Keluarga adalah unit terkecil dari sebuah negara atau sebuah gereja, namun demikian keluarga adalah unit yang sangat penting karena ada beberapa alasan pendukung berikut ini
Keluarga adalah unit terkecil dari sebuah negara atau sebuah gereja, namun demikian keluarga adalah unit yang sangat penting karena ada beberapa alasan pendukung berikut ini.

Keluarga adalah unit terkecil dari sebuah negara atau sebuah gereja, namun demikian keluarga adalah unit yang sangat penting karena ada beberapa alasan pendukung berikut ini.

Yunus Ciptawilangga, M.B.A.

Keluarga Diciptakan Allah

Alasan Pertama: Keluarga adalah unit yang di-ciptakan oleh Allah sendiri. Sejak awal ketika Allah menciptakan manusia, Ia berencana untuk menjadikannya sebagai objek dari kasih-Nya. Oleh sebab itu bahkan setelah mereka jatuh ke dalam dosa, Allah tetap melanjutkan rencana-Nya untuk keluarga-keluarga dan sepanjang abad, Allah selalu rindu dan berencana agar orang tua membesarkan anak-anak mereka dengan mengajarkan mereka untuk mengenal dan mengasihi Dia dan  hidup di jalan-Nya agar mereka dapat memperoleh kasih-Nya.

Pesta Kawin di Kana

Yang kedua, Tuhan Yesus melakukan mukjizat yang pertama di pesta perkawinan, dan banyak penafsir yang mengatakan bahwa hal ini dilakukan karena memang keluarga adalah sesuatu yang penting. Fakta bahwa mukjizat pertama berlangsung dalam sebuah pernikahan merupakan suatu yang signifikan. Melalui kehadiran-Nya, Tuhan Yesus memberikan persetujuan-Nya pada sumpah pernikahan dan dengan mukjizat yang diperlihatkan-Nya menunjukkan dari mana berkat-berkat dalam sebuah pernikahan berasal mula.

Keluarga Kuat, Gereja Kuat, Negara Kuat

Yang ketiga, ada yang mengatakan bahwa kalau keluarga kuat, gereja juga kuat, bahkan kalau diperluas lagi, negaranya juga menjadi kuat.

Sebuah keluarga yang baik akan menjadi teladan yang kuat bagi seluruh masyarakat. Ayah, ibu, anak-anak semua harus berupaya sekuat tenaga untuk membangun sebuah keluarga yang kuat. Jika salah satu dari mereka gagal, maka seluruh keluarga runtuh dan ini yang sering terjadi saat ini. Namun, jika mereka berhasil, mereka akan menjadi teladan dan berdampak kuat pada masyarakat. Keluarga berdampak kuat pada masyarakat dan masyarakat berdampak kuat pada negara. Jadi negara yang baik bukan hanya dibangun oleh pemerintah, tapi juga oleh setiap anggota keluarga.

Benteng Pertahanan

Yang keempat, di zaman akhir ini, keluarga akan menjadi benteng pertahanan kita yang terakhir, baik yang menyangkut ajaran-ajaran yang tidak benar dan khususnya ketika dalam masa aniaya.

Ketika dalam masa aniaya, mungkin pendeta atau majelis yang kita kenal sudah pindah entah ke mana, dan kalau kita masih beruntung dimana kita masih bersama keluarga, maka hanya dengan merekalah kita dapat saling menghibur dan menguatkan. Oleh karena itu kita harus dengan serius menyediakan waktu dan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk membentuk suatu keluarga yang kuat suatu keluarga yang diberkati Tuhan.

Kuasa Kesepakatan Dua Orang

Kemudian yang kelima: ada hal yang sangat penting dicatat di Matius 18:19 “Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apa pun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga.” Jadi sebenarnya janji berkat terbesar itu ada di mana? Di keluarga, karena dikatakan “Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apa pun juga, maka

 

di bumi, maka adanya di keluarga. Karena sangat banyak kebahagiaan yang hanya terdapat di keluarga”. Kita bisa mencari dan mendapatkan kebahagiaan di banyak tempat, namun ada kebahagiaan yang lain ketika kita, misalnya bermain dengan anak kita atau hanya sekedar mendekap dan mencium anak kita, kebahagiaan yang tidak bisa kita temukan di tempat lain.

Tapi beliau juga meneruskan, “Kalaulah ada neraka di bumi, maka adanya juga di keluarga, karena sebagian besar luka fisik atau batin terjadi di keluarga, bukan terjadinya di luar.”

