuan berusia 49 yang belakangan diketahui bernama Carolina Cardoso, asal Kampung Taliion, Distrik Covalima, Timor Leste, sedang berboncengan tiga orang menggunakan sepeda motor matic dan berada persis di pintu perbatasan antara kedua negara.

Dia sedang diapit oleh sang suami dan adiknya sembari mengendarai sepeda motor.

Posisi duduknya di tengah, dengan wajah tertunduk lesu dan kondisi tubuh yang kurus hanya berbalut tulang. Wanita tersebut nyaris ambruk dari motor, saat berpapasan dengan Fridus dan anggotanya.

Beruntung, suami dan adiknya sigap menahan badan Carolina.

Berada pada situasi dilematis, membuat Fridus harus segera mengambil keputusan, meski bertentangan dengan aturan, sebab warga Timor Leste tersebut tidak memiliki dokumen resmi untuk masuk ke Indonesia.

Berbekal pengalaman memimpin pos perbatasan selama tujuh tahun, Fridus sudah terlatih menghadapi situasi sulit, sehingga tanpa berpikir panjang, dia langsung membolehkan mereka masuk ke Indonesia.

“Mereka ingin berobat, tapi tidak diizinkan. Namun, setelah kita lihat kondisinya kritis dan demi kemanusiaan, kita akhirnya izinkan masuk ke Betun untuk berobat,” ungkap Fridus.

Fridus pun memberi izin tanpa syarat dan tanpa batasan waktu, asalkan Carolina bisa sembuh dari penyakitnya.

Setelah mendapat izin dari Fridus, Primus lalu bergerak cepat mencari mobil untuk mengangkut saudarinya menuju rumah sakit, karena khawatir kondisi kesehatan Carolina yang terus memburuk.

Satu mobil bak terbuka berwarna putih jenis Suzuki datang dan mengangkut Carolina menuju RSPP Betun.

Tiba di rumah sakit sekitar 20 menit kemudian, Carolina ditangani oleh petugas medis rumah sakit perbatasan itu.

“Saudari kami ini didiagnosa sakit hepatitis. Tapi setelah dirawat selama dua minggu, akhirnya berangsur pulih,” kata Primus.

Keluar dari rumah sakit, Carolina tidak langsung pulang, tetapi masih kontrol penyakitnya selama sepekan di dokter yang mengobatinya.

Usai dinyatakan sembuh, Carolina dan keluarganya bersama Primus lalu mencari Fridus.

Ucapan terima kasih terus mengalir deras dari mereka tanpa henti, saat berpapasan dengan Fridus.

“Untung Pak Fridus kasih izin untuk berobat. Kalau tidak, mungkin saudari kami ini sudah meninggal karena sakit berat,” ujar Primus mengenang kejadian itu.

Menurut Primus, mereka memutuskan berobat di Kabupaten Malaka karena pertimbangan jarak yang dekat dengan rumah saudarinya.

Karena kata dia, jika berobat di Suai, ibu kota Distrik Covalima, Timor Leste, selain jarak yang jauh, juga fasilitas kesehatan belum memadai.

Keluarga merasa gamang, jika sesuatu terjadi pada Carolina. Akhirnya keputusan keluarga berbuah manis, dengan sembuhnya Carolina dari penyakitnya hingga saat ini. Kejadian itu sempat diketahui pimpinan Fridus dan dia pun diberi apresiasi.

Bantu Biaya Persalinan Ibu Hamil

Kebaikan Fridus, tidak hanya dirasakan oleh warga dari Timor Leste saja, tetapi juga warga Kabupaten Malaka.

Dia membantu seorang ibu rumah tangga bernama Yasintha Hoar Bria (40), saat hendak melahirkan bayinya di rumah sakit setempat pada 2020 lalu.

Wanita asal Desa Kletek, Kecamatan Malaka Tengah, ditolak pihak rumah sakit karena tidak memiliki kartu BPJS Kesehatan.

“Waktu itu saya antar orangtua berobat ke rumah sakit. Tak lama kemudian, datanglah ibu ini (Yasintha). Dia diantar seorang ojek karena akan melahirkan, tetapi ditolak karena tidak ada kartu BPJS,” ujar Fridus.

Ibu itu baru dilayani, jika membayar uang Rp 300.000 di loket. Ibu itu lalu duduk di tangga rumah sakit sambil menangis,” sambung Fridus.

Karena merasa iba, Fridus pun mendekati Yasintha dan menanyakan masalah apa yang dialaminya.

Sambil terisak, Yasintha mengaku tidak memiliki uang. Apalagi statusnya janda yang baru saja ditinggal mati suaminya Almerio Dos Reis, membuat dia kesulitan finansial.

Fridus lantas mengambil uang di dalam dompetnya dan memberikan kepada Yasintha.

Setelah mendaftar di loket, petugas medis sempat memanggil Fridus dan menyampaikan kalau persalinan Yasintha akan dilakukan dengan metode operasi caesar. Kisaran biaya antara Rp 8 juta hingga Rp 12 juta.

