Kupang, Majalahsuaraharapan.com
Terkait masalah jumlah stunting, dilansir dari https://kupang.antaranews.com/berita/23608/desa-noelbaki-penderita-stunting-tertinggi-di-kabupaten-kupang.

Kepala Desa (KaDes) Noelbaki  Melkisedek Kiubana, kepada tim jurnalis, Jumat, (4/10/19) melalui pesan suara/telepon seluler, dengan terang-terangan membantah pernyataan Kepala Puskesmas (KaPus) Tarus. drg. Imelda Sudarmadji terkait pernyataannya yang disampaikan, bahwa di Desa Noelbaki merupakan penderita angka stunting tertinggi di Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Jumlah bayi dan anak kategori pendek (kerdil) berjumlah 40 orang, dan kategori sangat pendek berjumlah 38 orang, sehingga totalnya mencapai 78 orang anak.

Menurut  Kiubana, data yang dipublikasikan lewat salah satu media daring itu adalah data yang tidak sah, itu hanya merupakan perkiraan saja, “data sementara yang pendek 40 yang pendek ini yang mana?, kalau menurut beta/(saya) yang sangat pendek itu 38 dan itu yang dikatakan stunting,”.

BACA JUGA:   UPP PD GMIT Klasis Kupang Tengah Gelar Workshop di Emaus

Lanjut Melki, “Sekarang kita belum tahu hasil laporan yang pasti, laporan itu dari bidan atau puskesmas yang mana?.  Wajar kalau beta punya stunting demikian, karena jumlah penduduk 10.236 Jiwa. Tahun ini pemerintah Desa Noelbaki mempunyai program untuk Ibu hamil, berupa makanan tambahan bagi ibu hamil.

Melki kembali menekankan, data yang desa peroleh, Ibu hamil hingga awal bulan Oktober mencapai 90 orang,  jujur adik, sampai saat ini beta/saya belum akui, data yang sudah tersebar dan viral pada dunia maya.  stunting tertinggi di Desa Noelbaki,  ke depan saya akan koordinasi dengan puskesmas dan tim kesehatan.

BACA JUGA:   PSK KUPANG TAKLUKAN PERSESBA

KaDes Noelbaki ini mempertanyakan, pendek, dengan sangat pendek mana yang betul, sedangkan terkait gizi buruk beda lagi. Stunting itu apabila tinggi badan anak tidak sesui dengan umur anak, kalau gizi buruk itu kurus dan tinggi. Sampai saat ini selaku pimpinan tertinggi di Desa Noelbaki sangat meragukan pernyataan yang kepala Puskesmas Tarus.

Ke depan kami akan mengambil langkah cepat, ungkap Dia, untuk mengatasi stunting dengan meminta bidan kesehatan untuk melakukan penyuluhan, karena ini sudah ada anggaran dari tahun lalu,  sedangkan tahun depan kami akan anggarkan program mengatasi stunting.

BACA JUGA:   Menteri Agama Meluncurkan Buku "Meyakini,Menghargai, dan Merayakan Keragaman"

Sementara untuk penanganan darurat, Melki akan bagikan makanan tambahan bagi penderita, tetapi sebelum melakukan pembagian, Senin, (7/10/19) akan panggil semua Kader Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) untuk bertanya, apakah para kader Posyandu ini mereka kerja apa saja.

Secara Terpisah di Pantai SULAMANDA, KaDes Mata Air Benyamin Kanuk,S.Pd.K. Mengatakan, Desanya cuman terdapat empat penderita stunting, dirinya sudah melihat langsung penderita. menurut Benyamin, sebenarnya dua tidak menderita stunting, karena tidak sesuai dengan kriteria stunting. Saya akan minta tanggung jawab dari Kepala Puskesmas Tarus terkait dua penderita, indikator apa yang dipakai sampai mengambil kesimpulan, dua anak itu masuk kategori stunting.*(Tim/AO/BL/CF/Red)

KOMENTAR ANDA