Jadi, kita bisa melihat bahwa keluarga merupakan sesuatu yang sangat penting karena bisa menjadi ibarat sorga di bumi namun bisa juga menjadi neraka di bumi. Jika menjadi sorga di bumi, maka kita akan menikmati kebahagiaan selama hidup kita di dunia, namun jika menjadi neraka di bumi maka kita akan menderita dan

mengalami banyak derai air mata di sepanjang hidup kita.

Karena begitu penting dan bernilainya keluarga, maka tidak heran, Iblis selalu berusaha untuk merusak keluarga.

Upaya Si Iblis untuk Merusak Keluarga

Sejak dahulu budaya seks bebas, poligami telah marak dan hal ini menyebabkan keluarga sulit sepakat sehingga mereka tidak bisa mendapatkan berkat yang Tuhan janjikan.

Demikian juga ramalan-ramalan yang memojokkan bahwa tidak ada keselarasan antar anggota keluarga, misalnya: anak yang satu tidak cocok dengan sang ibu, kemudian sang ayah dianggap tidak cocok dengan salah satu anggota keluarga yang lain, pada tahun atau bulan-bulan tertentu sang suami tidak cocok dengan sang istri, dimana ketidakselarasan tersebut merupakan tipu

daya Iblis agar keluarga tersebut tidak harmonis sehingga mereka tidak bisa menikmati sorga di bumi bahkan mereka terus menerus menderita dan serasa di neraka.

Bahkan ada ajaran ekstrim yang mengajarkan bahwa agar ibadah atau sesaji mereka lebih bisa diterima, maka sebelum melakukan ibadah maka penganutnya harus melakukan hubungan sebadan dahulu dengan pelacur.

Karena kehidupan keluarga sangat penting dan memberi dampak positif kepada banyak bidang maka kita perlu mempelajari bagaimana agar keluarga kita diberkati Tuhan dan seluruh anggota keluarga dapat menikmati sorga di bumi.

Takut akan Tuhan:

Rahasia Keluarga yang Diberkati

Keluarga yang diberkati Tuhan dibahas dalam Mazmur 128:1-4:

128 : 1 Nyanyian ziarah. Berbahagialah setiap orang yang takut akan TUHAN, yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya!

2 Apabila engkau memakan hasil jerih payah tanganmu, berbahagialah engkau dan baiklah keadaanmu!

3 Isterimu akan menjadi seperti pohon anggur yang subur di dalam rumahmu; anak-anakmu seperti tunas pohon zaitun sekeliling mejamu!

4 Sesungguhnya demikianlah akan diberkati orang laki-laki yang takut akan TUHAN.

Jika kita pelajari, maka Mazmur 128:1-4 di atas terdiri dari dua bagian, yang pertama adalah Mazmur 128:1-2. Ayat-ayat ini menjelas-kan bahwa siapa pun entah itu laki-laki atau perempuan yang takut akan Tuhan, maka ia akan diberi berkat. Ia akan bisa memakan hasil jerih payah tangannya. “Berbahagialah engkau dan baiklah keadaanmu” artinya kita akan berbahagia dan

“baiklah keadaanmu” merujuk pada kondisi yang baik, kondisi yang sehat.

Sedangkan ayat 3 dan 4 khusus ditambahkan bagi laki-laki yang takut akan Tuhan.

Laki-laki yang takut akan Tuhan, selain mendapatkan berkat-berkat di atas, ia juga akan diberkati dengan sebuah keluarga yang diberkati Tuhan.

Jadi syarat untuk dapat memiliki keluarga yang diberkati adalah suami atau bapak menjadi orang yang takut akan Tuhan.

Apa yang dimaksud dengan takut akan Tuhan atau seperti apakah orang yang takut akan Tuhan itu ? Kalau kita misalnya menganalogikan takut akan Tuhan itu sama dengan takut akan polisi, bagaimanakah syaratnya agar kita bisa takut akan polisi?

Kita bisa takut akan polisi, jika :

Pertama : kita kenal polisi itu seperti apa, baru kita bisa takut polisi, karena bukan semua yang berseragam adalah polisi. Tentara juga berseragam, kemudian ada juga organisasi mas-yarakat yang berseragam, satpam pun ada yang berseragam.

