Mendengar panggilan Tuhan artinya harus selalu menjadi manusia baru. Orang Kristen tidak boleh terus berkata: “Aku masih seperti yang dulu…” Ia haruslah selalu berucap: “Lain dulu lain sekarang, kini kuhidup di dalam Tuhan…” Orang Kristen harus selalu siap untuk berubah, tetapi bukan berubah-ubah. 

Kejadian 12: 1-9

Seorang magister teologi mengajar di kelas katekesasi. Ini terjadi di negeri Belanda. Para katekumenat sudah berkumpul untuk mendengar pengajaran sang pastor. Dengan penuh keyakinan si pastor mulai dengan membaca bagian yang kita baca. Abram dipanggil Allah. Abram tinggal di Haran bersama ayahnya, dua orang saudaranya serta keluarga dan sanak famili. Persaudaraan mereka sangat akrab. Jika seorang mengalami sukacita seisi kampung ikut membagi sukacita. Dan kalau satu orang mengalami duka atau kemalangan seluruh anggota keluarga datang untuk berbagi duka. Keluarga Terah di kampung Haran jadi komunitas eksemplaris. Abram enjoy tinggal di rumah ayahnya. Dia tidak ingin pergi dari situ.

Tetapi rancangan Allah tidak sama dengan rancangan manusia. Allah tidak mau Abram tetap tinggal di Haran. Abram harus pergi dari situ. Maka berfirmanlah Allah kepada Abram. Baru saja, sang pendeta hendak menjelaskan apa yang Allah katakan kepada Abram, seorang peserta katekesasi mengangkat jarinya ke atas dan berkata: “Apakah Allah masih berbicara dengan manusia pada saat sekarang ini?”

Si pendeta terkejut. Jawaban apa yang harus dia berikan? Dia berhadapan dengan dua opsi. Jika ia mengatakan, Allah tidak berbicara lagi dengan manusia pada masa kini, maka bagaimana mungkin orang percaya bahwa Allah dulu berbicara dengan Abram? Sebaliknya, kalau dia menjawab ya, maka akan muncul pertanyaan, kapan dan di mana serta bagaimana kita bisa mendengar suara Allah?

Si magister binggung. Dia ingin meneruskan bacaan tadi, yakni membaca isi firman Tuhan kepada Abram, tetapi pertanyaan peserta katekesasi menggoda dia: “Apakah Allah masih berbicara dengan manusia pada saat sekarang ini?” Masih bisakan kita mendengar suara Allah pada masa kini?

Seorang vikaris (sedang dalam persiapan untuk menjadi pendeta) bercerita pada saya mengenai masa-masa sulit ketika ia pertama kali tiba di jemaat tempat dia ditempatkan. Ia sudah memutuskan untuk berhenti. Lebih baik pulang ke rumah orang tuanya, dari pada bersusah-susah tinggal di daerah yang terpencil itu. Semua persiapan yang perlu sudah dia buat. Barang-barangnya sudah dikemas. Hanya satu yang belum dia buat, yaitu berdoa. Lalu ia berdoa. Sambil menangis ia berbicara kepada Tuhan. Selesai berdoa, ia menghampiri barang-barangnya. Tetapi bukan untuk berangkat. Tidak. Ia membuka tas pakaiannya dan menyimpan semua itu kembali dalam lemari. Ia membatalkan niatnya.

Vikaris itu berkata kepada saya: “Waktu saya masuk dalam saat yang teduh itu, dalam kesunyian itu ada sebuah suara. Suara itu baru saya dengar waktu saya berhenti bersuara. Suara itu memanggil saya, membuat saya berdiri dan menunjukkan kepada saya jalan yang harus saya tempuh. Saat teduh itu membuat hati saya teduh. Saya mendengar suara itu. Saya putuskan untuk mengikuti jalan yang ditunjukkanNya.”

Vikaris tadi mendengar satu suara. Kita juga bisa mendengar suara seperti itu, kalau kita masuk dalam saat teduh. Doa adalah suasana teduh itu. Kidung Jemaat 454 mengatakan:

Indahnya saat yang teduh, menghadap tahta Bapaku

Kunaikan doa padaNya, sehingga hatiku lega

Di waktu bimbang dan cemas, jiwaku aman dan segar

Kubebas dari seteru di dalam saat yang teduh

            Doa adalah kesempatan kita berbicara dengan Tuhan. Ia bukan sekedar saat kita berbicara kepada Tuhan. Dalam berdoa, harus ada waktu di mana kita berbicara. Tetapi perlu juga ada ketika di mana kita diam dan membiarkan Allah berbicara kepada kita. Itu sebabnya doa harus menjadi saat yang teduh. Sayangnya, seringkali kita menjadikan doa begitu rupa sehingga berubah menjadi saat yang sangat bising.

