INSPIRASIKESAKSIANOPINI

Melawan Tradisi “bawa lari perempuan” di Sumba

, Melawan Tradisi “bawa lari perempuan” di Sumba, Majalah Suara Harapan, Majalah Suara Harapan

Melarikan perempuan atau “bawa lari
perempuan” untuk dijadikan istri cukup dikenal dalam tradisi di Sumba. 
Ini adalah jalan pintas untuk memperistri seorang perempuan idaman dengan cara
menculiknya. Seorang perempuan lajang dengan beberapa rekannya pergi ke pasar
atau menonton keramaian di kampungnya. Tiba-tiba segerombolan laki-laki yang
tak dikenal menangkap dan membekapnya, melarikan dia dengan kuda atau kendaraan
bermotor yang sudah disiapkan. Zaman dulu prosesi ini disertai sepasukan
pengawal berkuda dengan senjata parang dan tombak, siap berperang. Siapa yang diperangi?
Pihak yang ingin merebut kembali si perempuan dari tangan mereka.


Perempuan lajang tadi dibawa ke rumah keluarga
laki-laki untuk dijadikan istri. Meskipun korban menjerit dan meronta-ronta
minta tolong, biasanya tidak ada warga yang memberi bantuan. Sebab, pemandangan
tersebut dianggap sebuah kebiasaan. Lazim terjadi sehingga tidak tampak aneh.
Orang hanya berkata, “Ada yang bawa lari perempuan.” Kelanjutannya adalah
urusan adat. Keluarga lelaki akan mengutus juru bicara (wunang)  menemui keluarga perempuan, memberitahu
anak perempuan mereka telah “dibawa lari” dan berada di rumah keluarga
laki-laki. Urusan adat digelar sebagai jalan keluar.


Yappa Maradda
Sampai sekarang kebiasaan “bawa lari perempuan”
ini masih sering dilakukan di beberapa wilayah di Sumba. Ambil contoh di
kalangan masyarakat Anakalang di Kabupaten Sumba Tengah, yang disebut dengan
istilah yappa maradda
Cerita di atas digolongkan sebagai yappa maradda. Ada pula palai ngiddi mawini,
namun substansinya berbeda. Dapat dikategorikan sebagai “kawin lari” antara
sepasang kekasih karena cinta terlarang. Orang tua salah satu pihak, biasanya
pihak perempuan, tidak menyetujui hubungan mereka. Jalan pintas diambil. Sang
kekasih dibawa ke rumah keluarga laki-laki atas kesepakatan berdua. Biasanya
keluarga laki-laki akan mengirim wunang, memberitahukan keberadaan anak perempuan
mereka. Urusan adat akan ditempuh.

Tradisi yappa maradda dan palai ngiddi mawini masih menjadi persoalan
sosial yang menonjol di Sumba Tengah, meskipun banyak pihak telah menentangnya. Yappa Maraddaditentang
karena mengandung kekerasan terhadap perempuan, sementara palai ngiddi mawini mensyaratkan
kematangan sosial dan ekonomi kedua sejoli membangun rumah tangga. Kerap
terjadi pasangan lebih dipengaruhi oleh emosi dan rasa kasmaran.

Salah satu tokoh penentang yappa maradda adalah
Salomi Rambu Iru (64), atau biasa disapa Mama Salomi. Menurut dia, yappa maradda adalah
penculikan. Tergolong kriminal karena tindakan menghilangkan kebebasan
seseorang dengan paksaan adalah tindak pidana. Karena itu, para pelaku yappa marada bisa
dikenai pasal di dalam KUHP. “Selain tidak etis, yappa maradda juga melanggar Pasal 335 ayat 1
KUHP tentang Perbuatan Tidak Menyenangkan, UU No. 7 tahun 1984 tentang
Pengesahan Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan,
Keppres No. 36 Tahun 1990 tentang Konvensi Hak Anak serta UU No. 39 tahun 1999
tentang Hak Asasi Manusia.  Dalam beberapa kasus, ada anak di bawah umur
yang menjadi korban,” jelas Mama Salomi.

