AdvetorialINSPIRASIROHANI

Simson dan Delila 1

, Simson dan Delila 1, Majalah Suara Harapan, Majalah Suara Harapan
Foto/google 
Orang jatuh cinta memang buta. Benarkah demikian? Atau…. mungkin lebih tepatnya banyak orang yang dibutakan oleh keinginan dirinya sendiri sehingga berpikir apa yang dia rasakan itu cinta padahal bukan. Itulah yang terjadi pada Simson di dalam relasinya dengan Delila.
Di Hakim-hakim 16:4 dicatat “Simson jatuh cinta kepada seorang perempuan dari lembah Sorek yang namanya Delila.” Alkitab seperti biasa tidak mencatat panjang lebar tentang Delila, sehingga kita hanya bisa mengetahui karakter dan pemikiran Delila dari apa yang ia lakukan atau ucapkan. Ucapan pertama yang keluar dari mulut Delila, setidaknya kita tahu wanita macam apakah Delila ini, “Ceritakanlah kiranya kepadaku, karena apakah kekuatanmu demikian besar, dan dengan apakah engkau harus diikat untuk ditundukkan?” Pertanyaan pertama memang pertanyaan yang wajar, karena semua orang memang terkagum-kagum akan kekuatan super Simson yang seperti superhero Hulk yang sanggup memukul mati 1.000 orang musuh hanya dengan rahang keledai. Namun pertanyaan kedua itu sangat sangat tidak lazim. Itu pertanyaan yang meminta rahasia terdalam seseorang dibongkar, sama tidak lazimnya jika seorang maling bertanya dengan sopan, “Apa pin ATM-mu?” atau “Apa kode no. sandi brankasmu?”
Yang lebih tidak lazim adalah akhirnya setelah beberapa kali Delila menipu Simson, akhirnya Simson benar-benar memberi tahu “kode rahasia”-nya kepada musuh dalam selimut ini, yang memang waktu itu mungkin benar-benar di dalam selimut yang hangat. Namun pertanyaan selanjutnya, kenapa Simson terlibat dan melanjutkan hubungan yang berbahaya tersebut?
Ada dua penjelasan yang akan dibahas dalam dua artikel. Artikel pertama ini hanya membahas penjelasan pertama. Simson terlibat dalam hubungan berbahaya ini bisa dijelaskan dengan sifat-sifat kecanduan. Dia sangat sadar apa yang ia lakukan. Orang yang kecanduan tahu dia di dalam bahaya, tetapi setiap kali dia masuk ke dalam bahaya ini, kondisi ini memberikan perasaan “high”, semacam kepuasan besar ketika melewati bahaya tersebut. Sehingga orang yang kecanduan narkoba misalnya akan terus mencoba dosis yang makin tinggi untuk mencapai kondisi “high” ini. Atau juga orang yang terus mencari tantangan yang lebih lagi, misalnya naik tebing tanpa pengaman, makin bahaya makin besar “reward” kepuasan yang didapat ketika mampu melewatinya. Karena itu, kita dapat membaca bagaimana Simson makin lama makin berbahaya, awalnya diikat oleh tali yang dengan mudah diputuskannya sampai kemudian rambutnya ditenun dan akhirnya dicukur.
Dia terus terlibat dengan Delila bukan karena benar-benar ia cinta kepada Delila, sama seperti seorang cinta kepada narkoba. Pecandu narkoba mencintai narkoba karena narkoba dapat memberikan kenikmatan pribadi. Sangat mungkin, Simson berpikir dia jatuh cinta kepada Delila, tetapi yang sebenarnya bukan cinta. Simson berpikir dia makin cinta ketika ia makin “mengorbankan dirinya”, makin dalam kecanduan dirinya. Kita juga tidak kebal, kita mungkin sekali juga demikian. Mari kita merenung, mungkinkah kita juga dibutakan oleh kecanduan kita?*  Buletin Pillar

KOMENTAR ANDA

BACA JUGA:   Ratusan Siswa SD Negeri Dendeng Dapat Sumbangan Seragam
Tags
Baca Selengkapnya
Back to top button
error: Content is protected !!
Close
Close