Yesus Kristus memerintah, tak terbatas tak terhingga alam semesta sujud, dunia patut memaklumkan Yesus Kristus itu Tuhan, bangsa-bangsa bertelut
Yesus Kristus memerintah, tak terbatas tak terhingga alam semesta sujud, dunia patut memaklumkan Yesus Kristus itu Tuhan, bangsa-bangsa bertelut

MAJALAH SUARA HARAPAN –

Dr. Ebenhaizer I. Nuban Timo

“Lukas 24: 44-53”

Umat Kristen sedunia saat ini merayakan peringatakan kenaikan Tuhan.[1]  Yesus sudah naik ke sorga. Di berbagai tempat dan dalam aneka cara warga gereja bersekutu untuk memperingati makna peristiwa itu bagi imannya kepada Yesus.

Yesus naik ke sorga. Kita tetap berada di bumi. Alkitab berkata bahwa Yesus yang naik ke sorga itu, akan datang kembali. Tetapi kita tidak tahu untuk berapa lama Dia akan ada di sorga dan kapan Dia akan datang kembali.

Berpisah dengan orang yang kita kasihi dan yang mengasihi kita merupakan kejadian yang berat. Banyak orang yang tidak rela berpisah dari orang yang mereka kasihi. Tetapi murid-murid Yesus, sebagaimana yang kita baca dalam Lukas 24: 52 dan 53 tadi justru berbuat sebaliknya. Mereka tidak mengalami kesedihan itu, bahkan tidak menangis karena berpisah dengan Yesus. Dikatakan di situ bahwa mereka pulang ke Yerusalem dengan sangat bersukacita. Mereka justru senantiasa berada di Bait Allah dan memuliakan Allah.

Adalah hal yang biasa kalau orang menangis pada saat sebuah perpisahan. Orang-orang yang tidak akrab satu sama lain sekalipun juga diliputi rasa sedih menjelang saat-saat perpisahan. Yesus dan murid-muridNya memang hanya hidup bersama-sama selama kurang lebih 3 tahun. Pergaulan mereka selama itu sangat akrab dan hangat. Mereka benar-benar menjadi seperti kuku dengan daging. Tetapi murid-murid sama sekali tidak bersedih. Mereka justru bersukacita dan memuliakan Allah.

Mengapa begitu? Sikap murid-murid yang bertolak belakang dengan pengalaman kebanyakan orang pada saat perpisahan, rupanya berhubungan dengan alasan sebagaimana yang ditulis Lukas dalam pasal 24: 45 dalam bacaan tadi. Ayat ke-45 berbunyi begini: ”Lalu Ia (Yesus) membuka pikiran mereka (murid-murid) sehingga mereka mengerti Kitab Suci.”

Mengerti isi kitab suci adalah pengalaman yang membahagiakan. Itulah yang dikatakan Mazmur 1:1-2. ”Berbahagialah orang yang kesukaannya adalah Taurat Tuhan dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.”

BACA JUGA:   BUPATI KUPANG HADIRI PELETAKAN BATU PERTAMA DI JEMAAT PNIEL TEFNENO

Dua orang murid yang berjalan ke Emaus merasakan sukacita besar waktu Yesus menjumpai mereka di perjalanan dan menjelaskan isi kitab suci kepada mereka. Salah seorang dari mereka berkata: ”Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan kitab suci kepada kita?”

Murid-murid mengerti isi kita suci. Tentu saja pengertian itu juga bersangkut-paut dengan kepergian Yesus ke sorga. Isi kesaksian kitab suci tentang kenaikan ke sorga bukan berarti Yesus pergi meninggalkan mereka. Tidak! Ada dua pengertian baru yang selama ini tidak diketahui murid-murid.

Pertama, naik ke sorga berarti Yesus memenang pemerintahan. Dia bukan lagi manusia yang miskin, lemah, hina. dan tidak berdaya. Keadaan itu sudah berakhir. Sekarang Yesus justru menjadi tuan yang penuh kemuliaan dan kuasa. Kerajaan yang Ia pimpin itu adalah kekal dan kuasa yang diperolehNya bersifat tidak terbatas. Segala kuasa yang di sorga dan di bumi diserahkan sang Bapa kepadaNya (Mt. 28).