Kegelisahan Mama Salomi terjadi sejak ia masih
duduk di bangku Sekolah Pendidikan Guru (SPG) pada tahun 1975. Sahabatnya
menjadi korban yappa maradda. Hati kecilnya memberontak terhadap situasi
tersebut. Tapi, apa daya? Adat-istiadat yang mengagungkan dominasi laki-laki
masih sangat kental di Sumba. Bahkan sampai saat ini.  “Saya sedih, juga
marah. Tapi, mau bagaimana lagi. Dulu orang anggap itu hal biasa. Jadi
dibiarkan saja,” cetus Mama Salomi yang tinggal di Waihibur, Sumba Tengah ini.

Kegelisahan ini terus menghantuinya setiap kali
ada perempuan dan anak perempuan yang menjadi korban yappa maradda. Kelompok perempuan gereja maupun
kelompok tani yang ia ikuti belum menemukan solusi. Bahkan menurut Mama Salomi,
sebagian kaum perempuan sendiri merasa hal itu bukan masalah. Yappa maradda
tidak dianggap sebagai tindakan kekerasan terhadap perempuan.

Mama Salomi sendiri adalah “korban” tradisi.
Meskipun bukan korban yappa. Dirinya menikah dengan anak tantenya atas
dasar keinginan orang tuanya. Dia dibelis sejak bayi. Lulus dari SPG, Mama
Salomi bekerja di kantor Pemda Sumba Barat. Namun pada tahun 1976, karena harus
menikah dengan anak tantenya, Mama Salomi meninggalkan pekerjaannya. Padahal,
ia sudah diangkat sebagai pegawai pemda. “Dulu ada anggapan bahwa perempuan
tidak bisa jadi “tuan”, dia hanya di dapur saja. Akhirnya saya pulang ke
kampung untuk urus rumah tangga,” ungkapnya pelan. Mama Salomi mengabdikan diri
sebagai guru Sekolah Minggu juga pengurus PKK di kampungnya.

Pokja Perempuan
Tahun 1992, Yayasan Wahana Komunikasi Wanita
(YWKW) terbentuk di Waihibur. Mama Salomi diundang untuk membangun diskusi
tentang isu perempuan. Dalam yayasan ini ada kelompok kerja (pokja) yang khusus
mengidentifikasi isu kekerasan terhadap perempuan dan mencari solusinya.
Semangat Mama Salomi kembali bergelora. “Saya senang sekali ada wadah di mana
kita bisa bicarakan hal-hal yang dianggap biasa oleh masyarakat, tapi
sebenarnya bukan hal biasa karena menyangkut kekerasan terhadap perempuan,”
ujar Mama Salomi.
Perempuan kelahiran 6 Maret 1955 ini mulai
menyampaikan isu-isu tentang tradisi yang masih melanggengkan kekerasan
terhadap perempuan, namun dianggap hal biasa di masyarakat. Hanya saja,
menurutnya, belum ada tanggapan serius. Mama Salomi tidak tinggal diam. Dia
terus membawa isu itu dalam perbincangan sehari-hari dengan rekan perempuan,
tokoh gereja atau siapa saja yang dia rasa bisa diajak berdiskusi.
Lama-kelamaan satu-dua orang mulai mendengar dan mendukungnya. Kepada mereka
ini Mama Salomi terus membangun diskusi dan memberi penguatan. Tak peduli ia
dicap aneh karena melawan arus.

Tahun 1998, Pokja Perempuan  Yayasan WKW
dikukuhkan menjadi  Forum Perempuan Sumba (Foremba) yang mempunyai
kekuatan hukum. Mama Salomi dipilih menjadi direktur. Geraknya mulai lebih
leluasa karena ada lembaga yang menaunginya secara resmi. Ia giat membangun
jejaring. Tidak hanya di Waihibur, tetapi sedaratan Pulau Sumba. Sosialisasi
tentang penghentian kekerasan terhadap perempuan dan anak semakin gencar
dilakukan.

