Merindukan Allah

Manusia masa kini berada dalam kegelisahan. Kekisruhan, ketakutan, kebimbangan, kecurigaan pada sesama semakin kuat.

Suara Harapan – Setiap orang membutuhkan Allah. Namun dalam praktiknya, manusia kerap melupakan Dia. Agustinus (354-430 M), menyampaikan bahwa manusia kerap melupakan Tuhan karena satu alasan yaitu: gangguan! Dalam tulisannya Agustinus mengatakan,”Hati kami gelisah sampai mereka beristirahat dalam-Mu”. Gangguan-gangguan itu membuat manusia tidak dapat merasakan cinta Tuhan di dalam hatinya. Karena tidak dapat merasakan cinta Tuhan, manusia kehilangan daya-daya dalam hidupnya.

Merindukan Allah adalah perasaan di mana kita merasakan diri dicinta oleh Tuhan. Cinta-Nya yang hebat atas kita menumbuhkan kerinduan dalam batin untuk terus bersekutu akrab dengan Dia.

Dalam Alkitab, kita menemukan gumul Pemazmur karena kerinduannya akan Allah. Dalam nyanyiannya Pemazmur mengungkapkan,”Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah. Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah?”(Mazmur 42).

Nyanyian pemazmur itu mengingatkan kita bahwa manusia membutuhkan Allah di segala zaman, termasuk manusia yang hidup di zaman ini.

Penelitian yang dilakukan oleh Jeanet Sinding Bentzen menjelaskan bahwa pada bulan Maret terjadi lonjakan tertinggi dalam rekaman sejarah untuk pencarian kata “prayer” di mesin pencarian google oleh masyarakat global saat pandemi virus COVID-19. Secara online, masyarakat global meminta perlindungan dari Tuhan, tetap bertahan, dan juga syukur kepada Tuhan bagi para medis yang sedang berjuang. Hal serupa terjadi juga di Indonesia.

Apakah manusia merindukan Allah hanya di saat situasi sulit dan mendesak? Bisa jadi demikian. Di sini pula kita diingatkan untuk tidak hanya merindukan Dia dalam situasi sulit, terdesak dan tidak berdaya (Izack Lattu, 2020).

Sebagaimana tuturan Agustinus bahwa manusia kerap mengalami gangguan yang membuatnya tidak dapat merasakan cinta Tuhan dan tidak merindukan-Nya, kita diingatkan untuk membuang gangguan-gangguan dalam hidup. Kita dapat belajar dari Agustinus yang mengajarkan bahwa kita harus mengasihi Allah dengan totalitas hidup.

Tubuh, akal budi dan hati manusia adalah milik Allah. Allah berdiam di dalamnya dan mengatur seluruh laku manusia. Karena itu, milikilah kesadaran akan hidup yang dicinta oleh Allah, alami Dia dalam seluruh kehidupan dan milikilah komitmen untuk mengenal Allah dan karya-karya-Nya melalui kebiasaan-kebiasaan yang membawa kita untuk selalu dekat dengan Allah.

Hal penting yang perlu diperhatikan adalah bahwa kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan manusia itu tidak didasarkan pada pertimbangan manusia semata. Tubuh, akal budi, hati manusia sendiri tidak mampu menuntun manusia ke dalam persekutuan dengan Allah. Di sinilah manusia membutuhkan anugerah dari Allah.

Agustinus mengatakan: semua usaha kita untuk memberi arti hidup menjadi kacau dan tidak efektif. Meskipun kita merindukan Allah, sesungguhnya kita tidak menyadarinya sejak awal. Ketiakdasaran itu terjadi karena pada dasarnya manusia tersesat dari Allah. Dalam ketersesatan itu manusia mencoba mencari Allah dengan dayanya sendiri, namun manusia gagal. Pemikiran ini merupakan gagasan Agustinus yang sangat berpengaruh hingga saat ini.

Allah mencintai manusia, sekalipun manusia bergelut dengan dosa. Dalam cinta, Ia menyatakan rahmat-Nya. Namun, manusia tidak mudah untuk menangkap dan mengalami Dia. Agustinus menyebut ada tiga pencobaan yang lekat dengan manusia.

Ketiga pencobaan itu adalah: cinta akan kuasa, hawa nafsu yang menyebar luas dan ketidakmampuan manusia untuk merasakan hidupnya puas. Ketika tiga kuasa itu merasuk dalam hidup manusia, kehidupan diarahkan pada keinginan untuk memenuhi nafsu jahat yang membuat manusia gelisah, serakah, penuh dengan kebencian, mencintai kekerasan. Hal-hal itu mendatangkan kekisruhan, kerancuan dan rusaknya kehidupan.

Agustinus menyebutkan bahwa pada akhirnya semua itu merusakkan fondasi sejati yaitu kasih Allah. Dirusakannya kasih Allah oleh manusia membuat manusia merusak hubungan dengan sesama.

Manusia masa kini berada dalam kegelisahan. Kekisruhan, ketakutan, kebimbangan, kecurigaan pada sesama semakin kuat. Politik yang mestinya menjadi sarana untuk kehidupan bermartabat telah dikloning menjadi seperti binatang buas yang dapat memangsa manusia yang merekayasanya. Antar sesama dibatasi oleh tembok kecurigaan sehingga antar sesama manusia saling hujat, saling menjatuhkan, saling mematikan. Aneka cara digunakan untuk menghancurkan sesamanya.

Situasi itu perlu diubah. Dengan merindukan Allah Sang Sumber Cintalah manusia melihat dirinya di hadapan Sang Cinta dan sesama. Spiritualitas itu menumbuhkan sikap batin untuk “eling” bahwa manusia dicipta dengan cinta untuk tinggal di semesta yang sama. Semoga spirit itu ada dan berkembang dalam kita.*Seword.

Komentar