Orang Israel percaya bahwa ada satu suara. Suara itu ada sejak kekal. Suara itu berbicara kepada mereka dari tengah-tengah kesunyian. Suara itu yang membuat langit dan bumi ada. Suara itulah yang memungkinkan kehidupan menjadi bermakna. Ya, kalau manusia sudah kehabisan kata-kata dan hanya bisa diam, membisu, maka ada suara yang bisa didengar. Suara Allah hanya terdengar kalau kita tidak punya suara lagi, atau kalau kita berhenti untuk bersuara.

            Berfirmanlah Allah kepada Abram. Abram mendengar suara itu: “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukan kepadamu. Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat.”

Abram pergi dari Haran. Itu adalah tempat yang aman dan nyaman. Ia simbol kemapaman dan status quo. Segala sesuatu tersedia bagi Abram. Enak mempertahankan status quo. Allah berfirman: “Pergilah dari negerimu…” Keluarlah dari kemapanan dan status quo yang ada. Mempertahankan status quo bukan tanda dari kehidupan yang dipanggil Allah. Allah memanggil kita untuk berubah, memiliki hidup yang diperbaharui, dilahirkan kembali.

“Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan Tuhan kepadanya.” Abram tidak tahu ke mana ia disuruh pergi. Abram tiba di Kanaan. Inilah negeri perjanjian itu. Abram segera menetap di Sikhem dan membuat mesbah di dekat pohon terbantin di More. Abram sudah sampai di tujuan.

Tetapi, ada kelaparan di negeri itu? Tidak mungkin. Kanaan pasti bukan negeri yang dimaksud Tuhan Allah. Tidak mungkin Allah membawa Abram tempat seperti itu. Karena Abram pergi lebih jauh lagi. Dia terus ke Mesir. Melihat kesuburan dan kenyamanan hidup di tempat itu, Abram berpikir: Ini pasti dia, negeri yang dimaksud Allah untuk dirinya. Abram membuat strategi untuk menetap di situ. Dia mengambil hati Firaun dengan memberikan istrinya, Sarai.

Abram keliru. Negeri yang Allah janjikan bukan Mesir, meskipun tanah itu subur. Kanaan adalah negeri yang dijanjikan itu. Ini sangat ironis. Kanaan sudah didiami. Ia juga terkenal sebagai negeri yang sering dilanda bencana. Abram harus membongkar lagi kemahnya. Ia kembali ke Kanaan.

Tidak gampang hidup di jalan Allah. Kanaan, negeri yang ditujukan Tuhan adalah tempat yang penuh dengan kesulitan. Hidup bersama Tuhan ternyata bukan hidup yang penuh hura-hura. Tuhan tidak menjanjikan kita jalan yang serba mudah. Ia justru menjamin bahwa bagaimanapun juga kita akan selamat sampai tujuan. Krisis adalah jalan menuju kepada pemurnian iman.

            Cerita tentang panggilan Abram adalah kisah seorang yang selalu ada dalam perjalanan. Abram adalah seorang penggembara. Juga di Kanaan, negeri yang ditunjukkan Tuhan kepadanya, Abram tetap ada sebagai seorang asing. Kitab Ibrani 11: 8-10 melukiskan keberadaan Abram selaku orang asing di Kanaan sebagai tanda dari kehidupan dalam iman. Hidup dalam iman membuat manusia terus berada dalam perjalanan. Abram berasal dari Haran. Tapi dia tidak boleh menetap di situ. Ia harus meninggalkan rumah orang tuanya, melepaskan hubungan dengan sanak-saudaranya. Ia harus pergi karena panggilan yang ia dengar.

            Mendengar panggilan Tuhan artinya harus selalu menjadi manusia baru. Orang Kristen tidak boleh terus berkata: “Aku masih seperti yang dulu…” Ia haruslah selalu berucap: “Lain dulu lain sekarang, kini kuhidup di dalam Tuhan…” Orang Kristen harus selalu siap untuk berubah, tetapi bukan berubah-ubah. 

