Suatu kesempatan awal musim hujan  (10 Desember 2019) di Aula Fernandez, kantor gubernur Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT),  saya bertemu dengan Gubernur  Victor Bungutilu Laiskodat (VBL) dalam acara “Uji Publik Grand Design Pendidikan Provinsi NTT.” Berkesempatan berjabat tangan dengannya.  Tentu, dia tidak mengenal saya. Saya pun  merasa nyaman dan beruntung  dengan keadaan itu, sehingga saya lebih objektif memandang dan memaknai konser dirinya di atas panggung.

 Menjelang VBL datang, Aula Fernandez tersedot dalam susana agak horor, diperkuat hembusan bisikan, “VBL masuk.” Para peserta begitu tenang dalam ketegangan. Pikiran dan pengalaman peserta sepertinya terkoneksi dengan pengetahuan mereka  tentang Gubernur Victor Bungutilu Laiskodat yang sepintas dikenal keras, tegas, dan hem… bisa membentak siapa saja. Hanya angin semilir  menyapa tisu di atas meja peserta.  Saya sengaja mengambil tempat di salah satu pojok meja depan agar mudah menyaksikan konser (baca presentasi) diri VBL  di atas panggung,   baik secara verbal (bahasa, pilihan kata, frasa dan kalimat) maupun noverbal (gesture, ekspresi, dan seluruh gerik-gerik tubuh). Sebab, ketika sesorang duduk, apalagi sedang berdialog dengan orang lain, itu berarti pula, orang bersangkutan sedang menyerahkan diri kepada orang lain untuk dimaknai. Ada dua   hal yang didapatkan ketika seorang sedang berbicara kepada kita. Pertama, informasi atau pengetahuan yang disampikannya. Kedua, mendapatkan informasi tentang siapa dia (pembicara) sebenarnya. Semakin banyak ia berbicara, semakin banyak ia mengobralkan dirinya kepada kita, semakin terang-benderang pula identitas yang bersangkutan.

Saya mencoba mengamati dengan mazhab komunikasi semiotika, ilmu tentang tanda dan maknanya. Semiotika berusaha memahami makna di balik yang tampil. Dengan kata lain, segala sesuatu gelagat (tanda) yang berpotensi untuk dimaknai disebut sebagai komunikasi. Bahkan,  “diam” pun dipandang sebagai salah satu cara berkomunikasi. Saya berusaha mengamati cara jalan, kedipan mata, gesture, gaya duduk, cara bicara yang dalam ilmu semiotika sebagai  indeksialitas yang dapat menginformasikan  siapa itu VBL. Memasuki aula, Gubernur Laiskodat pukul 09.33 didampingi oleh beberapa orang yang diduga ajudan. Semua mata peserta menyerbuh Laiskodat yang berjalan cuek dan ugalan. Langkah kekar dan agak cepat. Ekspresi nirkata semacam ini sesungguhnya mengucapkan  pesan tentang  motivasi dan atau keinginan kuat  untuk meraih sesuatu. Duduk selama  41 menit, menunggu giliran berbicara,  ia tidak pernah tunduk, suatu sikap yang tak ingin menyerah terhadap keadaan. Tetapi kakinya kadang menghentak ringan mengirimkan makna,  ada sebagai pembicaraan yang disampaikan oleh orang yang sedang bicara di mimbar tidak disetujuinya. Setidaknya, ia mempunyai pandangan berbeda dengan orang yang sedang berbicara. Jari tangangnya menempel renggang di mulut dan hidung sebagai ekspresi yang berdialog dengan dirinya tentang banyak hal yang akan disampaikan atau tentang gagasan baru. Atau suatu isayarat agar si pembicara segera mengakhiri pembicaraannya.

