Selama 7 minggu kita meresapi makna sengsara dan kematian Kristus bagi dunia. Puasa di masa raya sengsara Kristus membantu kita menghayati spiritualitas Kristus yang memikul sengsara dunia. Betapa pun hebat penderitaan dan pergumulan dunia, Yesus ada di sana untuk menderita bersama-sama. Penderitaan Kristus berujung pada kemenangan dalam peristiwa Paskah. Ia menang atas maut. Dengan demikian ada pengharapan tentang janji penyertaan Tuhan bahwa Tuhan selalu bersama dengan umat-Nya. Dalam kuasa dan kasihNya, Jumat Agung di Golgota yang gersang menjadi taman kebangkitan Minggu Paskah dengan kuntum bunga kehidupan baru. Di dalam terang harapan ini umat Kristiani merenungkan misteri kasih Allah di masa pandemi yang berat dan panjang, bahwa Tuhan rela menanggung beban salib umat manusia, kini dan di sini. Selama 7 minggu perayaan sengsara Kristus, pada setiap hari Jumat, jemaat GMIT di mana pun melakukan puasa bersama.

Kupang, Suara Harapan – Berdasarkan surat  085/GMIT/I/F/Feb/2021 perihal Panduan Puasa GMIT dari Majelis Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (MS GMIT). Untuk itu MS GMIT menyilakan kepada semua anggota GMIT pada masa raya minggu sengsara Kristus agar berpuasa bagi pergumulan dunia. Adapun pelaksanaan puasa berlangsung setiap hari Jumat di Minggu Sengsara (7 hari Jumat).

Dasar teologis tradisi puasa yang dipakai oleh GMIT bersumber dari Alkitab. Tercatat dalam kebenaran Firman tentang puasa sebagai tindakan perseorangan, seperti yang dilakukan Musa (Kel. 34:28), Daud (2 Sam. 12:16), Elia (1 Raj. 19:8), Ester (Est. 4:16), Ayub (Ayb. 2:13), Daniel (Dan 1:12), doa dan puasa (Dan 9:3), Yunus (Yunus 1:17), Tuhan Yesus (Mat. 4:2; Luk.4:2), Yohanes pembabtis (Mat. 11:18), Paulus (Kis 9:9). Selain itu Alkitab juga mengisahkan puasa sebagai tindakan umat yang mempercayakan hidup kepada Allah. Ester, Mordekhai, dan seluruh orang Yahudi di pembuangan berpuasa untuk menaruh nasib mereka ke dalam tangan TUHAN (Ester 4:3, 16). Jemaat mula-mula berdoa dan berpuasa menyerahkan Barnabas dan Saulus untuk tugas pemberitaan Injil (Kis. 13:2-3). Demikian pula para rasul yang menyerahkan para penatua di setiap kota ke dalam tangan Tuhan melalui puasa bersama (Kis. 14:23).

Pengajaran Tuhan Yesus tentang hal berpuasa dapat dilihat pada kesaksian Matius 6:16-18 bahwa puasa tidak dilakukan agar dilihat oleh orang lain, melainkan sebagai upaya mendekatkan diri dengan Allah dan mendapatkan belas kasih Allah.

Kita belajar dari Alkitab agar di masa krisis ini semua anggota GMIT dapat berpuasa di hadapan Tuhan. Kita berpuasa untuk memohon pertolongan Tuhan bagi dunia yang sedang digerogoti pandemi Covid-19. Puasa bukan sekedar menahan rasa lapar dan haus, tetapi sebagai seruan iman dan tanda solidaritas sosial.

Marilah berpuasa selama masa raya minggu sengsara Kristus. Selama 7 minggu kita meresapi makna sengsara dan kematian Kristus bagi dunia. Puasa di masa raya sengsara Kristus membantu kita menghayati spiritualitas Kristus yang memikul sengsara dunia. Betapa pun hebat penderitaan dan pergumulan dunia, Yesus ada di sana untuk menderita bersama-sama. Penderitaan Kristus berujung pada kemenangan dalam peristiwa Paskah. Ia menang atas maut. Dengan demikian ada pengharapan tentang janji penyertaan Tuhan bahwa Tuhan selalu bersama dengan umat-Nya. Dalam kuasa dan kasihNya, Jumat Agung di Golgota yang gersang menjadi taman kebangkitan Minggu Paskah dengan kuntum bunga kehidupan baru. Di dalam terang harapan ini umat Kristiani merenungkan misteri kasih Allah di masa pandemi yang berat dan panjang, bahwa Tuhan rela menanggung beban salib umat manusia, kini dan di sini. Selama 7 minggu perayaan sengsara Kristus, pada setiap hari Jumat, jemaat GMIT di mana pun melakukan puasa bersama.

Kami dari MS GMIT mengajak semua anggota jemaat dari rumah masing-masing, untuk menggunakan waktu setiap hari Jumat pada tanggal 19 Februari, 26 Februari, 5 Maret, 12 Maret, 19 Maret, 26 Maret, 2 April 2021, untuk berpuasa dan berdoa sungguh-sungguh bagi pergumulan saat ini.

Teknik Pelaksanaan setiap hari Jumat

  1. Puasa dilakukan sehari penuh mulai jam 7 pagi sampai dengan jam 6 sore (18.00). Sebelum berpuasa seluruh anggota keluarga yang hendak berpuasa harus makan pagi.
  2. Pelaksanaan puasa dimulai dengan membunyikan lonceng di gereja pada jam 7 pagi dan doa di tiap rumah tangga.
  3. Puasa berarti tidak makan dan tidak minum sama sekali.
  4. Bagi kaum lanjut usia, anak-anak, dan mereka yang sakit keras disarankan untuk berpuasa setengah hari atau tidak berpuasa sama sekali. Dalam masa pandemi ini, daya tahan tubuh harus tetap dijaga.
  5. Bagi yang mengalami gangguan kesehatan ringan/sedang bisa minum air putih.
  6. Di hari puasa ini kita tidak sekedar menahan lapar dan haus, tetapi juga menjadikannya sebagai hari berdoa kita. Setiap keluarga perlu mempersiapkan tempat khusus untuk menjadi tempat doa/mesbah keluarga. Keluarga bisa duduk mengitari meja atau bertelut untuk berdoa bersama. Di atas meja dapat diletakkan Alkitab, lilin yang dinyalakan, dan salib, tanda kehadiran Firman Allah, cahaya kasihNya, dan penghayatan pada pengorbanan Yesus.
  7. Pada jam 7 malam ada bunyi lonceng untuk semua masuk dalam ibadah.
  8. Selama hari berpuasa, kita dapat mengatur agar dapat berdoa 10-15 menit setiap 2 jam sesuai dengan pokok pergumulan yang disediakan setiap hari.

9. Pada masa puasa selama 7 hari ini, kita akan sungguh-sungguh menggumuli pergumulan yang diatur setiap hari serta ditutup dengan ibadah keluarga. Dalam ibadah itu ada kesempatan untuk membuat komitmen bersama sebagai keluarga untuk menindaklanjuti puasa dan doa dengan tindakan berbagi.* Sumber Majelis Sinode

Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here