Seorang perempuan melakukan pertunjukan melawan meningkatnya insiden kekerasan terhadap perempuan selama Hari Perempuan Internasional di Kathmandu, Nepal, hari Senin (8/3). (Foto: Reuters/Navesh Chitrakar)
Seorang perempuan melakukan pertunjukan melawan meningkatnya insiden kekerasan terhadap perempuan selama Hari Perempuan Internasional di Kathmandu, Nepal, hari Senin (8/3). (Foto: Reuters/Navesh Chitrakar)
“Sekitar 31 persen perempuan berusia 15-49, atau sekitar 852 juta perempuan di seluruh dunia, telah mengalami kekerasan fisik atau seksual, kata WHO dalam studi terbesar yang pernah ada, yang mencakup data dan survei

SUARA HARAPAN.COM- Hampir satu dari tiga perempuan di seluruh dunia menjadi sasaran kekerasan fisik atau seksual selama hidupnya, perilaku kriminal ini meluas selama pandemi virus corona, kata Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada hari Selasa (9/3).

Badan PBB tersebut mendesak pemerintah untuk mencegah kekerasan, meningkatkan layanan bagi para korban dan mengatasi ketidaksetaraan ekonomi yang seringkali membuat perempuan dan anak perempuan terjebak dalam hubungan yang melecehkan.

Anak laki-laki harus diajari di sekolah tentang perlunya saling menghormati dalam hubungan dan persetujuan bersama dalam seks, kata pejabat WHO.

“Kekerasan terhadap perempuan mewabah di setiap negara dan budaya, menyebabkan kerugian bagi jutaan perempuan dan keluarga mereka, dan telah diperburuk oleh pandemi COVID-19,” kata Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus.

Sekitar 31 persen perempuan berusia 15-49, atau sekitar 852 juta perempuan di seluruh dunia, telah mengalami kekerasan fisik atau seksual, kata WHO dalam studi terbesar yang pernah ada, yang mencakup data dan survei nasional dari 2000-2018.

Suami atau pasangan intim adalah pelaku yang paling umum dan jumlah korban yang tidak proporsional berada di negara-negara termiskin, katanya. Angka sebenarnya kemungkinan jauh lebih tinggi karena kurangnya pelaporan tentang pelecehan seksual, kejahatan yang sangat distigmatisasi.

“Angka-angka ini sangat mengejutkan dan benar-benar merupakan semacam seruan bagi pemerintah untuk berbuat lebih banyak lagi guna mencegah kekerasan ini,” kata penulis laporan itu, Claudia Garcia-Moreno.

Di beberapa wilayah, lebih dari setengah perempuan menghadapi kekerasan di beberapa titik, katanya kepada Reuters, mengutip Oseania, sub Sahara Afrika dan Asia Selatan.

Negara-negara dengan prevalensi tertinggi termasuk Kiribati, Fiji, Papua Nugini, Bangladesh, Republik Demokratik Kongo, dan Afghanistan, menurut data WHO itu.

Satu dari empat gadis remaja berusia 15-19 tahun yang telah menjalin hubungan telah mengalami kekerasan fisik atau seksual, kata Garcia-Moreno. “Ini adalah waktu yang sangat penting dan formatif dalam hidup. Dan kita tahu bahwa dampak dari kekerasan ini bisa bertahan lama dan dapat mempengaruhi kesehatan fisik dan mental serta menyebabkan kehamilan yang tidak diinginkan dan komplikasi lainnya,” katanya. (Reuters/SatuHarapan) 

Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here