BACA JUGA:   Program Nasional di NTT Harus Didukung

Giliran VBL berbicara. Belum selesai kalimat pembawa acara untuk mengucapkan terima kasih kepada pembicara sebelumnya, ia sudah bergegas menuju panggung, menginsyaratkan tak ingin membuang waktu, sekaligus menolak gaya normatif. Ia menuju mimbar sebelah kiri peserta, mengenakan sarung adat dan selendang tenunan asli NTT. Bicaranya tanpa teks, meledak-ledak, ekspresi wajah serasa menyerang, penampang matanya yang menjulur menyembunyikan tatapan yang intimidatif. Ia berkata, “pada tingkat pendidikan  dasar cukup dua mata pelajaran saja. Bahasa dan hitungan. Bahasa daerah dikembangkan, bahasa Indonesia dikuasai, bahasa Inggris juga dikuasi, dan mata pelajaran hitungan atau matematika. Itu sudah cukup.” Selama berbicara. ia jarang mengucapkan kata-kata yang dekoratif (berbunga). Selama berbicara di mimbar, tangannya sering diayunkan  tangan ke atas dan ke bawa. Jarang mengayunkan tangannya ke samping (kiri atau kanan). Isyarat nonverbal ini hendak mengucapkan sikap yang tegas dan komit  terhadap pilihan dengan tidak banyak mereken risiko.  Lengan kadang  merenggang di podium memperlihatkan kepercayaan diri yang tinggi (Navarro, 2014). Sesekali arah tangan seakan menunjuk. Inilah gerakan tangan yang paling ofensif. Gerakan ini secara universal berkonotasi negatif, memandang rendah dan menuding. Mengahkiri pembicaraan tanpa mengucakan kata-kata formal untuk membuka kegiatan tersebut. Terkesan tak ingin berbasa basi dengan hal-hal normatif. Tak lama kemudian, VBL meninggalkan aula dengan melakukan semacam selebrasi  kemanusiaan dengan menyalami semua orang yang duduk pada lingkaran depan. Senyum dengan tatapan bagai seorang pemain simfoni (lembut) menginformasikan, VBL orang yang mudah bergundah pula.

Fenomena gestural dan verbal yang serba sedikit ini memberikan semacam petunjuk (indeksialitas) tentang siapa Victor Bungutilu Laiskodat. Sebagai seorang gubernur, Victor Bungutilu Laiskodat adalah sebuah “teks hidup” yang setiap ucapan dan tindakannya adalah bacaan (teks) yang tak pernah redah diinterpretasi oleh masyarakat NTT. Dalam terminologi Edward Hall, Vicktor Laiskodat tergolong penganut budaya konteks rendah (low context culture). Orang-orang yang hidup dan dihidupkan dengan budaya ini cenderung terbuka, berani, terus-terang,  berkata apa adanya, lebih mementingkan pesan daripada cara menyampaikan pesan.  Ia tidak menampar dengan senyuman, atau menyiku dengan sindiran yang sakitnya baru terasa sepekan kemudian. Itulah yang menyebabkan sebagian masyarakat menilai atau nyeletuk, “VBL itu dikatator, sangar, kasar.  Bawahaan tunduk bukan karena patuh, melainkan karena takut.” Diakui, pada setiap pembacaan teks hidup (sosok seseorang) selalu muncul unsur-unsur yang melebihi tokoh itu sendiri. Dalam istilah Yunani disebut chora, untuk menyatakan ruang atau tempat digunakan untuk menandakan kedalaman tersembunyi kepribadian manusia. Laiskodat yang tampak kasar, sangar, ugalan, kata-katanya setajam mata bajak djusteru  paling mudah terenyuh dan paling mudah jatuh dalam kenyataan yang melodramatis atau sebaliknya memberikan motivasi kepada orang yang inovatif dan kreatif. 

BACA JUGA:   Program Kementerian Agama "Kita Cinta Papua" IAKN Kupang Mendapatkan 40 Calon Mahasiswa

Belaian VBL dengan Semboyan NTT Bangkit, NTT Sejahtera

Semboyan VBL,  “NTT Bangkit, NTT Sejahtera” adalah frasa yang mempunyai belahan makna. Pertama, semboyan itu mengindikasikan makna  bahwa rakyat NTT yang selama ini terlelap dalam hembusan angin takdir,  berbaring malas-malasan, dan teramat sentimentil  dengan keadaan alam (pasrah) sehingga memunculkan pemeo kepenjangan NTT sebagai Nanti Tuhan Tolong. Ia menginginkan rakyat NTT segera bangun (bangkit) sebelum matahari terbit, dan tak ingin berhenti bekerja sebelum matahari terbenam. Dengan kata lain, semboyan itu mengandung makna, VBL tak ingin sendirian untuk  bangkit dan bergerak memajukan masyarakat NTT. Bangkit, bekerja keras, bersinergitas, berintegritas adalah usaha-usaha harus  berujung pada kesejahteraan masyarakyat NTT. Jan Koum pencipta aplikasi WhatsApp yang akrab dengan semua orang. Ia sukses dan kekayaan menjadi unlimited  karena bersinergi dan berkolaborasi dengan perusahaan facebook. 