            Cerita tentang Abram identik dengan kisah mengenai gereja. Gereja adalah ekklesia, orang-orang yang keluar dari kehidupan yang lama, berada dalam perjalanan ke kehidupan yang baru. Ada suara yang menyuruh mereka pergi. Coba matikan TV pagi. Maka bunyi lonceng gereja akan terdengar. Suara Tuhan baru kita dengar kalau semua suara lain kita kecilkan.

Yesus berkata: “Ikutlah aku.”

“Ke mana?”

“Ke Rumah Bapa.”

Tetapi selama berjalan ke sana, kita dihimpun menjadi satu umat yang bernama gereja. “Gereja adalah ibu dari orang-orang percaya,” kata Johanes Calvin. Gereja adalah mama. Kita baru diperkenankan masuk di Rumah Bapa jika sekarang kita berada di rumah mama, yakni gereja. Di rumah mama kita harus melatih diri dengan ABC yang berlaku di Rumah Bapa. ABC sang Bapa hanya bisa kita pelajari dari mama. Ini karena hanya mama yang tahu apa yang Bapa mau. Jadi waspadalah dengan mama-mama lain termasuk mama gaul yang bukan mama sungguhan.

            Abram mendengar panggilan itu. Dia memasang pelana keledainya. Abram berangkat.

“Engkau akan berangkat, Abram?”

“Ya. Saya akan pergi.”

“Ke mana?”

“Aku tak tahu. Nanti aku akan tahu.”

Inilah kehidupan Kristen. “Tersembunyi ujung jalan, hampir atau masih jauh. Kudibimbing tangan Tuhan, ke negri yang tak kutahu. Bapa ajar aku ikut, apa juga maksudmu. Tak bersangsi atau takut, beriman tetap teguh” (KJ. 416). Abram adalah orang pertama yang menjadi Kristen.

“Kapan kau akan kembali ke rumah.”

Tidak tahu. Saya pasti tidak akan kembali lagi.”

Tidak boleh kembali ke kehidupan lama. Ini juga satu tanda hidup yang dipanggil oleh Allah. Di Haran Abram menjadi buah bibir. Abram berangkat. Seluruh kampung geger. Ia memperlihatkan model hidup yang baru. Hidup karena mendengar panggilan. Orang di Haran lebih suka didengar. Abram justru belajar mendengar. Hidup karena mendengar adalah juga ciri kehidupan orang percaya.

Ada empat hal penting dalam berkomunikasi: membaca, menulis, berbicara, dan mendengar. Orang suka berkata bahwa manusia perlu belajar membaca, menulis, dan berbicara. Hal mendengar tidak perlu dipelajar. Ia akan terjadi otomartis. Tidak begitu dengan kehidupan di jalan Allah. Orang Israel menekankan pentingnya mendengar.

Musa berkata: “Syema Yisrael.” Dengarlah, Hai orang Israel (Ul. 6:4).

Yesus juga menyerukan: “Setiap orang yang mendengar perkataanKu ini dan melakukannya” (Mt 7:24).

Sikap mendengar adalah tanda dari kehidupan dalam Tuhan. Karena itu kita memang harus berhati-hati terhadap bahaya bahwa tembok-tembok mempunyai telinga. Tetapi ada bahaya lebih besar dari kehidupan dalam iman ialah apabila kita tidak siap untuk meruntuhkan tembok-tembok yang ada dalam telinga kita. Abram mendengar panggilan Tuhan. Ia tidak membangun tembok di dalam telinganya.

 Kisah Abram adalah juga kisah tentang para pejabat dalam gereja. Gereja hidup karena panggilannya. Jurgen Moltmann katakan: “Bukan gereja yang merumuskan misi yang harus dia kerjakannya. Misilah yang menentukan bagaimana gereja dan apa yang harus dia buat.” Para pendeta, penatua dan diaken bukanlah para penentu panggilan Tuhan. Panggilanlah yang menentukan apa yang pendeta, penatua dan diaken harus kerjakan. Menjadi diaken, penatua dan pendeta berarti menjadi orang-orang yang pergi, siap untuk jalan bertemu manusia-manusia. Gereja bukan bendungan keselamatan. Ia adalah saluran damai sejahtera. Para pejabat gereja harus selalu ada dalam perjalanan.