Foremba menarik perhatian masyarakat. Kesadaran
warga mulai terbuka. Sebagai komunitas yang secara khusus berkecimpung dengan
isu perempuan, informasi mulai mengalir ke Foremba. Terutama warga melaporkan
tentang KDRT dan yappa maradda. Meskipun akhirnya diselesaikan secara
kekeluargaan, kehadiran Foremba sudah memberikan dampak positif.  “Orang
mulai mempersoalkan yappa maradda. Juga kekerasan dalam rumah. Meskipun
diselesaikan secara kekeluargaan, tetapi ini sudah langkah maju buat Foremba,”
kata Mama Salomi.

Laporan tidak hanya datang dari sekitar desanya
di Sumba Tengah, namun juga dari Kodi (di Kabupaten Sumba Barat Daya), Lamboya
(Sumba Barat) dan Sumba Timur. “Kami pernah kasih turun perempuan yang dibawa
lari ke Desa Mangganipi di Kodi. Ada juga peristiwa perempuan dari Loli,
di-yappa oleh orang Lamboya. Kami kasih turun juga. Kalau di Sumba Timur, kasus
KDRT. Kami bangun hubungan baik dengan pihak Kepolisian, Kejaksaan dan
Pengadilan. Saya juga bersyukur ada undang-undang dan aturan lainnya. Jadi,
kami bisa bilang ke pelaku bahwa dia sedang melawan hukum,” kata perempuan tiga
anak ini.

Korban Masih Berjatuhan 

Meskipun telah ada beberapa UU, namun korban
masih terus berjatuhan. Perempuan dan anak perempuan masih menjadi korban. “Ini
terjadi karena semua pihak belum bergerak seiring-sejalan. Seringkali perempuan
dan anak perempuan masih diperlakukan sebagai komoditi. Ada saja pihak-pihak
yang mengambil keuntungan secara ekonomi. Ambil contoh para pelaku yappa yang
dibayar sesuai perjanjian yang sudah disetujui oleh pihak laki-laki. Jadi ini
bisnis sudah,” kata dia. (Baca: Baku Atur Dalam Yappa)

Tahun 1999 disahkan UU No. 39 tentang Hak Asasi
Manusia. Mama Salomi seperti mendapatkan tambahan amunisi. Dia terus bersosialisasi
tentang penghentian kekerasan terhadap perempuan dan anak. Ia menggandeng tokoh
agama,  tokoh masyarakat dan warga untuk melindungi perempuan dan anak. Ia
mengedukasi warga untuk membuat laporan secara resmi ke Foremba jika menemukan
kekerasan terhadap perempuan di tengah masyarakat.

Langkah Mama Salomi tidak mulus. Ia seringkali
disindir, mendapat umpatan, bahkan diancam. Apalagi jika pelaku dan keluarganya
ia kenal. “Yang berat itu kalau ternyata pelaku adalah keluarga sendiri. Saya
dicap melawan mereka. Kita orang Sumba ini di mana-mana ada keluarga. Ditambah
lagi karena hubungan kawin-mawin, maka bisa saja kita kenal itu orang yang
bikin masalah,” ujar Mama Salomi.

Menurut Mama Salomi, kasus yappa maradda menjadi
rumit ketika adat sudah masuk ke dalamnya. Mediasi dan intervensi hukum sering
tidak diindahkan. “Kalau seorang perempuan korban yappa maradda sudah masuk ke rumah adat keluarga
lakilaki pelaku, dan si korban sudah  disambut dengan ritual adat,
urusannya menjadi sukar. Ada berbagai aturan adat yang masih dipegang teguh
oleh masyarakat di sini,” ujarnya.

Kalau perempuan “diturunkan” dari rumah pelaku,
kata dia, akan membuat keluarga besar pelaku merasa dipermalukan. Karena itu,
pihak penegak hukum pun sangat berhati-hati untuk mengambil tindakan. “Biasanya
kalau perempuan kalau sudah di-yappa, dia akan dikasih masuk ke kamar dipersatukan
dengan laki-laki yang mau ambil dia jadi istri. Kalau melawan maka akan diikat
kaki tangannya. Ada yang langsung diperkosa oleh pelaku. Dorang bilang biar dia
‘jinak’ dulu. Dorang anggap perempuan itu seperti binatang betul,” ujarnya
dengan nada kesal.

