Pdt. Dr. Welfrid Ruku

Menjelang Tuhan Yesus kembali ke sorga Ia memberikan tiga amanat kepada para murid yang kita sebut dengan amanat agung atau perintah agung. 
Pertama, pergilah jadikanlah semua bangsa muridku. Perintah ini terkait erat dengan tugas penginjilan. Mencari jiwa baru. Aspek kuantitas ditekankan di sini. Kedua, baptislah mereka dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus. Perintah untuk membaptis lebih menunjuk pada aspek legalitas sebagai anak-anak Tuhan bahwa kita, meskipun hidup di tengah-tengah dunia ini, kita adalah warga kerajaaan surga. 
Ketiga, ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Ku perintahkan kepadaamu. Perintah untuk mengajar bertujuan untuk meningkatkan kualitas pengetahun dan perubahan pola pikir dari warga khususnya warga Kristen.
Akhir dari ketiga perintah ini ada jaminan perlindungan Tuhan, “Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman” (Matius 28:19-20).
Sadar akan ketiga perintah itu, maka setelah Roh Kudus turun ke atas murid-murid pada hari Pentakosta, mereka mulai memberitakan injil ke seluruh tanah Yudea yang dekat dengan Yerusalem.  Banyak orang Yahudi menjadi pengikut Tuhan Yesus. Kita membaca kira-kira 3000 orang yang bertobat, pada waktu Simon Petrus berkhotbah di serambi Salomo pada hari Pentakosta. Karena begitu banyak orang yang mengikuti jalan Tuhan maka muncul kecemburuan di kalangan pemimpain agama Yahudi. Mereka mulai menganiaya para pengikut Tuhan Yesus. Salah seorang tokoh yang giat menganiaya orang Kristen adalah Saulus. Ia membela mati-matian agama Yahudi, agama mayoritas pada waktu itu dan menyiksa orang-orang Kristen yang baru saja bertumbuh.
Stefanus adalah martir pertama gereja kita, gereja perdana. Kematian Stefanus mendorong teman-temannya untuk mengungsi, salah satu yang mengungsi Filipus. Stafanus dan Filipus adalah dua diaken, bukan pendeta. Jabatan yang menurut pikiran kita terlalu rendah, dalam gereja. Dan karena itu, kalau tiap kali pemilihan ditunjuk jadi diaken, wah, ini jadi pesuruh. Diaken terhormat ini juga menjadi penginjil-penginjil terkenal. Filipus mengungsi ke Samaria. Kalau kita lihat apa yang terjadi di sini, maka kita berkesimpulan bahwa bagi para diaken waktu itu, hambatan tidak boleh menjadi penghalang bagi pemberitaan Firman Tuhan. Apapun hambatannya kita harus mencari jalan keluar. Supaya pemberitaan Firman Tuhan tetap terlaksana.
Pembacaan kita tadi, bahwa pelayanan Filipus di Samaria cukup berhasil. Ketika ia memberitakan tentang Yesus dan Kerajaan Allah, Tuhan mendukung pemberitaan Filipus dengan memberikan tanda-tanda ajaib. Orang lumpuh sembuh, orang yang dirasuk roh-roh jahat dipulihkan dalam nama Yesus, orang timpang bisa jalan, dan banyak mujizat lain terjadi di Samaria. Sebab itu terjadi sukacita yang luar biasa dit empat di mana Filipus melayani. Melihat tanda-tanda ajaib itu orang Samaria sepakat untuk menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat dan menerima baptisan. Tidak ketinggalan seorang tukang sihir yang terkenal di kota samaria bernama Simon, juga percaya dan dibaptis dalam nama Tuhan Yesus. Kita membaca tadi bahwa Simon bukan orang sembarangan. Dia berprofesi sebagai tukang sihir yang menakjubkan banyak orang, bahkan ia juga bertobat dan dibaptis, lalu diayat 13 dikatakan ia juga aktif mendampingi Filipus dalam pelayanannya.