Kedua : kita dikatakan orang yang takut akan polisi bukan hanya pada orangnya tapi juga terhadap segala tanda-tanda dan peraturan yang dibuat oleh polisi. Kalau ada police line, misalnya, maka kita tidak akan melewati garis tersebut ada atau tidak ada polisi. Oleh karena itu kita perlu mempelajari dan mengerti segala peraturan yang berkaitan dengan kepolisian.

Ketiga : taat . Kita tidak mungkin taat kepada polisi kalau kita tidak tahu seperti apa polisi itu dan kita juga tidak mungkin taat kalau kita tidak mengerti hukum-hukum kepolisian.

Demikian juga kita hanya bisa takut akan Tuhan, kalau kita mengenal Tuhan, mengenal hukum-hukum Tuhan, dan taat. Jadi syarat agar kita bisa memiliki keluarga yang diberkati Tuhan adalah sang suami harus bersungguh-sungguh untuk belajar mengenal Tuhan dan segala hukum-hukum-Nya. Dan hal itu bisa dilakukan antara lain dengan membaca Alkitab, karena Tuhan dan segala hukum-hukum-Nya tertulis dengan jelas di Alkitab. Kita mungkin hanya berkesempatan mendengarkan khotbah di gereja satu atau dua kali per minggu, oleh karena itu suami sebagai kepala keluarga perlu mening-katkan pemahamannya tentang Allah beserta hukum-hukum-Nya dengan cara membaca Alkitab secara rutin dan kemudian mengajarkannya kepada seluruh anggota keluarga serta taat melakukan Firman baik di dalam keluarga maupun di kehidupan sehari-hari.

Istri seperti Pohon Anggur

Seperti apakah keluarga yang diberkati Tuhan yang dijanjikan Tuhan bagi laki-laki yang takut akan Tuhan? Dikatakan bahwa “Isterimu akan menjadi seperti pohon anggur yang subur di dalam rumahmu”.

Ayat di atas mengatakan bahwa istri kita akan menghasilkan buah anggur yang subur di rumah kita. Ada makna simbolis tersirat dalam frase ini. Coba kita membayangkan apa yang terjadi ketika musim panen anggur tiba. Musim panen anggur merupakan saat orang-orang bersukaria, bersorak-sorak penuh kegirangan.

Yer 48:33 Sukaria dan sorak-sorak telah lenyap dari kebun buah-buahan dan dari negeri Moab. Aku telah menjauhkan anggur dari tempat pemerasan; pengirik tidak ada lagi pengiriknya, pekik kegirangan tidak kedengaran lagi.

Selain itu anggur pun menggambarkan kegem-biraan yang hangat karena kehadiran anggur itu

sendiri baik berupa buah yang dimakan maupun minuman akan memeriahkan suasana pesta.

Anggur juga dapat menjadi obat “,Luk 10:34 Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya.” . Bahkan darah Tuhan Yesus sendiri dilambangkan dengan anggur, dan darah Tuhan Yesus adalah bukti nyata kasih Allah yang agung, “Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka dan berkata: “Minumlah, kamu semua, dari cawan ini. Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa.” (Mat 26:27-28)

Jadi Tuhan menjanjikan seorang laki-laki yang takut akan Tuhan seorang istri yang bisa membawa kegembiraan, menciptakan suasana yang gembira, yang bisa mengobati luka tubuh maupun

batin, bisa menghibur, bahkan memancarkan kasih Allah.

Bukan hanya itu, Tuhan menjanjikan istri dari suami yang takut akan Tuhan menjadi istri yang menjadi sumber kegembiraan, sumber penghiburan di dalam rumahnya, bukan di luar rumah, “Isterimu akan menjadi seperti pohon anggur yang subur di dalam rumahmu”.

Saat ini banyak fenomena di mana banyak istri yang begitu aktif melayani di luar rumah, tetapi tidak demikian di dalam rumahnya. Ia menjadi pohon anggur di luar rumah, bukan di dalam rumahnya. Banyak anak aktifis maupun hamba Tuhan yang mengeluh, “Yah, Mamah itu luar biasa di luar, Mamah sangat perhatian, sangat telaten, sangat baik di luar, tapi tidak begitu kalau di rumah sendiri”. Namun yang dijanjikan Tuhan bukan seperti ini, istri kita akan menjadi pokok anggur yang subur di rumah kita.

