Majalah Suara Harapan.Com. Berpisah dengan orang yang kita kasihi dan yang mengasihi kita adalah pengalaman yang berat. Apalagi kalau perpisahan itu terjadi untuk waktu yang lama dan tidak kita ketahui ujungnya. Inilah juga perasaan para murid Yesus. Masa-masa pelayanan dan kehidupan duniawai Yesus Kristus sudah akan segera berakhir. Sedikit waktu lagi Yesus akan pergi kepada sang Bapa untuk memberi pertanggung-jawaban atas semua pekerjaanNya.

Pulang kepada Bapa adalah pengalaman yang menyenangkan bagi Yesus, sang Anak. Tapi itu berarti Yesus akan meninggalkan murid-muridNya. Murid-murid merasa ditingalkan seperti yatim piatu. Mereka pasti kehilangan Yesus. Ada banyak kesulitan, tantangan dan pencobaan yang harus mereka hadapi sendiri. Itu akan menjadi lebih berat jika Tuhan tidak bersama mereka. Menjadi pengikut Kristus tanpa kehadiran Kristus secara fisik merupakan suatu ujian yang berat bagi murid-murid.

            Bagian ini merupakan salah satu pidato Yesus sebelum ia berpisah dengan murid-muridNya. Yesus coba menjelaskan kepada mereka manfaat kepergiannya. Salah satu manfaat itu ialah bahwa Roh kebenaran akan datang kepada mereka untuk menjadi penghibur mereka selama Yesus tidak bersama-sama dengan mereka secara fisik. Artinya, Yesus tidak akan membiarkan para pengikutNya sendirian dalam pergumulan hidup mereka.

            Yesus akan pergi, tetapi Ia tidak meninggalkan mereka sebagai yatim-piatu. Ini memang hal yang paradoks. Kalau seorang pergi dari rumah, maka sudah tentu dia tidak lagi ada secara fisik di rumah. Tetapi Yesus tidak begitu. Ia pergi kepada Bapa, tetapi Ia tetap ada bersama murid-murid. Bagaimana itu bisa kita pahami.

BACA JUGA:   Tahun 2020: Mencari Cara Melampaui Demokrasi Iliberal

            Yesus pergi. Tetapi Dia tetap ada bersama murid-murid sampai kesudahan alam (Mat. 28:20). Kehadiran bersama murid-murid itu terjadi di dalam Roh Kudus. Roh itu ada bersama mereka untuk menguatkan murid-murid dalam perjuangan dan pergumulan mereka. Yesus akan datang kembali kepada mereka dalam wujud seorang penolong yang lain.

Kata Yunani yang dipakai di sini adalah parakletos. Ada macam-macam terjemahan untuk kata yang sulit ini. Alkitab Authorized Version menterjemahkannya dengan penghibur. Terjemahan ini memang dapat dipahami, tetapi tetap saja bukan merupakan terjemahan yang tepat. Mofatt memilih untuk mengartikan kata itu dengan penolong. Itupun dinilai bukan terjemahan yang pas.

            Terjemahan yang agak mendekati kebenaran diusulkan oleh William Barclay, yakni seorang yang dipanggil datang. Arti terdalam dari hal ini tidak terletak pada soal bahwa Roh Kudus mau datang, tetapi pada mengapa dan untuk apa Roh Kudus dipanggil datang. Parakletos bisa berarti seorang yang dipanggil datang karena si pemanggil harus memberikan kesaksian di pengadilan untuk kepentingan terdakwa.

Banyak pengikut Kristus yang akan dibawa ke pengadilan. Mereka harus memberi kesaksian akan Kristus. Mereka ada dalam posisi terdakwa. Roh Kudus dipanggil untuk datang agar menolong para saksi Kristus. Ia mungkin dipanggil datang karena si pemanggil sedang patah semangat, serta terperangkap dalam kesedihan dan putus-asa. Ia dipanggil datang karena manusia tidak dapat memahami kebenaran dan memberlakukan kasih dari kemampuannya sendiri. Ya, kita memanggil dia waktu hendak membaca Alkitab, ketika akan menjalankan tugas baru sebagai ini dan itu dalam keluarga, masyarakat, dan gereja.