Kedua, tagline NTT Bangkit, NTT Sejahtera mengandung makna opotimisme. Optimisme mendorong pemerintah berusaha membanting setir dalam mengorientasikan pembangunan NTT. VBL mengubah pola orientasi  pembangunan yang selama ini berbasis ekonomi pertanian menjadi perekonomian berbasis sektor pariwisata. Ia memandang, di balik keadaan alam gersang dengan musim kemarau sepanjang sembilan bulan, tetapi sesungguhnya rakyat NTT mempunyai keunggulan yang luar biasa di bidang pariwsisata seperti atraksi budaya, keajaiban alam, gugusan pulau yang memamerkan keindahan yang mengagumkan dunia, tenun ikat yang eksotik yang kini mendunia.

 Tipikal kepemimpinan Laiskodat adalah bentukan pikiran seorang  entrepreneur  yang selalu membaca tantang sebagai peluang, dan kerja keras adalah bagian dari kebajikan hidup. Kerajinan dan kecerdasan membaca peluang yang memungkin orang berinovasi dan berkreasi. Bagi seorang entrepreneur, kekayaan bukan pada tumpukan rupaih di bank, tetapi bagaimana pola pikir yang iniovatif dan kreatif mengubah tantangan menjadi jalan menuju kesuksesan. Semangat semacam itu yang dimiliki VBL berkomitmen dan mampu melawan risiko. Kadang, berbenturan dengan regulasi normatif yang dipandangnya justeru menghambat.

BACA JUGA:   Gub NTT Mengajak Masyarakat Flobamorata Aktif Dalam Sensus Penduduk Online 2020

Ayat-ayat sejarah perjuangan hidup Laiskodat adalah bagian dari epos  sukses anak jalanan yang berpikir out the box hingga menjadi pengusaha sangat sukses dan kemudian ia kembali ke rumah (NTT) menjadi Pak Gubernur. Karena itu,  VBL tidak lebay menyampaikan gaggasan dengan gaya alegori (kisah perumpamaan) yang kadang menyekap  akal pragmatis yang  terkesan gombal. Ia sering memlih diksi setajam kuku elang yang mencubit rasa  kemanusiaan seperti namkak, bahasa Dawan dialek So’e (tengangah bodoh dalam bahasa Indonesia dialek Kupang), wisatawan miskin tidak boleh datang di NTT, saya ini profesor jahat, pata tangan, patah kaki, marah, membentak hingga  menyuruh squat jump. Kosa kata dan perilaku mudah dihubungkan dengan perilaku jalanan. Pilihan kata seperti itu lebih berfungsi sebagai shock terapy daripada sebuah argumentasi.

Bagi Laiskodat, NTT adalah rumah besar tempat ia membilang nasib dan kehidupan. Ia pergi dari dan kembali ke rumah ini. Karena itu, jika ia kelihatan tegas, kasar, tidak mau tahu, dan diksi yang kasar sesungguhnya adalah cara khas mengucapkan cintanya  terhadap  rakyat NTT. Ia tak rela menerima keadaan warga seisi rumah yang belum banyak berubah sejak ia berangkat ke “ibu kota” (Jakarta) untuk berusaha bertengkar dengan realitas yang sengit, tengik yang lebih keras dari “ibu tiri.” Ia pun pulang setelah mendefinisikann dirinya. Sebagai perantau yang sukses, ia tak igin jatuh dalam melakolisme masa lalu dan memandang indah kelelapan warga rumah. Gundukan gundah-gulana itulah yang terkadang diekspresikan secara vulgar, ugalan, dan sangar. Karena itu, di luar sana, berserakan opini, VBL hanya mentok diselebrasi, ia gagal fokus, belum berbuat apa-apa,  dan seterusnya. Toh, kritikan-kritikan sejenis semacam paling ia suka, bahkan  menjadi “per puluhan” baginya untuk menatap dan memantapkan langkah arah pembangunan.

Akhirnya, saya ingin  menyajikan sepotong alegori untuk mengecek zizak pikirian kita. Ada tiga piring makan di atas meja, piring pertama nasi hangat, piring kedua nasih dingin, piring ketiga nasi basi. Piring nasi mana Anda pilih? Jika ada memilih yang hangat, maka Anda berpikir normatif. Jika Anda meilih yang dingin, maka Anda termasuk orang yang menerima apa adanya. Jika Anda memilih piring ketiga (nasi basi), maka Anda mempunyai nalar out of the box. Sebab, hanya dengan berpikir out of the box Anda dapat mengubah nasi basi.  Meski  Anda pun diminta untuk menyisikan sebagai penalaran bahwa permintaan di atas hanya “memilih,” bukan memilih untuk dimakan. Selamat membaca, jangan pernah berhenti bertengkar dengan kenyataan.* Penulis: Marsel Robot (Dosen FKIP, Kepala Pusat Kebudayaan dan Pariwisata Undana)

KOMENTAR ANDA