Pertobatan di Samaria berhasil menambah jumlah pengikut Tuhan Yesus di sana. Dari aspek kuantitas kita acungkan jempol kepada Filipus. Tetapi dari aspek kualitas, tunggu dulu, ada indikasi bahwa perintah Tuhan Yesus untuk mengajar itu belum sungguh diterapkan di sana. Ketika Petrus dan Yohanes datang ke Samaria menumpangkan tangan ke atas jemaat supaya jemaat memperoleh Roh Kudus, maka Simon tampil dan menawarkan sejumlah uang. Apa yang mendorong Simon melakukan aksi itu? Saya melihat paling kurang ada tiga alasan.
Pertama, ia mau menunjukan bahwa dia memang orang berduit. Kaya. Apapun mau dibeli. 
Kedua, dia berpikir bahwa Roh Kudus bisa dibeli dengan uang, seperti dulu ia juga belajar trik sihir, dia juga membayar sejumlah uang. Padahal Roh Kudus adalah pemberian Allah secara cuma-cuma dan tidak bisa diperjualbelikan. Ketiga, Simon berpikir bahwa sesudah mendapat Roh Kudus, ia akan menumpangkan tangan pada jemaat dan mendapat bayaran, jadi ada sisi keuntungan secara ekonomis, ini adalah niat jahat Simon yang diketahui oleh Simon Petrus dan Yohanes. Karena itu Petrus sungguh-sungguh menentang usul dari Simon. Petrus menghardik Simon katanya, “Binasalah engkau dengan uangmu karena engkau menyangka engkau dapat membeli Kerajaan Allah dengan uang.”
Apapun alasannya, tawaran Simon menunjukan bahwa pendidikan atau pengajaran yang diamanatkan Tuhan, perintah ketiga, ajarlah mereka belum sungguh diterapkan di Samaria waktu itu. Secara kuantitas kekristenan bertumbuh pesat tetapi secara kualitas tidak terlalu ada petunjuk bahwa orang di sana sungguh bertobat. Saya yakin bahwa cara untuk mengubah mindset Simon menjadi sungguh-sungguh Kristen yang tidak berpikir soal keuntungan, yang tidak berpikir cari hormat, kecuali melalui pendidikan atau pengajaran. Itulah sebabnya, Tuhan Yesus memberi perintah ajarlah mereka melakukan apa yang Ku perintahkan kepadamu.
Apabila aspek pengajaran kita abaikan dari tugas gereja, apabila aspek pengajaran kita abaikan dari tugas sekolah-sekolah kristen, maka kualitas kekristenan kita menjadi minus, rendah.
Kita berbakti hari ini sekaligus membuka kegiatan konsultasi gereja pendidikan dan konven kepala sekolah GMIT. Kita diingatkan tentang pentingnya pendidikan sebagai warga gereja dan warga masyarakat. Lebih-lebih kasus Simon ini sangat marak di wilayah pelayanan GMIT. Satu hal yang sama antar kita dan Simon adalah bahwa meskipun kita sudah lama menjadi Kristen kita masih berpikir secara primitive. Meskipun ita sudah lama dibaptis tapi kita masih berpikir dari sudut agama suku.  Kita sama dengan Simon dalam hal itu. Katakanlah tiap kali kalau sakit orang tidak periksa ke dokter dulu, masih pikir siapa yang bikin. Banyak sekali di desa-desa tunggu supaya naketi dulu. Tunggu caritahu dulu siapa yang bikin. Sampai orang mati pun dibiarkan begitu saja.
