Majalahsuaraharapan.com – Ini semua terkesan pertanyaan teologis, namun sesungguhnya ini sangat eksistensial dan praktis. Dengan memiliki jawaban yang benar dan alkitabiah tentang semua gumulan ini, diharapkan kita boleh bersikap dan bertindak benar dalam situasi gelap yang mengancam dunia kini.

Apa atau siapa penyebab bencana di dunia ini? Manusiakah? Siklus alamikah? Iblis dan para roh jahatkah? Atau Tuhankah? Jawabnya bisa sangat rumit dan perlu hati-hati diterapkan ke dalam konteks berbeda-beda. Mengingat realitas ini diciptakan Tuhan sebagai multi tatanan dengan banyak hukum yang saling berkait dan terintegrasi, maka satu hukum terganggu atau dilanggar bisa berdampak bola salju. Misal saja penggundulan hutan bukan saja mengakibatkan penggurunan tetapi juga pemanasan global, pemunahan spesies binatang, kehancuran unsur penopang hidup manusia seperti air bumi, tanaman, ikan, dst. yang berpotensi menimbulkan konflik senjata antar kelompok manusia. Intinya adalah perilaku manusia yang melanggar hukum moral, spiritual, natural bisa berakumulasi menjadi bencana alam, wabah penyakit yang dari waktu ke waktu melanda umat manusia. Dan ini bisa ditunggangi oleh roh jahat yang ingin merusakkan ciptaan Allah dan mencemarkan reputasi Allah dalam pikiran manusia,

Tidak hanya ini. Alkitab juga mengajarkan hal mengejutkan. Yaitu ada banyak tulah, petaka, bencana pada dasarnya adalah hukuman Tuhan atas manusia. Itu jelas dalam kisah air bah zaman Nuh, api belerang yang memusnahkan Sodom dan Gomora, sepuluh tulah atas Mesir di zaman Keluaran, kekeringan dan kelaparan di zaman nabi Elia, pembuangan Israel dan Yehuda ke Asyur dan Babel, dlsb.

BACA JUGA:   Refleksi COVID-19, "Krisis, Iman, dan Kasih Allah"

Ketika manusia mengalami berbagai bencana yang tidak lain adalah hukuman Allah atas dosa, pemberhalaan, dlsb. kita cenderung mempertanyakan kebaikan dan kasih Allah, kekuasaan dan kendali-Nya atas segala sesuatu. Bagi logika kita sukar meyakini bahwa Allah itu kasih dan baik adanya justru pada saat Ia menyebabkan penderitaan dahsyat dalam dunia, tetapi Alkitab mengajarkan itu. Allah kasih, baik, adil, kudus, benar, berdaulat, berkuasa, serempak serasi bersamaan tidak berbenturan, dst. dan semua sifat-Nya ini hadir dan bekerja dalam semua tindakan yang Ia kerjakan atas dunia kita. Maka dalam iman kita boleh percaya bahwa hukuman Tuhan bukan saja beralasan — menghukum dosa, melenyapkan dewa-dewi berhala, dlsb. — tetapi juga bertujuan jamak.

Tuhan menghukum sekaligus menyelamatkan, Tuhan menghajar sekaligus memurnikan. Tuhan menekan sekaligus menopang dan menaungi dengan kepak sayap kasih setia-Nya, Tuhan mengurus dunia sekaligus juga suku bangsa, komunitas, gereja dan individu-individu. Kok bisa? “Sungguh tak terselami hikmat dan kuasa Tuhan!”. Tuhan meninggalkan sekaligus menyertai. Ini bukan saja sekadar cara melihat tetapi bisa jadi merupakan pengalaman riil kita yang penuh kontradiksi dan paradox.

BACA JUGA:   Survei, 95,5% Menyatakan Setuju pada Praktik Ibadah Daring

Dalam situasi ini, sikap paling tepat dan terbaik kita adalah merendah, memohon rahmat Allah, bertobat dari dosa dan berhala, meyakini dengan pertolongan Roh bahwa Ia tidak membuang orang yang datang kepada-Nya. Maka dengan mempertimbangkan banyak faktor rumit penyebab sengsara manusia ini, yang perlu kita buat harusnya bertobat, merendah, memohon rahmat Tuhan, menolak manifestasi kuasa roh jahat, namun juga menyambut berbagai efek disiplinpemurnian yang, Tuhan kerjakan atas kita. Maka boleh kita percayai dengan teguh bahwa ada janji pemeliharaan, perlindungan, keluputan dari Tuhan untuk orang yang sungguh bernaung di dalam Dia, Namun, mengingat kita masih hidup dalam dunia berdosa dan pewujudan Kerajaan Allah masih berproses. maka masih bisa terjadi ada rencana khusus Tuhan jika umat-Nya mengalami sakit, bencana, dlsb.

Satu hal lain yang banyak dibicarakan dalam kitab apokaliptik ialah bahwa berbagai bencana, tulah, sengsara, petaka ini adalah tanda-tanda zaman menuju ke penggenapan zaman baru yang akan Tuhan Yesus bawa ketika Ia datang kedua kali kelak. Maka jika Covid-19 dilihat sebagai bagian dari rentetan tanda-tanda zaman ini, respons tepat kita harusnya adalah berjaga-jaga dan menanti-nanti kedatangan Tuhan Yesus kedua kali, yang bukan membawa ketakutan untuk orang yang sungguh hidup di dalam Dia melainkan merupakan pengharapan penuh sukacita bahwa semua yang kita percayai, harapkan dan kasihi di dalam diri dan karya Tuhan Yesus sedang berproses menuju pewujudan puncaknya.

BACA JUGA:   Gubernur : Bupati se NTT dan Walikota Kupang Terima Wisatawan dengan Baik

Terakhir jangan lupa, kita hidup di antara orang lain. Jangan jadi orang beriman egois hanya mementingkan kesehatan dan klaim sehat sendiri, Pikirkan juga kesehatan, kebutuhan orang lain. Jangan bawa iman triumfalistik. Iman kita boleh kuat, tetapi janganlah sampai iman kuat kita itu menjadi sontohan bagi yang imannya lemah atau malah tidak beriman. Maka kita memerhatikan protocol pencegahan penyebaran wabah covid-19 seperti yang diatur oleh pemerintah, sambil aktif berdoa, berbagi kabar baik, mempraktikkan gaya hidup Yesus yang mengalahkan maut dengan sendiri-Nya menanggung sengsara dan maut kita.

Semoga renungan ini bermanfaat membuat kita makin fokus pada Tuhan Allah Pencipta, Pemelihara, Hakim, Penyelamat, Penyembuh. Di bawah kepak sayap kasih setia-Nya hendaknya kita berlindung penuh. Amin.

KOMENTAR ANDA