Mama Salomi menceritakan sebuah kasus yappa yang
menimpa anak SD berumur 13 tahun pada tahun 2017. Anak perempuan ini berasal
dari Desa Bolu Bokat, Kecamatan Umbu Ratu Nggay, Sumba Tengah. Karena ibunya
sudah meninggal, ia tinggal di rumah tantenya. Setelah di-yappa, anak ini
diperkosa oleh pelaku selama tiga hari. Mama Salomi mendapatkan laporan
dari tantenya. Ia bersama Kepolisian Resort Waibakul datang mengambil anak ini.
Sayangnya, karena dianggap tradisi, pelaku tak dijerat hukum apapun. Bagi Mama
Salomi, tak ada yang terlalu sukar untuk diselesaikan. Ia percaya segala upaya
baik  akan memberi hasil baik pula,

“Tahun 2017 juga, saya pernah bantu kasus yappa
maradda. Korbannya sarjana, pelakunya juga sarjana. Ini nona dorang sudah
dikasih naik ke rumah. Sudah pukul gong. Karena nona dan orang tua tidak
setuju, ada keluarga yang beri tahu saya. Kita koordinasi dengan aparat
keamanan dan pemerintah. Akhirnya nona bisa pulang kembali ke orang tua,”
cerita Mama Salomi, (Baca: Yang Menolak Tunduk Pada Tradisi)

Pada beberapa kasus yappa maradda yang ia selesaikan, ada surat
pernyataan yang ditandatangani kedua belah pihak, disaksikan aparat keamanan.
Isinya adalah tidak melanjutkan urusan adat dan perempuan dikembalikan kepada
keluarganya. Mama Salomi sendiri merasa heran meski sudah begitu banyak
kebijakan perlindungan perempuan dan anak, namun tetap saja yappa
berulang.  “Saya tidak tahu persis kenapa orang tetap nekad buat ini.
Padahal, ada hukumnya bisa masuk penjara,” kata dia. Berlakunya UU No. 23 tahun
2004 tentang  Penghapusan  Kekerasan  dalam Rumah Tangga dan
UU  No. 23 tahun 2003 tentang Perlindungan Anak  (serta perubahannya UU
No 35 tahun 2014) dan sejumlah kebijakan lainnya tentang perlindungan perempuan
dan anak,  tidak menjamin kasus yappa ini berhenti. Hingga tahun 2018
masih ada beberapa peristiwa yappa maradda.

Menurut Mama Salomi, lebih dari 10 kasus yappa
sudah ia tangani, di luar kasus KDRT yang dilaporkan resmi ke Foremba. “Sudah
lebih dari 10 kasus yappa yang kami tangani. Kami gandeng pihak kepolisian. Ada
juga kasus anak di bawah umur, masih SD. Ada juga yang aparat desanya kong kali
kong, malah bela pelaku padahal perempuan korban itu warga desanya,” ujar Mama
Salomi.

Bekerja sama dengan pihak kepolisian adalah
jalan keluar bagi Mama Salomi yang harus menghadapi ancaman terutama ancaman
fisik. Selain itu, rekan tim Foremba, suami dan anakanaknya kerap mengawal dia
dalam menjalankan tugas. Jaringan keluarga yang luas juga memberinya rasa aman
untuk bergerak.

Bergerak Bersama

Dalam menyelesaikan kasus-kasus perempuan dan
anak, tidak jarang Mama Salomi harus menggunakan dana sendiri. Baginya ini
adalah bagian dari cita-cita pribadinya agar semakin sedikit perempuan yang
menjadi korban ketidakadilan. Mama Salomi optimis akan semakin banyak orang
yang berdiri bersama para korban. “Banyak yang peduli sekarang. Ada pihak
pemerintah, ada LSM, gereja, ada pribadi. Ya saya harap peduli bukan hanya jatuh
hati tapi ada bukti misalnya kebijakan, kampanye bersama, sepakat bersama ada
perubahan dalam tatanan adat kita,” kata perempuan yang sehari-hari bertani
sayur ini.

