Tema ini merupakan sebuah doa. CCA mengajak gereja-gereja di Asia untuk mendoakan keselamatan dunia ciptaanNya yang sedang terancam oleh COVID-19

JAKARTA,MSH.COM – Setiap tahun pada hari Minggu sebelum Pentakosta, gereja-gereja dan dewan gereja nasional yang tergabung dalam Christian Conference of Asia (CCA), yang dikenal dengan Dewan Gereja-gereja Asia, merayakan Asia Sunday.  Hal ini dilakukan sebagai bagian dari perayaan syukur ulang tahun CCA, sebuah persekutuan gereja-gereja di Asia yang berawal di Parapat, Sumatera Utara pada tahun 1957.  Sekarang keanggotaan CCA meliputi lebih 100 denominasi gereja  dan 15 dewan gereja nasional, seperti Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), yang tersebar di 20 negara atau wilayah di Asia, yakni: Korea, Jepang, Hong Kong, Taiwan, Filipina, Indonesia, Thailand, Laos, Kambodja, Myanmar, Timor Leste, Australia, New Zealand, India, Pakistan, Bangladesh, Sri Lanka, Nepal, Bhutan dan Iran.  Ada 31 gereja di Indonesia yang secara langsung menjadi anggota CCA di tambah dengan PGI sebagai representasi dari dewan atau persekutuan gereja asas nasional.  Gereja-gereja anggota PGI yang belum menjadi anggota CCA secara langsung, menjadi bagian dari persekutuan gereja-gereja di Asia ini lewat PGI.

BACA JUGA:   Wagub : Tanpa Digital Orang akan Tertinggal

Perayaan Asia Sunday 2020 jatuh pada tanggal 24 Mei 2020.  Sekjen CCA, Dr. Mathews Geroge Chunakara dari India mengajak semua gereja anggota CCA untuk merayakan Asia Sunday bersama-sama di bawah sorotan tema: “Ya Allah, Pulihkanlah Kami yang Rapuh.”  Tema ini merupakan sebuah doa. CCA mengajak gereja-gereja di Asia untuk mendoakan keselamatan dunia ciptaanNya yang sedang terancam oleh Virus Corona atau COVID-19.  Menurut Dr Chunakara, dengan merebaknya COVID-19 secara luas, menjadi peringatan bagi kita betapa rapuhnya kehidupan kita. Bahkan seluruh kosmos mengalami kerentanan.  Luasnya penyebaran COVID-19 dan berbagai dampaknya bagi banyak negara tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Yang jelas banyak warga dunia yang rentan.  Dalam waktu beberapa bulan sejak epidemi ini merebak pada akhir 2019, jumlah kasus meningkat luar biasa, bertambah terus dari hari ke hari.  Sekarang sudah 375,498 orang di 196 negara dan wilayah di dunia ini yang terkapar oleh virus yang ganas ini, dengan angka kematian yang mencapai 16,362 orang (WHO, 25 Maret 2020).

Tidak sedikit negara dan wilayah di Asia yang terdampak oleh COVID-19, terutama di China, Korea, Iran, tetapi juga di Vietnam, Filipina, Indonesia, Malaysia, Thailand, Singapura, India, Australia dan New Zealand.  Ledakan epidemi ini telah membuktikan bahwa penyakit-penyakit tersebut tidak hanya terbatas pada daerah-daerah miskin yang padat penduduknya. Negara-negara maju yang kaya pun tidak immun atau luput dari ancaman virus tersebut.  Standar hidup yang tinggi dan adanya sistim perlindungan kesehatan yang baik ternyata tidak dengan sendirinya memberi jaminan bahwa masyarakat dapat terbebas dari epidemi ini.

BACA JUGA:   Pimpinan Tuhan

Munculnya penyakit-penyakit baru dan penyebaran wabah yang ganas tidak terlepas dari  praktik-praktik dan tindakan-tindakan manusia yang mengeksploitasi planit dan merusak ciptaan Allah tanpa batas.  Kecepatan penyebaran virus yang luar biasa dan keterlambatan institusional dalam memberikan respons global membuktikan bahwa sistim perlindungan kesehatan yang canggih sekalipun belum siap untuk  meresponi kerusakan-kerusakan luar biasa yang ditimbulkan oleh penyebaran epidemi ini.

Situasi-situasi yang kritis yang sedang kita hadapi secara global saat ini, mengingatkan kita semua betapa ringkihnya kehidupan manusia dan bahkan seluruh kosmos!  Apalagi ketika kita abai merawat segenap ciptaan dan kehidupan anugerah Allah.  Dunia kita membutuhkan doa, pemulihan dan penyembuhan terutama di masa krisis ini.  Christian Conference of Asia mengajak gereja-gereja untuk merayakan Minggu Asia dalam keprihatinan dan doa: “Ya Allah, Pulihkanlah Kami yang Rapuh”.

BACA JUGA:   COVID-19 Menghancurkan Klaim Teologi Kemakmuran (Sukses)

Walau menurut tradisi Asia Sunday tahun ini jatuh pada tanggal 24 Mei 2020, namun gereja-gereja dapat menyesuaikan waktu pelaksanaannya sesuai dengan kalendernya.  Yang paling penting adalah semangat kebersamaan kita dalam mengatasi Covid-19, antara lain lewat doa dan ibadah kita serta langkah-langkah konkrit yang perlu dan harus kita lakukan bersama dengan semua komponen masyarakat untuk mengatasi virus ini demi kelanjutan kehidupan di planit ini.

Berikut ini kami muat bahan liturgi Minggu Asia 2020 yang disadur dari bahan yang dipersiapkan oleh CCA.  Dapat digunakan sebagai sebuah liturgi ibadah yang utuh, yang tentu terbuka untuk penyesuaian-penyesuaian di mana perlu. Atau bisa juga digunakan sebagai bahan yang terpisah, misalnya hanya menggunakan doa atau litani atau doa syafaat khususnya menyangkut keprihatian Covid-19.  Dalam semangat persaudaraan, marilah kita masing-masing melantunkan doa ini:  “Sembuhkanlah aku, ya Tuhan, maka aku akan sembuh; selamatkanlah aku, maka aku akan selamat, sebab Engkau lah kepujianku!” (Yermia 17:14).*

Bahan Liturgi Minggu Asia 2020 silahkan klik di PGI.OR.ID

 

KOMENTAR ANDA