Ini pengaruh cara berpikir primitif yang masih sangat kuat, justru di jaman post modern di mana kita sedang menuju revolusi industry tahap 4 atau revolusi robot. Pikiran-pikiran primitif masih ada. Ada juga yang tidak bisa disangkali bahwa di dalam kota juga ada juga tukang-tukang sihir yang menjual jasa untuk menghabisi nyawa orang lain. Itu di kota dan Kristen. Ada juga budaya boros yang kadang-kadang tidak masuk akal. Kalau saya tidak melaksanakan adat terhadap orang tua saya, pesta besar, nanti leluhur marah. Anak main sakit terus. Kalau tidak laksanakan adat terhadap calon istri, leluhur marah nanti tidak ada keturunan karena itu berapapun yang harus dikeluarkan bahkan berhutang sekalipun, adat harus digenapi. Meskipun dalam catatan-catatan kita ada sejumlah orang terpaksa harus bekerja ke luar negeri, ke Malaysia, hanya untuk melunasi utang waktu nikah adat. Kita ada di jaman yang cukup modern tapi pikiran kita belum up to date.
Banyak hal yang semestinya kita tinggalkan tetapi kita belum tinggalkan. Betul bahwa tidak semua hal harus ditinggalkan. Ada hal-hal yang positif tapi untuk membedakan apa yang baik mana yang buruk, syaratnya adalah pendidikan. Tidak bisa tidak. Kalau kita meninggalkan atau menjauhkan syarat ini, maka kita tidak jelas kita ini siapa. Tugas berat yang harus kita emban di bidang pendidikan adaalah mengubah mindset warga gereja agar up to date berpikir maju dna tidak berpikir mundur. Penddikan Kristen harus membuat orang cerdas, hidup sehat, tidak mabuk-mabukan, hidup tertib, hidup bersih, jangan kalau Bapak Gubernur datang baru bersih. Itu kita munafik. Seharusnya itu menjadi nilai dalam diri kita untuk hidup bersih. Dan itu hanya diperoleh, kalau kita tahu apa itu kebersihan.
Tentu saja pekerjaan mendidik, tidak hanya dilakukan oleh gereja. Kita membutuhkan sinergitas dengan lembaga-lembaga lain termasuk dengan pemerinatah daerah. Semoga saudara-saudara yang berkonven mulai hari ini mempertimbangkan bagaimana ini dilakukan ke depan, supaya kita bergerak jauh lebh maju.
Hari ini kita juga membaptis 3 orang anak yang penuh tantangan. Tugas orang tua bukan sekadar berikan makanan, tapi juga mebangun mental spiritual anak. Pendidikan karakter sangat penting, dimulai dari rumah tangga, terutama karakter Kristen.  Israel pada zaman Salomo ada guru-guru bijak yang mengajarkan bagaimana orang hidup secara bijak. Kitab Amsal, merupakan hasil karya dari guru bijak yang tiap hari mengumpulkan nasihat-nasehat yang dibukukan dan kita baca sampai hari ini.  Saya kira kita punya banyak tokoh dalam masyarakat kita yang punya cerita-cerita di belakang. Kalau itu dikumpulakn dan diajarkan kepada generasi muda, pasti mereka belajar bagaimana hidup secara bijak. Secara khusus saya mau ingatkan kepada saudara-saudara yang ingin mempunyai anak atau sudah punya anak atau rencana punya anak. Tolonglah ketika hamil jangan minum mabuk, karena ada orang tua mengatakan kalau kita buat mabok ini anak dari dalam kandungan dia lahir datang dia ikut persis sifat orang tua, pemabuk. Dan ketika dia sekolah, anaknya pintar tapi tidak bisa berpikir keras, karena dia mabuk. Mengantuk di dalam kelas, tidak bisa belajar dan akhirnya drop out (DO). Kalau terjadi demikian di rumah, jangan cepat-cepat menyalahkan anak. Koreksi diri, periksa diri, pola atau cara kita makan minum di rumah bisa memperlemah anak sejak dalam kandungan.
Pada akhirnya selamat berkonsultasi dan berkonven bagi peserta dan selamat melaksanakan tugas pendidikan karakter bagi anak-anak. Sinode.or.id 

KOMENTAR ANDA

BACA JUGA:   Korinus Masneno: Hal Terindah Dalam Hidup adalah Berjuang Menggapai yang Lebih