Hal lain yang sedang diperjuangkan Mama Salomi
adalah hak waris  tanah bagi anak perempuan di Sumba Tengah. Dalam tradisi
Sumba, seorang anak perempuan dianggap sebagai pihak yang “keluar” dari
keluarga sehingga tidak mendapatkan warisan.***

Baku Atur dalam Yappa

Ruke Dedu, tokoh adat dan wunang  (juru
bicara) dari Desa Malinjak, Sumba Tengah  mengatakan yappa tidak sembarang
dilakukan. Harus ada hubungan kekerabatan antar keluarga laki-laki dan keluarga
perempuan, yakni pihak perempuan dalam adat setempat merupakan pihak yang
pantas untuk dinikahi. Misalnya ayah dari perempuan  bersaudara atau 
memiliki hubungan keluarga dengan ibu dari keluarga laki-laki (pelaku).
Istilahnya, anak om (paman) dari pelaku. Dalam adat Sumba secara umum,
memperistri anak om adalah perkawinan yang diharapkan.

Reku menambahkan bahwa dalam tradisi di Sumba
Tengah, yappa marada bisa
dibagi dua. Pertama, orang tua kedua belah pihak sudah bersekongkol menikahkan
anak-anak mereka. Namun rencana tersebut tidak diketahui anak perempuan dan
sama sekali tidak berhubungan dengan si laki-laki. “Istilahnya orang tua kedua
belah pihak sudah kong kali kong. Sama-sama tahu, jadi tinggal baku atur saja
nanti kalau urusan adat meskipun ini anak nona tidak mau,” ujar Reku Dedu.
Kedua, anak perempuan dan kedua orang tuanya tidak tahu tentang niat ini. Hanya
keinginan sepihak dari keluarga laki-laki.

Jika korban sudah berada di rumah keluarga
laki-laki, wunang diutus memberi tahu keluarga perempuan bahwa anak mereka
telah dibawa ke kampung pihak laki-laki. Wunang biasanya membawa seekor kuda
dan sebilah parang untuk diserahkan kepada orang tua perempuan.  Kuda dan
parang bermakna pemberitahuan bahwa anak perempuan ada di keluarga laki-laki
yang akan dipinang menjadi istri. “Ini apabila proses yappa  dilakukan di
jalan, bukan di rumah korban,” terang Reku Dedu.

Namun jika yappa dilakukan di rumah perempuan, maka keluarga
laki-laki akan mengikat seekor kuda di tiang rumah. Bila ada keluarga perempuan
yang “mengejar” para pelaku yappa, maka mereka akan diberi sebilah parang oleh
pihak lelaki. Jadi menurut Reku Dedu, perlu persiapan matang untuk yappa
perempuan. Selain persiapan adat, pembagian tugas sudah dilakukan dengan
matang: Siapa yang akan menangkap, memuat, kendaraan mobil atau kuda, kapan
dilakukan, dan di mana?  “Keluarga laki-laki harus siap baik-baik. Memang
ada orang yang biasa dipakai untuk tukang yappa. Kalau keluarga perempuan
kejar, dia sudah yang tugas menghadapi mereka,” terangnya.

Biasanya saat akan naik ke rumah adat keluarga
laki-laki, perempuan akan diperciki dengan air. Tujuannya agar rumah tangga
yang akan dibangun terberkati.  Meskipun juga ada yang menafsirkan air
tersebut mempunyai kekuatan magis agar si perempuan luluh dan mengiyakan
seluruh keinginan keluarga laki-laki. “Kalau sudah pukul gong, tidak bisa kasih
turun sudah. Satu kampung sudah kumpul, tikam babi. Makan dan minum 
sama-sama. Jadi dianggap sah sudah. Memang sekarang sudah ada yang dikasih
turun kembali. Ada aparat yang bantu keluarga perempuan,” kata Reku Dedu.