BACA JUGA:   Refleksi COVID-19, "Krisis, Iman, dan Kasih Allah"

            Ada banyak alasan Roh Kudus dipanggil datang oleh manusia. Kita tidak dapat mengatakan alasan-alasan itu satu persatu di sini, sebab alasan-alasan itu sangat beragam dan pribadi. Yang jelas Roh Kudus selalu siap untuk dipanggil datang dan menolong manusia kapan saja dan dalam keadaan apa saja.

Jelasnya, Roh Kudus tidak akan memaksakan diri untuk memasuki hati manusia. Dia menunggu kapan dipanggil. Dia sabar menanti untuk diterima manusia. Ia selalu siap sedia di pintu hati, di ambang rumah dan di pelataran ruang kerja kita. Ia baru akan masuk dan menolong kita bila kita mengundang Dia masuk.

Arti ini jatuh sama dengan penegasan Yesus kepada murid-murid dalam Kisah Para Rasul 1:8. “Kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu.” Kata yang dipakai untuk kuasa di situ adalah dunamis, daya kreatif dan inovatif, bukan eksosia, yang lebih berkonotasi force ataudaya yang menaklukan atau memaksa.

            Adalah penting kita mengundang Roh Kudus itu mendiami hati kita dan terus menerus berjaga-jaga dengan roh kita. Perbedaan antara orang-orang yang hidupnya dipimpin oleh Roh kelihatan sekali dengan orang-orang yang hidup menurut daging. Paulus banyak menyebut hal itu dalam surat-suratnya.

BACA JUGA:   Hidup itu Bermakna

            Roh Kudus adalah dia yang dipanggil untuk datang. Ia datang untuk menolong dan menguatkan kita. Ia juga akan membimbing kita keluar dari keadaan yang mencekam untuk memiliki hidup baru. Janji itu Tuhan siapkan bagi semua orang. Tetapi pertama-tama bagi orang-orang yang hidup dalam persoalan yang mencekam. Ada persoalan dalam keluarga. Ada kesulitan yang anda hadapi di tempat kerja. Anak-anak di rumah terperangkap dalam satu gaya hidup yang membuat orang tua dan tetangga binggung. Suami jarang pulang rumah. Istri berubah hati dan sikap kepada suami dan keluarga.

Persoalan-persoalan ini membuat hati kita gelap, pikiran menjadi kacau dan kota di mana kita hidup syarat dengan berbagai kejahatan. Kehidupan dalam masyarakat seolah-olah tidak berarti dan kosong. Ada yang bunuh diri, yang lain larut dalam kelakuan-kelakuan yang merusak. Korupsi meraja-lela di mana-mana.

Kita ingin keluar dari persoalan-persoalan itu. Tetapi kita tidak mampu dan tidak tahu jalan keluar dari situ. Jangan cemas dan takut. Tidak perlu buat hal yang berat dan besar. Anda cukup duduk dan lipat tangan lalu memanggil Roh Kudus untuk datang menolong anda.

            Tuhan juga sudah menyiapkan penolong itu untuk datang kalau dipanggil. Tuhan menjanjikan itu bagi murid-murid dan pengikutNya. Tuhan siapkan Roh Kudus bagi dunia. Ajaklah Roh Kudus bekerja bersama-sama dan melalui roh kita. Roh kita yang lemah dan terbatas Dia akan menguatkan dan memberi kuasa agar kita menjadi saksi. Karena itu orang percaya perlu selalu memanggil Roh Kudus datang ke dalam hidup dan hati mereka.*

Penulis: Dr. Ebenhaizer I Nuban Timo

KOMENTAR ANDA