Refleksi Ulang Tahun Kelahiran



Pdt.Emr.Mis Bien,BTh.,SPd
Mazmur 90 : 1 – 12
     
       Aktifitas kehidupan manusia bergerak antara dua titik, yaitu titik kelahiran dan titik kematian. Itulah sebabnya ada hari
kelahiran dan sering dirayakan ulang, yang disebut perayaan ulang tahun baik
sementara orang masih hidup, maupun ketika orang itu sudah mati bahkan hari
kematian pun orang masih ingat. Jarak antara dua titik aktifitas manusia itu
tidak diketahui oleh siapa pun, sangat rahasia. Dalam pengalaman orang
percaya zaman dulu, terungkap sedikit informasi sehubungan dengan jarak kedua
titik aktifitas manusia itu.
     Mazmur 90 : 10, pemazmur mengaku
bahwa “
masa
hidup kami  hanya tujuh puluh tahun , dan
jika kami kuat delapan puluh tahun . Dan kebanggaannya adalah kesukaran dan
penderitaan sebab berlalunya terburu-buru dan kami melayang lenyap.
”. Jadi ada pengakuan dari
pengalaman orang percaya bahwa masa hidup manusia dibawah kolong langit ini
singkat dan pasti lenyap. Sebab perhitungan angka-angka usia manusia sangat
berbeda dari dari perhitungan angka usia menurut  Tuhan Allah. Perbandingannya terlalu amat
menyolok. Dalam hitungan manusia, jumlah angka  seratus 
tahun saja sudah banyak dan selalu dibangga-banggakan. Tapi perhitungan
menurut Allah, seribu tahun itu terlalu
sedikit bahkan tergolong singkat.
    Di dalam Mazmur 90 : 4 disebutkan bahwa,”sebab
di mata-Mu seribu tahun  sama seperti
hari kemarin apabila berlalu atau seperti giliran jaga di waktu malam
”. Seratus  tahun dalam hitungan manusia itu sudah banyak
dan selalu dibangggakan, tapi dihadapan Allah sama seperti sehari atau suatu
giliran jaga yang akan segera berlalu. Terlalu amat singkat. Dan akan segera
berlalu, melayang lenyap. Kalau begitu, pasti muncul  pertanyaan dalam pikiran kita,” mengapa Tuhan
menciptakan hidup manusia begitu singkat?. Apakah penciptaan manusia sebagai
makluk ciptaan termulai itu hanya sebuah mainan anak-anak bagi Allah? Diciptakan
untuk waktu yang singkat dan akan segera melayang lenyap ?”
     Ternyata pertanyaan seperti itu, adalah
pertanyaan yang sangat egois. Ternyata, Allah menciptakan manusia sebagai
makluk mulia dengan tujuan yang yang sangat mulia  menurut rencana-Nya. Allah menciptakan dan
menghadirkan manusia dalam kehidupannya di dunia ini, adalah supaya manusia
menjadi Duta Besar untuk mengerjakan kepentingan Kerajaan Allah dan
menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah di dalam dunia. Sebagai Duta Besar
Kerajaan Allah, manusia diutus  dan hadir
di dunia ini, dan pada waktu yang ditentukan oleh Allah sendiri, Duta Besar
itu akan dipanggil pulang ke negerinya. Seorang Duta Besar tidak mungkin akan
tinggal selamanya di negeri asing, kecuali pencari suaka politik.
     Nilai kehadiran seorang Duta Besar di
negeri asing bukan ditentukan oleh lamanya ia menetap di negeri asing tempat
tugasnya, tetapi ditentukan oleh keberhasilan menjalankan misi negaranya dalam
jangka waktu yang ditetapkan oleh negaranya. Dan ketika masa tugasnya berakhir, Duta Besar itu dipanggil pulang sambil menerima penghargaan atas prestasi
misinya sebagai Duta Negara.
      Dalam Alkitab, kehadiran orang percaya
di dunia ini adalah sebagai Duta Kerajaan Allah dengan tugas misi yang mulia .”
Tetapi
kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umata
kepunyaan Allah sendiri, untuk memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar
