Mencintai Anak Tanpa Kekerasan Fisik dan Mental
Mencintai Anak Tanpa Kekerasan Fisik dan Mental
Orangtua juga harus bisa menjaga harga diri anak. Semakin anak-anak merasa dihargai, mereka akan menujukkan sikap yang sama pada orangtua. Jika hal-hal tersebut dilakukan dengan konsisten, orangtua bisa menghindarkan kekerasan fisik maupun mental pada anak.
Ari Budiyanti – FSI Club Ministry
https://www.fsiclubministry.com/
http://radiosuaraharapan.com/

Majalah Suara Harapan – Anak-anak adalah buah hati orang tuanya. Banyak keluarga sangat mengharapkan kehadiran anak-anak. Mereka memohon kepada Tuhan dalam doa dan permohonan dengan sungguh-sungguh. Beberapa pasangan suami istri yang lama tidak bisa mempunyai anak mengusahakan berbagai cara.

Ada pasangan yang memilih perawatan untuk meningkatkan stamina tubuh sehingga lebih memungkinkan punya anak. Ada juga yang memilih dengan tekhnologi bayi tabung. Anak-anak sungguh sangat dinantikan kehadirannya oleh para pasangan muda.

Masalah yang kadang timbul setelah kehadiran anak-anak adalah adanya ketidak sabaran dalam merawat anak.  Bahkan ada saja orang tua yang menganggap anak sebagai penghambat dalam berkarir. Akibatnya tidak lagi menghargai kehadiran anak.

Banyak dilaporkan kasus kekerasan pada anak yang terjadi justru dalam keluarga. Ini sangat memprihatinkan. Setelah ditunggu kehadirannya, tapi tidak dirawat dengan baik. Anak-anak yang demikian sungguh bernasib malang.

Ada banyak keluarga yang merawat anak-anak dengan penuh kasih sayang. Apakah sebenarnya bisa mengasuh dan mendidik buah hati tanpa kekerasan? Seharusnya bisa. Anak-anak yang dididik dengan penuh kasih sayang secara tepat akan memberikan respon positif pada orang tua dan lingkungan.

Anak-anak yang melakukan kesalahan perlu diberitahu dengan tepat apa kesalahannya. Dengan demikian anak akan memahami kesalahannya dan tidak mengulanginya lagi. Anak-anak juga perlu belajar untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Di sinilah peran orang tua dalam mengarahkan anak agar mandiri.

Orangtua juga harus bisa menjaga harga diri anak. Semakin anak-anak merasa dihargai, mereka akan menujukkan sikap yang sama pada orangtua. Jika hal-hal tersebut dilakukan dengan konsisten, orangtua bisa menghindarkan kekerasan fisik maupun mental pada anak.

Orangtua perlu tahu bahaya melakukan kekerasan fisik pada psikogis anak. Anak-anak dapat merasa benci pada orangtua, menyimpan dendam, memberontak pada perintah orangtua, dan mengalami trauma.

Dari segi biologis, anak-anak yang mengalami kekerasan fisik akan menanggapi kekerasan tersebut sebagai ancaman. Ancaman ini seperti tekanan yang akan mengakibatkan otak melakukan defensif. Jika ini berlangsung terus menerus, anak akan kehilangan kemampuan dalam perencanaan. Anak-anak tersebut juga akan mengalami penurunan daya tangkap dalam menerima informasi, mengelompokkan data, dan kesulitan dalam pemecahan masalah.

Jika orangtua mengerti hal ini, tentunya tidak akan melakukan tindak kekerasan fisik pada anak. Tidak ada orangtua yang ingin anaknya mengalami gangguan psikologis bukan? Anak-anak yang sering mengalami kekerasan fisik maupun mental akan tumbuh menjadi kurang kreatif dan kurang kritis.

Disilpin berbeda dengan kekerasan. Orangtua seharusnya menerapkan disiplin pada anak. Perilaku mendisiplinkan anak membutuhkan komitmen kuat dari orangtua. Mereka harus mempunyai ketegasan, konsisten, kasih sayang, kebersamaan dan kompromi.

Kompromi dilakukan pada kondisi khusus anak, misalnya saat anak sedang sakit. Namun perlu ada ketegasan agar anak tidak memanfaatkan keadaan tersebut. Orangtua juga harus memastikan semua anggota keluarga dalam kebersamaan melakukan disiplin yang sama.

Kita adalah manusia yang sudah jatuh dalam dosa. Kecenderungan untuk melanggar perintah Tuhan memang selalu ada. Namun berbeda halnya dengan orang-orang yang sudah percaya pada Tuhan Yesus. Setiap kita harus menjadi pelaku-pelaku firman-Nya yang tertulis dalam Alkitab.

Alkitab juga mengajarkan agar orangtua mendidik anak-anaknya dengan kasih. Efesus 6: 4 mengatakan agar para orangtua tidak membangkitkan amarah di dalam hati anak-anak mereka tetap mendidik mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.

Ini menunjukkan betapa Tuhan sangat menghargai perasaan anak-anak. Anak-anak sangat istimewa bagi Tuhan. Orangtua tidak boleh semena-mena pada anak dengan alasan apapun. Bahkan anak-anak lelaki disebut sebagai milik pusaka daripada Tuhan dan buah kandungan adalah suatu upah, dalam Mazmur 127: 3.

Orangtua harus bertanggung jawab penuh pada Tuhan dalam menjaga, merawat dan memelihara anak-anak mereka. Karena anak-anak adalah anugerah Tuhan yang dititipkan pada orangtua. Semoga artikel ini berguna untuk para pembaca.

Daftar Pustaka:

  1. Beranda Agency, 2015, Mengasuh dan mendidik buah hati tanpa kekerasan, Jakarta, Elex Media Komputindo
  2. Alkitab
    Kerja sama Suara Harapan dan FSI Club Ministry
    http://radiosuaraharapan.com/ 
Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here