“Petugas medis memanggil saya masuk ke ruang perawat dan ditanya, kalau operasi dengan anggaran besar hingga Rp 12 juta siapa yang tanggung. Saya bilang layani saja dulu, kalau memang operasi, pasti saya upayakan dan puji Tuhan ternyata bisa melahirkan normal,” kata Fridus.

Yasintha akhirnya melahirkan seorang bayi mungil berjenis kelamin perempuan dengan sehat dan selamat.

Informasi itu sempat menyebar ke keluarga Yasintha. Sehingga mereka berbondong-bondong mendatangi kediaman Fridus di Desa Harekakae, Kecamatan Malaka Tengah, untuk mengucapkan terima kasih.

“Kami ini orang susah, jadi hanya bisa balas dengan mengucap terima kasih langsung. Kami keluarga besar datang ke rumah Pak Fridus. Kami sudah anggap beliau sebagai keluarga kami,” ujar Yasintha Hoar Bria.

“Kami hanya berdoa, semoga bantuan pak Fridus ini dibalas oleh Tuhan,” kata Yasintha lagi.

Kerja sama lintas sektor dengan Pemda

Tak hanya itu, saat masih menjabat sebagai Kapospol Motamasin, Fridus pun selalu menjalin kerja sama yang baik dengan instansi pemerintah setempat.

Camat Kobalima Timur Wens Leki, menyebut, selama bertugas di PLBN Motamasin, Fridus dan anggotanya kerap terlibat dalam bakti sosial dengan masyarakat.

Bakti sosial yang dimaksud, di antaranya pengobatan gratis kepada masyarakat dan juga membersihan badan jalan dari pusat kecamatan menuju PLBN Motamasin.

Bahkan pada waktu Badai Seroja yang menerjang wilayah kami tahun 2021 lalu, Pak Fridus dan anggotanya bergerak cepat membantu masyarakat yang terdampak dengan mengevakuasi ke tempat yang aman dan memberikan bantuan beras serta makanan siap saji,” ujar Wens.

Fridus pun, kerap rajin berkoordinasi dengan pihak kecamatan maupun aparat dari empat desa yang berbatasan langsung dengan Timor Leste yakni Desa Alas, Alas Selatan, Alas Utara dan Kotabiru.

Wens berharap, kerja sama yang telah dibangun selama ini bisa ditingkatkan lagi.

Amankan Warga Timor Leste

Sejak bertugas sebagai Kapospol Motamasin 5 Februari 2016, Fridus terlibat bersama sejumlah instansi termasuk Kepolisian Timor Leste, Unidade Patrolhamento de Frointeiras (UPF), menggelar patroli secara rutin di batas kedua negara.

Patroli itu, digelar untuk mengecek patok batas negara. Termasuk juga, para pelintas batas negara yang kerap masuk melalui jalur ilegal.

Fridus mengaku, selama bertugas dia telah mengamankan sekitar 40 warga Timor Leste yang masuk ke Indonesia tanpa membawa dokumen resmi.

Setelah diamankan, puluhan warga Timor Leste ini kita serahkan ke pihak Imigrasi untuk dideportasi ke negara mereka,” ujar dia.

Sebelum menyerahkan ke pihak Imigrasi, Fridus selalu berpesan kepada pelintas batas ilegal, agar selalu mengurus dokumen berupa paspor jika ingin masuk ke Indonesia.

Selain pelintas batas, ada juga ternak milik warga Timor Leste yang kerap masuk Indonesia.

“Khusus untuk hewan seperti sapi yang masuk ke Indonesia, kita sepakat untuk hubungi petugas Timor Leste, agar dikembalikan ke pemiliknya,” kata Fridus.

Menurut Fridus, hubungan pihaknya dengan aparat dan warga Timor Leste di perbatasan tetap terjalin dengan baik sampai sekarang.

Sekolah Perwira Polri

Kebaikan Fridus yang ditanam untuk warga perbatasan dan Timor Leste, akhirnya diganjar dengan karir yang mulai menanjak.

Pada 3 Maret 2022 lalu, ayah lima orang anak itu dapat kesempatan Sekolah Pembentukan Perwira (Setukpa) Lembaga Pendidikan dan Pelatihan (Lemdiklat) Polri di Kota Sukabumi, Jawa Barat.

Dia memeroleh jatah sekolah pendidikan calon perwira melalui program Kapolri untuk anggota yang berprestasi.

“Saya dapat penghargaan dari Bapa Kapolri, karena sudah lama tugas di batas negara dan mampu sinergi dengan instansi di perbatasan. Kami melayani masyarakat tanpa ada masalah selama bertugas,” ungkap dia.

Kemudian, 3 Oktober 2022, dia dilantik di Sektupa Lemdiklat Polri oleh Kapolri dengan pangkat Ipda.

Kini, Fridus telah menyandang satu balok di pundaknya dan siap melaksanakan penugasan yang baru.

Bagi dia, polisi tidak hanya melindungi, mengayomi dan melayani masyarakat, tapi juga harus menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.*Kompas
]]>