dari Dia,  yang besar telah memanggil
kamu keluar dari kegelapan kepada terangnya yang ajaib”: 1 Petr.2:9
.
     Kesempatan
merayakan Ulang Tahun dalam momentum untuk bersukacita dalam kesukaan Tuhan.
Bukan untuk sekedar berpesta pora bersama keluarga dan kenalan. Maaf, saya
harus menggunakan istilah
“berpesta pora” sebab sering ibadah syukur hanya
sebuah acara pendahuluan dengan durasi waktu yang singkat. Tetapi acara lanjutan
dengan durasi waktu yang lebih dari waktu ibadah itu diisi bukan dengan doa
dan syukur tapi acara-acara untuk memuaskan keinginan yang bahkan sering
mencemari nilai ibadah kita ( Sebuah contoh : pengalaman pelayanan di
Baumata beberapa waktu yang lalu)
.
     Perayaan Ibadah Ulang Tahun adalah  kesempatan untuk bersyukur atas kesempatan
beraktifitas diantara waktu titik kelahiran dan titik kematian sambil mengevaluasi reflektif terhadap tugas misioner
kita sebagai Duta Kerajaan Allah di bumi ini, mengingat masa hidup kita
sebagai sebuah kesempatan yang sangat singkat. Kita harus selalu memaknai
Perayaan hari Ulang tahun sebagai sebuah peristiwa syukur untuk berefleksi
terhadap kesempatan singkat dalam hidup yang akan segera melayang lenyap.
     Ternyata, bila kita merayakan Ulang Tahun, kita harus semakin waspada, karena “Dari titik kelahiran, berulang tahun
selalu dimaknai sebagai usia kita telah bertambah setahun lagi. Tapi dari titik
kematian, berulang tahun harus selalu dimaknai sebagai usia kita telah
berkurang setahun lagi, karena perjalanan manusia selalu melangkah maju,
bukan mundur ke belakang”.
Dari
titik kelahiran, hari ini bapak Bolla bertambah usia setahun lagi ,menjadi :
37
tahun ,
444
bulan,
13.320
hari,
319.690
jam,
19.180.800
menit,
1.150.848.000
detik.
Tapi
dari titik kematian, hari ini berkurang usia setahun lagi, tidak tahu
tinggal berapa tahun lagi. Ada orang bijak yang berkata, bahwa
“pada
waktu kita terlahir, SK. Akhir sudah 
ditetapkan, hanya belum ditandatangani”.
Ketika tanda tangan
di bubuhkan, maka Pemazmur berkata, ”Engkau menghanyutkan manusia; mereka  seperti mimpi, seperti  rumput yang bertumbuh,
di waktu pagi  berkembang dan bertumbuh,
diwaktu petang lisut dan layu”.
      Menghadapi hari-hari hidup manusia yang
singkat, Pemazmur memberikan  nasehat
bijak agar setiap orang memohon hati yang bijak dengan menghitung hari-hari
kehidupan yang singkat. Mazmur 90:12 berkata, ”Ajarlah kami mengitung hari-hari
kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana”. Dalam Alkitab
terjemahan BIS, dikatakan,”Sadarkanlah kami akan singkatnya hidup ini,
supaya kami menjadi orang yang berbudi”.
Memiliki hati yang bijaksana atau menjadi orang yang berbudi, berarti  “tidak mengikuti norma-norma dunia ini.  Memberi kesempatan kepada Allah untuk 
membuat pribadi kita menjadi baru, dan dengan demikian manusia sanggup
mengetahui kemauan Allah, yaitu apa yang baik dan yang menyenangkan hati Allah
dan yang sempurna“: Roma 12:2 ( BIS ).
     Saudara dan saudari yang kekasih…
seringkali manusia mau hidup menyenangkan hati Allah tapi nanti dulu. Kita
mau meninggalkan cara-cara dunia, tapi nanti dulu. Kita mau melayani
Tuhan, tapi nanti dulu. Kita lupa bahwa, kepada kita hanya diberikan dua hari
dalam hidup yang terbatas dan singkat ini, yaitu
“hari ini” dan “hari bertemu Tuhan”. “Hari ini”, adalah
waktu untuk mempersembahkan hidup yang melayani kehendak Tuhan