Seorang istri bukan tidak boleh melayani di luar rumah, kita memang harus melayani, namun apakah pelayanan kita yang paling utama? Ini bisa dibaca di buku Pelayanan yang Paling Utama. Kita harus mengajarkan firman Allah secara berulang-ulang pada anak-anak kita agar anak-anak kita mengerti dan dengan sepenuh hati menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat mereka. Kita juga harus terus menerus mendidik anak-anak kita agar mereka menjadi anak-anak Tuhan yang benar dan setia. Kepastian akan hal itu harus diperiksa dengan benar –cek dan recek- supaya jangan sampai anak kita menjadi murtad dengan berpindah pada keyakinan lain.

Ulangan 6:4-9 harus menjadi pegangan kita:

6: 4 Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!

5 Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.

6 Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan,

7 haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.

8 Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu,

9 dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.

Untuk lebih jelasnya silakan baca buku “Umat yang Layak Bagi Tuhan

Komunikasi di Meja Makan

Kemudian dikatakan “anak-anakmu seperti tunas pohon zaitun di sekeliling mejamu”; jadi Tuhan menjanjikan

anak-anak kita akan menjadi anak-anak Tuhan. Pohon zaitun adalah lambang anak Tuhan seperti tertulis di Rm 11:24 “Sebab jika kamu telah dipotong sebagai cabang dari pohon zaitun liar, dan bertentangan dengan keadaanmu itu kamu telah dicangkokkan pada pohon zaitun sejati, terlebih lagi mereka ini, yang menurut asal mereka akan dicangkokkan pada pohon zaitun mereka sendiri”.

Pohon zaitun daunnya hijau, rindang, teduh, buahnya sangat banyak manfaatnya dan bisa dibuat menjadi minyak zaitun dan minyak zaitun bisa dibuat menjadi minyak urapan. Tuhan menjanjikan anak-anak kita selain menjadi anak Tuhan, anak yang baik, berbakti, mereka juga akan menjadi anak-anak yang memuliakan nama Tuhan.

Kemudian ditambahkan, “Anak-anakmu seperti tunas pohon zaitun sekeliling mejamu!”. Yang menjadi pertanyaan di antara kita ialah: masih adakah

aktifitas bersama seluruh anggota keluarga di rumah kita ? Ada yang setiap pagi mengadakan ibadah singkat dengan membaca Firman dan berdoa sebelum sarapan. Ada juga yang melakukannya pada malam hari dengan makan bersama sambil berdiskusi.

Ibadah keluarga yang selalu kami lakukan setiap malam adalah kegiatan bersama yang paling utama dalam keluarga kami. Kami selalu berusaha agar ibadah keluarga dapat dilakukan oleh seluruh anggota keluarga dengan lengkap.

Selain itu penulis sangat memprioritaskan makan bersama dengan keluarga. Oleh karena itu sejak dahulu makan malam bersama seluruh anggota keluarga merupakan prioritas sehingga penulis sangat jarang melakukan pertemuan di sore atau malam karena penulis ingin sudah ada di rumah paling lambat jam 6 sore sehingga bisa makan malam bersama seluruh anggota keluarga.

Makan bersama keluarga sangat penting, karena merupakan salah satu kesempatan kita dapat bercengkerama bersama anak istri dan bisa menjadi kesempatan yang sangat baik untuk mendidik anak-anak kita.

Mengenal Allah Bapa  dari Kehidupan Seorang Ayah

Beberapa tahun yang lalu, waktu itu anak penulis yang kedua masih kuliah di Amerika, dan ketika pulang, ia berkata bahwa ia membaca sebuah buku yang menarik, judulnya: Experiencing Father’s Embrace. Sejujurnya penulis sendiri belum membaca buku tersebut. Secara ringkas buku ini menjelaskan pada kita bagaimana kita secara pribadi dapat merasakan pelukan Allah Bapa yang penuh kasih dan penuh penghiburan dan menunjukkan bidang-bidang yang

mungkin menghalangi kita untuk mengalami suatu hubungan yang lebih intim dengan Pencipta kita.

Jack Frost, sang pengarang buku adalah seorang pemimpin pelayanan dan seorang pendidik dimana melalui buku ini beliau mengungkapkan kasih yang sudah disediakan Allah bagi setiap anak-Nya. Kasih-Nya tidak terbatas oleh usia, ras, gender, politik, atau denominasi – pelukan-Nya ialah bagi semua pihak. Pengarang menawarkan banyak cara untuk membawa anak-anak Tuhan baik yang baru percaya maupun yang telah lama untuk bisa lebih dekat pada-Nya. Kebenaran yang dibagikan dalam buku ini akan memberikan suatu perubahan positif dalam hidup kita, dalam kehidupan orang-orang yang kita kasihi dan terutama dalam hubungan kita dengan Allah Sang Bapa –yang merindukan persekutuan kita bersama-Nya.