Yang Menolak Tunduk Pada
Tradisi

Chatty Hari Sabakodi (30 tahun ) lulus sarjana
dari salah satu perguruan tinggi di Kupang, Ibukota Provinsi NTT. Dia bertugas
sebagai pendamping kelompok Program Anggur Merah (Anggaran untuk Rakyat Menuju
Sejahtera) di salah satu desa di Kabupaten Sumba Tengah. Program ini berupa
bantuan tunai kepada setiap desa untuk pengembangan ekonomi produksi yang
diluncurkan pada masa Gubernur Frans Lebu Raya memerintah.  Ia tidak
menduga sama sekali akan menjadi korban yappa maradda.  “Kejadiannya tanggal
10 Januari 2017. Sebelum itu ada telepon dari desa, katanya akan ada
pemeriksaan dari inspektorat.  Mereka mau periksa keuangan di Koperasi
Anggur Merah. Jadi saya ke desa tanpa curiga sama sekali,” kenang Chatty.

Seperti biasa Chatty naik sepeda motor.Di jalan
ia berpapasan dengan kepala desa. Dalam hati dia membatin, kenapa kepala desa
malah pergi keluar? Bukankah ada pemeriksaan dari inspektorat?  “Beliau
bilang ada keperluan di kantor kecamatan,” ujar Chatty. Karena itu Chatty
langsung mengarahkan motornya ke rumah bendahara desa. Belakangan baru Chatty
tahu bahwa sang kepala desa menghindar karena tidak mau peristiwa yappa terjadi
di rumahnya. Sementara bendahara desa, kata Chatty, tidak tahu sama sekali
tentang rencana jahat itu.

Di rumah bendahara sudah hadir seorang staf dari
inspektorat. Ia memakai seragam dinas. Mereka berdiskusi. Chatty melaporkan
detail pengeluaran keuangan serta bukti print dari buku rekening. Hanya saja
dirinya agak curiga, staf inspektorat hanya mencatat di atas selembar kertas.
Biasanya mereka mencatat di atas kertas dengan format standar. “Setelah
pemeriksaan, staf inspektorat tanya-tanya sama saya. Dia tanya asal saya dari
mana, jadi saya bilang dari Malinjak. Saya juga heran, padahal kami sudah
saling kenal, kenapa tanya asal-usul segala? Lalu di akhir obrolan, dia bilang
‘wah berarti ini ana loka (anak om)’. Saya diamkan saja. Saya hanya ambil foto
kegiatan dan share ke group pendamping Anggur Merah. Ada kawan yang tanya,
kenapa pemeriksaan hanya di desa saya saja?” ujar perempuan muda ini.

Selesai pemeriksaan, staf inspektorat
mengajaknya ke kantor desa untuk menandatangani dokumen hasil pemeriksaan.
Namun karena membawa sepeda motor, Chatty memutuskan untuk naik motor saja.
Saat akan menghidupkan motor itulah, tiba-tiba sekelompok laki-laki meringkus
dan membawanya masuk ke dalam mobil yang sudah disiapkan. Helm masih di
kepalanya. “Ada lima laki-laki yang tangkap saya. Mereka pegang saya punya
kaki, tangan dan kepala, lalu mereka muat dengan paksa ke mobil. Saya menangis
berteriak dan meronta. Saya langsung sadar, ‘oh ini sudah yang namanya yappa’. Tidak lama
kemudian, kami sudah tiba di Kampung Anajiaka. Orang sudah banyak yang 
berkumpul,” cerita Chatty.

Chatty diturunkan dari mobil. Helmnya dibuka.
Dia sempat memberontak dan menggigit tangan seorang laki-laki yang menahannya.
Ia menusukkan kunci motornya ke dahi laki-laki yang lain sampai berdarah. Ia
ditarik masuk ke pintu rumah adat keluarga besar pelaku yappa. Beberapa
orang sudah menanti dan memercikkan air ke dahinya. Chatty menghindar. “Saya
ingat orangtua dulu cerita, kalau kena air itu, kita hilang kesadaran dan bisa
mengatakan iya atau setuju dengan keinginan keluarga yang yappa. Katanya ada
obat (magic) dalam air. Untung tidak kena di testa (dahi) saya,” kisah Chatty
yang ketika peristiwa itu terjadi, dua hari lagi akan dipinang kekasihnya.