dan “hari
bertemu dengan Tuhan”
adalah
hari terakhir kita
berdiri dihadapan pengadilan Allah untuk mempertanggung-jawabkan  karunia-karunia dalam menjalankan semua
talenta yang kita terima dari Tuhan
.
     Dengan menunda-nunda waktu melayani
kehendak Tuhan, maka persembahan hidup kita kepada Tuhan hanya ibarat
memberikan seikat bunga yang layu kepada sang kekasih.  Sebuah cerita ilustrasi singkat ,”Seikat Mawar Yang Layu
Ada
seorang bapak yang dirawat di rumah sakit karena menderita sakit tumor ganas
akibat mengkonsumsi alkohol dikunjungi oleh Pendetanya. Sewaktu berkunjung, pak Pendeta
menyerahkan seikat mawar merah yang sudah layu sehingga membuat anggota jemaat
yang sakit ini agak terheran.  Bapak ini
sangat senang sebab ketika sakit, ia dikunjungi oleh Pendeta dari Gerejanya. Lama
bercerita, si bapak ini bercerita banyak tentang penyakitnya yang sudah sangat
kronis, tetapi berharap ada mujizat Tuhan bagi kesembuhannya. Dia berharap
Tuhan bisa menyembuhkan penyakitnya yang kronis dan berjanji bahwa dia akan berhenti
dari kebiasaan-kebiasaan dosanya dan mau mempersembahkan hidupnya untuk
melayani Tuhan melalui gereja-Nya. Sebelum berdoa, pendeta bertanya kepada si
bapak ini,”Jadi engkau berjanji untuk bertobat dan mau melayani Tuhan melalui
gereja-Nya? Baiklah. kita akan berdoa. Dengan sangat bersemangat Pendeta
berdoa  dan menyampaikan kepada Tuhan
rencana si bapak ini untuk melayani Tuhan kalau Tuhan menyembuhkan dia.
     Berhubung waktu berkunjung yang sudah  selesai, pak Pendeta pamit untuk
meninggalkan rumah sakit. Sebelum beranjak meninggalkan rumah sakit, sambil
memegang tangan Pendeta si bapak itu berkata, ”
pak pendeta, bolehkah
saya bertanya, mengapa bapak pendeta membawakan saya seikat mawar yang sudah
layu, tidak seperti dibawakan oleh warga di rayon kita?”
Lama berdiam diri, lalu pak
Pendeta berkata: pak, bolehkah saya
berterus terang sekarang, mengapa saya membawakan seikat mawar yang sudah
layu? Silahkan pak Pendeta, berterus teranglah. Jangan ada rahasia diantara
kita. Saya ini kan jemaat bapak tho.
      Pak pendeta dengan berat hati lalu
berkata,
·        
”Pak,
masih ingatkah ketika berumur 17 tahun dan ibu Pendeta meminta kesediaanmu
untuk membimbing kelompok remaja di gereja kita, dan bapak menolak dengan alasan
masih sibuk kuliah?
·        
Masih
ingatkah ketika bapak berumur 22 tahun dan saya memintamu bergabung untuk
menjadi pembimbing kelompok PA Pemuda  karena
Ketua kelompok PA Pemuda studi lanju keluar daerah dan bapak menolak dengan
alasan sementara menyelesaikan skripsi?
·        
Masih
ingatkah bapak ketika berumur 40 tahun dan engkau menolak tawaran bergabung
dalam Kelompok Tumbuh Bersama Kaum Bapak dengan alasan sibuk dengan tugas
kantormu?
·        
Masih
ingatkah bapak ketika berusia 58 tahun 
dan menolak permintaan untuk bergabung dalam pelayanan presbiter di
gereja, dengan alasan mau membangun ekonomi keluarga karena baru memasuki masa
pensiun?
·        
Sekarang
bapak sudah berusia 70 tahun, tubuhmu digerogoti tumor ganas sehingga fisikmu
sangat lemah, baru engkau mau mempersembahkan hidupmu untuk melayani Tuhan.
Apakah bapak berpikir bahwa Tuhan itu pemulung yang pantas menerima  barang rongsokan dan sampah kehidupan? Dimanakah
bapak ketika berusia 17 tahun, 22 tahun, 40 tahun dan 58  tahun. Dimanakah engkau ketika masih kuat dan
sekarang baru mau menyerahkan hidup kepada Tuhan ketika sudah tua dan tulang
dibungkus kulit keriput, dan kekuatanmu tinggal sisa digerogoti tumor ganas?
Apakah Tuhan pantas menerima rongsokan hidupmu yang sudah layu ini? Selamat
tinggal, semoga cepat sembuh. Nikmatilah sisa hidupmu yang bagaikan mawar yang
sudah layu ini!.
       Jadilah bijaksana dan
persembahkan hidup yang sukses,keluarga yang bahagia dan tenaga yang yang masih
kuat ini untuk memuliakan Tuhan.

Amin

KOMENTAR ANDA

BACA JUGA:   Pesan Natal PGI dan KWI Tahun 2019