Gambaran yang Tidak Selaras

Namun anak penulis mengatakan buku ini juga menjelaskan bahwa saat ini banyak orang, terutama anak-anak, yang tidak memahami seperti apakah kasih Allah itu? Mengapa banyak anak-anak yang tidak bisa memahami kasih Allah? Karena Alkitab menyatakan bahwa Allah sering menggambarkan diri-Nya serupa dengan seorang ayah dalam kehidupan nyata. Sayangnya, kenyataan dengan konsep sering tidak selaras. Ketika melihat ayah mereka di rumah yang sering memukuli ibunya atau dirinya, sering berkata-kata kasar, berbohong, egois, mereka bingung, apakah benar kasih Allah itu seperti perilaku ayahnya? Kebingungan anak-anak tersebut bukan hanya terjadi di kalangan non Kristen, tetapi juga di kalangan Kristen.

Ada kasus di mana seorang anak menyaksikan bagaimana ayahnya lebih memperhatikan anak jemaat daripada dirinya, lebih memperhatikan

keluarga jemaat daripada keluarganya sendiri, lebih menyediakan waktu bagi jemaat daripada untuk dirinya, sehingga ia sendiri menjadi bingung, seperti inikah kasih Allah itu?

Tidak heran jika sampai ada seorang anak hamba Tuhan yang meminta kepada ayahnya agar ia memperlakukan dirinya sebagai jemaat jangan sebagai anak, karena ia merasa ayahnya lebih memperhatikan jemaat dibandingkan dengan dirinya!

Penutup

Sebagian dari kita mungkin merasa bahwa kita telah memiliki keluarga yang diberkati Tuhan atau setidaknya kita telah memiliki keluarga yang baik karena semua anggota keluarga kita dalam keadaan yang baik, tidak ada yang terlibat narkoba, mabuk-mabukan atau perilaku buruk lainnya. Beberapa dari kita juga

mungkin menganggap bahwa kita telah memiliki keluarga bak sorga di bumi karena hidup dalam taraf ekonomi yang baik dan sering berwisata.

Namun untuk memastikannya, mari kita lakukan 3 test sederhana.

Coba kita analisis diri kita sendiri, baik kita sebagai ayah, sebagai ibu, atau sebagai anak. Sebagai ayah, coba kita pikirkan dalam 2 minggu terakhir, istri siapa yang kita peluk ? Apakah kita memeluk istri kita atau kita memeluk istri orang lain, entah itu istri jemaat, atau seorang wanita yang sedang kemalangan, atau kita tidak memeluk istri yang mana pun. Kemudian anak siapakah yang terakhir kita peluk, apakah anak kita, anak teman kita, anak jemaat, anak bos kita, anak karyawan kita atau anak yatim piatu? Demikian juga istri, suami siapa yang terakhir kita peluk, apakah suami kita atau suami orang lain? Demikian juga

sebagai anak, ayah atau ibu siapakah yang terakhir kita peluk ?

Lalu, coba kita pikirkan dalam 2 minggu belakangan ini, kepada siapakah kata-kata terlembut kita, kita sampaikan? Apakah kepada anak istri kita, kepada suami kita ataukah kepada teman, jemaat, pelanggan, atau mungkin bos kita ? Demikian juga pada masa yang sama, kepada siapakah kita berikan senyum termanis kita? Apakah kepada istri kita, suami kita, anak kita, bos kita, atau pelanggan kita?

Jika kita tidak memberikan segala yang terbaik yang kita miliki kepada keluarga kita, maka pastilah kita belum memiliki keluarga yang diberkati seperti yang Tuhan janjikan, karena kita belum menjadi pokok anggur di dalam rumah kita.

Oleh karena itu mari para suami kita belajar untuk menjadi orang-orang yang takut akan Tuhan. Sediakan waktu setiap hari untuk membaca Alkitab. Kita renungkan setiap Firman yang kita baca atau dengar dan lakukan dalam kehidupan kita. Kemudian jadilah imam keluarga, lakukan ibadah keluarga setiap hari dan nantikan bagaimana Tuhan memberkati keluarga kita.

KELUARGA KRISTEN YANG DIBERKATI

Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here