Chatty menangis sejadinya. Ia marah dan
berteriak dari atas rumah adat keluarga besar laki-laki itu. Dia ingat bahwa
lelaki pelaku yappa adalah sepupu dari staf inspektorat tadi. Lelaki itu adalah
mantan pacarnya saat masih SMA hingga tahun pertama mereka kuliah di
Kupang. “Kami dulu pacaran memang, tapi sudah putus.  Sekitar 8 tahun
lalu. Dari segi adat, dia pantas untuk ‘ambil’ saya jadi istri karena dia anak
tante saya. Tapi, saya tidak suka dengan caranya dia. Kenapa tidak omong
baik-baik? Dia juga orang mengerti. Lulus sarjana juga,” kata Chatty.

Beruntung, Chatty sempat mengirim pesan pendek
(sms) kepada orang tua dan tunangannya sebelum hp-nya disita. Ia bilang kepada
mereka, sudah terkena yappa, minta dibebaskan. “Saya bilang, bagaimana pun
caranya tolong bebaskan saya. Saya tidak mau diperistri dengan cara yappa. Apalagi saya
tidak cinta sama itu laki-laki,” ujarnya. Pesan yang sama ia kirim juga ke
Dinas Pemberdayaan Perempuan Kabupaten Sumba Tengah, dengan maksud agar mereka
turun tangan menyelamatkannya. Namun, dinas tidak merespons sama sekali sampai
dia bebas.

Keluarga pelaku sudah mengirim wunang untuk
menemui orang tua kandung Chatty. Sesuai adat setempat, mereka membawa kuda.
Tapi, kedua orang tua Chatty tidak menerima. Artinya mereka menolak keinginan
keluarga laki-laki. Keluarga besar pelaku mulai melancarkan rayuan. Chatty
dinasehati agar mau menerima “lamaran” yappa ini. Bagaimana pun, kata para
perayu,  mereka masih keluarga dekat. Chatty menolak dengan tegas. Selama
dua setengah hari, Chatty menolak makanan dan minuman yang disajikan oleh
keluarga besar di kampung Anajiaka.
Di halaman rumah telah menyeruak  keramaian
layaknya pesta perkawinan besar. Gong dan tambur ditabuh kencang. Babi-babi
disembelih untuk menjamu kerabat dan warga yang berkumpul. Ratusan orang
berbincang ramai.  Chatty kalap. Ia kembali berteriak-teriak minta
dibebaskan. Akhirnya, di batas kesabarannya ia menyakiti dirinya. Ia mencabuti
rambutnya. Menikamkan kunci motor ke tubuhnya. Kepalanya ia benturkan ke tiang
rumah sampai benjol besar. “Pilihan saya adalah bebas atau saya mati. Itu
saja!” cetus Chatty. Ia bersikukuh menolak!

Pada hari ketiga, ada tradisi purung tana.
Artinya Chatty dianggap telah sah menjadi bagian dari keluarga besar lelaki
itu. Urusan adat bisa dilanjutkan dan ia boleh keluar dari rumah meskipun masih
dikawal ketat. Kampung Anajiaka masih riuh dengan gong dan tambur, dan
babi-babi terus disembelih. Pesta belum usai. “Waktu itu ada ibadah, yang
pimpin Ibu Pendeta Fin Fanggidae. Saya heran kenapa gereja seperti setuju.
Tapi, Ibu pendeta bicara empat mata dengan saya. Dia minta maaf. Dia bilang
awalnya dia menolak pimpin ibadah karena tidak setuju dengan adat ini. Namun
tidak ada aturan yang melarangnya, dan ini merupakan wilayah pelayannya. Ibu
pendeta janji akan bicarakan ini dengan pemerintah agar ada peraturan desa
(yang melarang yappa),” kata Chatty.