Abram mendengar panggilan Tuhan. Panggilan itu mewajibkan dia pergi dan menjadi berkat. Tetapi waktu Abram di Mesir Firaun mendapat celaka (Kej. 12:17). Mengapa? Karena di Mesir Abram licik. Dia menipu. Yusuf, cucu Abram. menjadi berkat bagi Mesir dan penduduknya. Yusuf jadi begitu karena ia tulus dan jujur.

Untuk menjadi berkat bagi sesama, kita perlu memiliki empat kartu As. Yang pertama, bekerja kerAS. Itu prinsip iman kristen: ora et labora, artinya berdoa dan bekerja keras. Tetapi banyak orang percaya tidak menjadi berkat karena mereka hanya berdoa keras, pakai bentak-bentak segala. Tetapi belum siap untuk bekerja keras.

Kartu As kedua adalah bekerja cerdAS. Artinya bekerja dengan akal, bukan sekedar sesuai adat. Akal menunjuk pada visi. Adat berhubungan dengan memori. Bekerja cerdas artinya kita menjadi rule makers bukan sekedar rule takers. Banyak berkat tidak bisa kita bagikan kepada sesama karena kita belum bekerja peras otak, tetapi mengandalkan adu otot.

Kartu As ketiga adalah bekerja tuntAS. Kita perlu menekuni satu pekerjaan sampai berhasil. Itu hanya bisa kalau kita melakukannya sepenuh hati, bukan dengan separuh hati. Akhirnya, kartu As keempat adalah bekerja iklAS. Kita patut melakukan pekerjaan kita seolah-olah untuk Tuhan, bukan untuk manusia (Kol. 3:23) maka Tuhan akan menentukan bagian kita sebagai upah.

Inilah nilai-nilai hidup yang ditunjukan Abram dan Yusuf. Itu sebabnya mereka menjadi berkat bagi sesama di mana mereka ada. Ya. Kalau kita melakukan pekerjaan-pekerjaan kita dengan mengingat kempat kartu As itu, kita bukan hanya akan menerima berkat, tetapi kita juga menjadi berkat bagi sesama.

Nilai ini terus terulang dalam hidup banyak diaken, penatua dan pendeta. Mereka pergi, banyak yang sudah jalan dari satu tempat ke tempat lain. Ada yang membawa berkat, tapi banyak juga yang bikin celaka. Silahkan tanya pada Tuhan mengapa terjadi begitu? Jawaban Tuhan hanya bisa didengar kalau kita berhenti bersuara. Amin.

“Abram, Pergilah dari negerimu,” (Kej. 12:1)

Cerita mengenai Abram dimulai dari Allah. Allah memanggil Abram untuk meninggalkan segala yang dimilikinya dan pergi ke negeri yang akan Allah tunjukkan kepadanya. Belum pernah ada orang waras yang berbuat seperti Abram. Tidak ada contoh hidup dari dari generasi sebelumnya. Abram tidak bisa meyakinkan orang lain dengan berkata: “Sebagaimana Dia sudah menuntun aku, Dia juga akan memimpin aku saat ini.” Meskipun begitu, Abram melakukannya. Abram pergi. Ia berjalan dalam iman.

Ketaatan pada panggilan Allah adalah bukti yang tidak bisa dibantah dari iman. Ketaatan seperti ini penuh dengan resiko. Tidak mudah bagi Abram untuk meninggalkan rumah dan keluarganya untuk pergi ke satu negeri yang asing, yang tidak dikenal sebelumnya.

Demikianlah yang akan selalu terjadi. Kita harus selalu siap untuk memikul salib kita setiap hari, jika kita hendak mengikuti Dia. Setiap langkah bisa saja merupakan altar di mana ego atau keakuan kita harus dikorbankan. Abram bertemu berulang-ulang kali dengan altar-altar seperti itu. Kadang ia dengan gilang-gemilang berhasil melepaskan egonya. Tetapi tidak jarang ia berdiri di hadapan altar itu sebagai orang yang terkulai dan tak berdaya.

Abram tidak tahu ke mana ia harus pergi. Bagi dia sudah cukup untuk mengetahui bahwa dia berjalan bersama Allah. Seseorang pernah berkata: Saya lebih suka melakukan perjalanan di malam hari dengan Allah, dari pada berjalan seorang diri selama hari siang.” Orang-orang seperti ini adalah sahabat Allah.

Doa: “Janganlah pernah meninggalkan aku berjalan seorang diri, ya Tuhan,” amin (ent).

http://radiosuaraharapan.com/

Komentar