Oelamasi,Suara Harapan –
Kepala Badan Nasional Penggulangan Bencana Republik Indonesia Doni Monardo terjun langsung melihat kondisi kerusakan akibat badai Seroja di Kabupaten Kupang, tepatnya di Taklale kecamatan Kupang Timur dan beberapa lokasi lainnya yang mengalami kerusakan.

Kehadiran Kepala BNPB bersama Wakil Gubernur NTT Yosep Nae Soi, Sabtu 10 april 2021 untuk melihat secara langsung kondisi kerusakan rumah warga, juga memantau situasi penampungan pengungsi Badai Seroja.

Kepada Bupati Kupang Korinus Masneno,Doni Monardo mengakui akan memberikan bantuan sesuai kategori kerusakan rumah warga secara berjenjang, mulai dari Rp50.000.000,- bagi KK yang rumahnya rusak berat.

Sedangkan untuk rumah warga yang rusak sedang dan ringan akan disesuikan sesuai kebutuhan perbaikan rumah warga.

Bupati Kupang Korinus Masneno kepada media menyatakan Kepala Badan bencana pusat dalam rangka melihat langsung kerusakan rumah warga,dan akan memberikan bantuan Rp50.000.000,- untuk rumah yang rusak berat. Sedangkan yang rusak sedang dan ringan diberikan bantuan secara berjenjang.

Masneno mengakui sudah menyerahkan langsung data kerusakan rumah warga kabupaten Kupang kepada kepala BNPB Doni Monardo sebanyak 6.000 rumah yang rusak. Adapun kategori rusak berat 3.000 rumah, rusak sedang ada 2.000 rumah dan rusak ringan ada 900 rumah.

“Data kita serahkan berdasarkan alamat dengan kartu keluarga sehingga bantuan yang diberikan tepat sasaran sesuai kerusakan rumah yang dialami warga” Ungkap Masneno.

Ia juga menyampaikan kepada Doni Monardo bahwa pengungsi yang ada di Kabupaten Kupang,awalnya ditampung di gereja dan sekolah namun sudah diarahkan untuk menginap tahan di rumah keluarga sambil kita berupaya memperbaiki rumah warga.

Kepala BNPB akan kembali datang melihat warga pengungsi sekaligus membawa bantuan bagi korban bencana badai Seroja di kabupaten Kupang.

Kedatangan Kepala BNPB kali ini disebut Masneno sekaligus menyerahkan bantuan uang sebesar Rp500.000.000,- untuk operasional BPBD di seluruh Kabupaten Kupang dalam menangangi pengungsi.*

Komentar