Di sisi lain kasus Chatty di-yappa menjadi
trending topic di media sosial. Pro dan kontra terjadi. Pihak yang pro dengan
tradisi ini mengobrak-abrik kehidupan pribadi Chatty. Pada hari ketiga, Chatty
bertemu langsung dengan si pelaku. Chatty marah dengan tindakannya. Kata
Chatty, pelaku hanya bilang, “mau bagaimana lagi, kalau omong baik-baik kau
tidak mau.” Padahal, kata Chatty, pelaku dan dirinya tidak pernah lagi
berbicara tentang hubungan mereka sejak putus dahulu.  Atas persetujuan
orang tuanya, keluarga Chatty melaporkan kasus ini ke Mama Salomi, Foremba. “Om
pergi lapor ke Foremba. Terus Mama, Bapa sama-sama dengan Mama Salomi pergi
lapor ke polisi. Waktu itu Kepala Desa Wailawa, Pak Alex juga bantu kami untuk
negosiasi dengan keluarga Anajiaka,” jelas Chatty.

Pada hari ketiga keluarga Chatty mengirimkan
utusan ke Anajiaka untuk menyampaikan bahwa mereka tidak setuju dengan yappa.
Keluarga Chatty menyampaikan bahwa Chatty mengancam akan bunuh diri kalau
keluarga menyetujui dia diperistri oleh pelaku. Keluarga tidak mau mengorbankan
Chatty.

Selama lima hari di Kampung Anajiaka, Chatty
dijaga ketat. Untunglah dia boleh menerima kunjungan dari kawan kerja, kawan
SMA dan keluarga. Malam hari delapan orang lelaki menjaganya. Bahkan hingga ke
kamar kecil, ia dikawal. Pada malam keenam, orang tua Chatty, pihak kepolisian,
Foremba dan keluarga besarnya datang ke Kampung Anajiaka untuk menjemput anak
mereka. Chatty diminta untuk menyampaikan isi hatinya apakah dia mau atau
tidak. Chatty dengan tegas menyatakan tidak mau diperistri oleh pelaku. Dirinya
mau pulang ke rumah orang tuanya. Malam itu juga Chatty pulang bersama
keluarganya, meskipun keluarga pelaku minta untuk menunda kepulangannya esok
hari, karena sudah malam.

Pasca peristiwa itu, Chatty masih bertemu dan
menyapa staf inspektorat yang “menjebak”nya di atas tapi tidak direspons.
Ketika bertemu keluarga pelaku, Chatty tetap menyapa mereka dengan sopan. “Saya
rasa bagaimana e…, kami kan masih berkeluarga. Jadi saya tetap bangun hubungan
baik. Mungkin mereka juga korban dari sistem sosial yang ada. Apa yang menimpa
saya ini terjadi juga pada perempuan lain, hanya saja mereka tak berdaya untuk
menolak,” ujar Chatty.

Sekembalinya ke rumah, orang tua Chatty bersama
keluarga besar menyelenggarakan syukuran atau dalam tradisi Sumba disebut
balingu hamaghu (harafiah: mengembalikan jiwa yang hilang). Peristiwa itu
dianggap sebuah malapetaka dan Chatty lolos dari sana.

Pada tahun yang sama ketika Chatty di-yappa, ada dua
perempuan lain yang ditimpa kasus serupa. Keduanya juga lolos. Mereka menolak
tunduk pada tradisi ini. Chatty kini sudah menikah dengan tunangannya. Mereka
tinggal Sumba Barat Daya. Seorang anak telah menyempurnakan kebahagiaan mereka.*PGI


Martha Hebi adalah Penulis, dari Komunitas
Solidaritas Perempuan dan Anak (SOPAN)  Sumba, dan tinggal di 
Waingapu Sumba Timur. Salah satu tulisan dari Buku Perempuan (Tidak) Biasa di
Sumba, Era 1965-1998.

KOMENTAR ANDA

BACA JUGA:   Di Kabupaten Kupang, Gereja Pilar Utama Pembangunan dan Pendidikan Iman
Tags
Baca Selengkapnya
Back to top button
error: Content is protected !!
Close
Close