Urapan untuk Tuhanku

Mereka yang telah menerima pengampunan dari Allah, adalah mereka yang dimampukan untuk mengampuni sesamanya.  Seperti juga mereka yang mampu mengasihi adalah mereka yang telah menerima kasih dari Allah

 Anna Mariana Poedji Christanti – FSI Club Ministry

(Lukas 7:36-50)

Suara Harapan – “Ehm,…bagaimana caraku bisa masuk rumah besar itu?  Begitu ketat penjagaannya.  Duh, di sana juga banyak orang,” demikian kecamuk pikiran seorang perempuan yang mengendap-endap hendak memasuki rumah seorang Farisi bernama Simon.  Di sana, di rumah Simon diselenggarakan perjamuan makan yang mengundang banyak kawan sejawatnya beserta Yesus pula.  Entahlah apa yang menjadi motivasi Simon sebagai seorang Farisi untuk mengundang Yesus dalam perjamuannya.  Kehadiran Yesus di rumah Simon, mungkin akan menambah ketenarannya sebagai orang yang dapat bergaul dengan siapa saja.  Bagi Simon, Yesus dapat juga menjadi suguhan hiburan bagi keluarga dan koleganya yang tidak percaya kepada Yesus, sebagaimana dirinya yang tak mau mengakuiNya sebagai nabi (ayat 39), bahkan tidak menghormatiNya sama sekali (ayat 44-46).  Tetapi, bagaimanapun juga terlihat bahwa posisi Simon terhadap Yesus dalam hal ini adalah ‘netral’.  Seperti halnya Simon, mungkin banyak orang yang menyebut dirinya Kristen juga pada posisi ‘netral’, percaya adanya Tuhan, tetapi tidak mengabdi dan menghormatinya sebab tidak menyerahkan hidup kepadaNya.

Walau mengetahui segala motivasi di balik undangan Simon, namun toh Yesus tetap bersedia memenuhi undangannya.  Ini membuktikan sikap Yesus yang terbuka dan bersedia memberikan diriNya kepada siapapun juga tanpa kecuali, dalam rangka melayani mereka.  Demikianlah Yesus menunjukkan kasihNya yang universal dan tanpa batas.  Sekalipun banyak pihak yang menolak, mengejek, mencemooh, dan melakukan segala hal buruk lainnya, tetapi tak berhenti Yesus melakukan pendekatan demi mengarahkan mereka kepada kebenaran sejati.  Sudah seharusnya setiap orang percaya meneladani kasih Yesus yang demikian ini.

Sambil memegang buli-buli pualamnya yang berisi minyak wangi, perempuan itu berhati-hati memasuki halaman samping rumah Simon, di mana ada penjaga yang terlihat sedikit lengah.  Dari sana, si perempuan menuju ruang utama tempat perjamuan itu diadakan.  Dengan mengumpulkan seluruh keberaniannya dan mengabaikan apa kata orang, ia pun menerobos keramaian suasana di ruang utama tersebut menuju tempat Yesus duduk, dan bersimpuh di belakang kakiNya.  Kursi yang dipergunakan adalah sofa tanpa sandaran yang lebar.  Cara orang duduk di kala itu dengan siku kiri menumpu di meja dan tangan kanannya bebas bergerak untuk makan, sedangkan kaki yang bersangkutan berada di atas sofa dengan posisi ditekuk agak ke belakang.  Jadi perempuan ini tidak memandang wajah Yesus secara langsung, hal ini menunjukkan pekerjaan seorang pelayan yang memang bertugas membasuh kaki para tamu.  Kelegaan memenuhi hati perempuan itu karena ia berhasil berada sangat dekat dengan Tuhan Yesus.  Ia sangat merasakan pertolongan Allah yang memberinya keberanian dan menyertainya melewati segala rintangan hingga sampai di sini.  Ketika seseorang memiliki maksud hati dan fokus hidup yang benar, maka Allah pastilah tidak tinggal diam.  Sangat penting berfokus kepada apa yang benar menurut Tuhan, dan mengesampingkan anggapan orang lain.  Sebab sering kali lebih mudah mengindahkan apa kata orang melebihi apa yang Tuhan pandang atas hidup umatNya.

 

Si perempuan terus menangis membasahi kaki Yesus dengan air matanya.  Ia teringat betapa berdosanya dirinya di hadapan Tuhan.  Pekerjaannya sebagai perempuan sundal membuatnya merasa tak berharga.  Hidupnya menjadi hampa, hingga ia mendengar tentang Yesus yang adalah Mesias yang dijanjikan Tuhan sebagai Juru Selamat.  Sesungguhnya banyak orang mengharapkan Yesus menjadi pembebas Israel dari cengkeraman Romawi.  Walaupun demikian, perempuan ini tahu bahwa Yesus itu pastilah Tuhan yang berkuasa yang dapat menyelamatkannya dari belenggu dosa.  Kaki Yesus yang basah oleh air matanya, disekanya dengan rambutnya.  Bagi seorang wanita Israel, adalah hal yang memalukan memperlihatkan rambutnya di depan umum.  Sementara itu, perempuan tersebut bersedia berkorban dengan menanggung malu demi menyatakan kasih dan pengabdian kepada Tuhan Yesus.  Kemudian ia mencium kaki Yesus untuk menunjukkan kasih dan penghormatannya.  Selanjutnya dibukanya tutup buli-buli berisi minyak wangi, sehingga baunya semerbak memenuhi ruangan di mana semua orang berada, dan membuat seluruh perhatian tertuju kepadanya.  Ia menuangkan minyak wangi yang dibawanya tersebut pada kaki Yesus.  Penggunaan minyak wangi pada kaki memberikan arti kerendahan hati, sebab mengurus kaki adalah tugas yang diberikan kepada seorang budak.  Perempuan ini mengambil bagian tugas seorang budak untuk mengingatkan dirinya akan ketidaklayakannya atau rendahnya posisinya di hadapan Tuhan.  Selain itu pengurapan dengan minyak wangi merupakan pengakuan bahwa Yesus adalah Mesias yang dijanjikan Allah untuk keselamatan umat manusia melalui kematianNya di kayu salib.  Sekalipun terlihat samar, sejatinya perempuan tersebut memiliki arah iman yang benar.

Melihat perbuatan si perempuan, Simon sang tuan rumah merasa sedikit risih, dan berkata dalam hatinya, “Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamahNya ini, tentu Ia tahu, bahwa perempuan itu adalah perempuan berdosa.”  Tak sedikit orang yang tergoda untuk menghakimi tindakan orang lain seperti yang dilakukan Simon ini.  Penghakiman atas kehidupan orang lain bahkan bisa menjadi sangat keji.  Sadar ataupun tidak, seseorang dapat mengangkat dirinya menjadi hakim atas orang lain dengan melupakan kekurangan diri sendiri, dan menganggap dirinya paling benar.

Pikiran Simon tak dapat disembunyikan di hadapan Yesus sebagai Tuhan yang Maha Tahu.  Dia memberikan perumpamaan tentang dua orang yang berhutang kepada pelepas hutang, masing-masing berhutang lima ratus dinar dan lima puluh dinar.  Pelepas hutang tersebut membebaskan hutang keduanya, karena mereka tidak dapat melunasinya.  Yesus bertanya kepada Simon tentang siapa dari kedua orang yang dibebaskan hutangnya itu yang lebih mengasihi si pelepas hutang?  Simon menjawab bahwa yang berutang lebih banyaklah yang lebih mengasihi.  Dengan cara itulah, Yesus mengajari Simon dan semua yang hadir bahwa tak ada upaya manusia yang dapat menyelamatkannya dari hutang dosa, kecuali hanya oleh kasih dan anugerah Allah semata.  Bagi siapapun yang bersedia percaya kepada karya keselamatan yang dikerjakan Yesus dengan kematianNya di kayu saliblah yang mendapatkan jaminan hidup kekal.  Yesus memberitahukan kepada Simon bahwa perempuan tersebut sedang berbuat kasih kepadaNya.  Dengan cara yang sama sebagai perbandingan antara dua orang yang berutang kepada pelepas hutang dalam perumpamaan, Yesus membandingkan dirinya dengan perempuan itu untuk menunjukkan perbuatan kasih yang dimaksudkanNya.  Simon tidak membasuh kaki Yesus sesuai tradisi yang dijalankan sebagai bentuk penghormatan kepada tamu undangan yang datang, tetapi perempuan itu membasuh kakiNya dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya.  Simon tidak mencium Yesus, tetapi perempuan itu tak henti-hentinya mencium kakiNya.  Simon tidak meminyaki kepala Yesus dengan minyak zaitun, tetapi perempuan itu meminyaki kakiNya dengan minyak wangi.

Kata Yesus kepada perempuan itu: “Dosamu telah diampuni.  Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!”  Perkataan tersebut tentu mengherankan siapapun yang tak memahami siapa sesungguhnya Yesus.  Bagi orang Israel, hanya Allah yang dapat mengampuni dosa.  Jika manusia menempati peran Allah itu, berarti ia menyamakan dirinya dengan Allah.  Hal itu adalah dosa besar, dan murka Allah turun menimpa kepadanya.  Untuk yang kesekian kalinya, Yesus mengatakan yang demikian itu sepanjang pengetahuan orang Farisi dan mereka yang biasa mengamati kehidupanNya, namun sejauh itu hidup Yesus aman-aman saja.  Murka Allah tak pernah menyentuhNya.  Jadi pastilah Yesus bukan sekedar manusia biasa.  “Siapakah Dia?” demikian yang terus menjadi pertanyaan banyak orang.  Namun hal tersebut sangat jelas bagi mereka yang mau menerima dan mempercayakan hidup kepadaNya untuk diselamatkannya dari hukuman dosa melalui pengorbananNya di kayu salib.  Mereka yang telah menerima pengampunan dari Allah, adalah mereka yang dimampukan untuk mengampuni sesamanya.  Seperti juga mereka yang mampu mengasihi adalah mereka yang telah menerima kasih dari Allah.

===Kerja sama Suara Harapan dan FSI Club Ministry===

 

Komentar