Kidung Jemaat 220 melukiskan hal itu dengan sangat jelas:

Yesus Kristus memerintah, tak terbatas tak terhingga

alam semesta sujud, dunia patut memaklumkan

Yesus Kristus itu Tuhan, bangsa-bangsa bertelut

Orang manakah yang tidak senang jika salah seorang kakak atau adik mereka berhasil memperoleh kedudukan atau jabatan yang tinggi dalam organisasi atau tempat bekerja? Dulu mereka hidup sangat berkekurangan, tidak dianggap oleh orang-orang sekitar. Mereka dihina, direndahkan, bahkan sering dipersona-non-gratakan. Keadaan seperti itu sungguh menyedihkan. Syukurlah derita itu akan segera berubah karena salah seorang saudara mereka memperoleh kedudukan yang tinggi dan jabatan yang besar.

Murid-murid juga berbahagia karena hal ini. Mereka sebelumnya hidup dalam keadaan yang sangat menyedihkan dan penuh kesesakan. Yesus yang mereka panggil sebagai guru dan Tuhan dikenal hanya sebagai anak seorang petani, pemuda dari desa, yang tidak memiliki pangkat dan kedudukan berarti. Itu sebabnya para imam, ahli Taurat, orang Farisi bahkan pemimpin-pemimpin menyusahkan, memfitnah, dan memperlakukan Dia sewenang-wenang.

BACA JUGA:   Anak adalah Karunia Tuhan

Tapi babakan hidup itu sudah lewat. Yesus sekarang menjadi yang paling berkuasa atas segala sesuatu, baik di bumi maupun di surga. Memang para pengikutNya di bumi masih akan berhadapan dengan banyak bentuk perbuatan tidak adil, fitnah, hambatan, dan kesulitan. Tetapi karena Tuhan mereka adalah penguasa semesta mereka bersukacita.

Mengapa?  Para pemfitnah, dan mereka yang suka bertindak sewenang-wenang itu satu kali kelak akan dihakimi oleh pejabat yang paling berkuasa. Pejabat itu adalah Yesus Kristus, Tuhan mereka.

Murid-murid bersukacita. Mereka tidak sedih karena Yesus telah naik ke sorga, melainkan memuliakan Allah di Bait Allah karena Yesus yang adalah sahabat dan guru mereka justru telah dinobatkan sebagai raja semesta dan hakim yang tidak bisa dibantah.

Kedua,  Yesus naik ke sorga. Murid-murid tidak menangis. Mereka malah berbahagia. Ini karena naik sebagaimana yang disaksikan Alkitab, bukan sebuah kata yang hanya menujuk pada keadaan ditinggikan, tetapi juga pada kehidupan atau cara berada yang baru, yang berbeda dengan cara berada sebelumnya.

Kalau sebelum kenaikan ke sorga, Yesus hanya hadir di satu tempat secara fisik. Maka setelah naik ke sorga, Yesus bisa hadir di banyak tempat pada waktu bersamaan. Kehadiran Yesus yang baru ini tidak bisa dibatasi atau dihalangi oleh apapun juga, baik itu tembok, undang-undang satu negara, maupun juga oleh pasukan bersenjata. Naik ke sorga berarti Yesus bukan hanya berkuasa atas segala sesuatu tetapi juga bebas untuk bertemu dan memakai siapa saja untuk pekerjaan keselamatan.

Sekarang Yesus bisa hadir di segala tempat dan di semua waktu secara bersamaan tanpa ada yang bisa membatasi. Itu berarti, murid-murid bisa bertemu Yesus, di mana saja, minta pertolongan kepadaNya kapan saja, dan mengadukan persoalan mereka kepadaNya dalam bahasa apa saja. Bukankah ini sangat menyenangkan?

BACA JUGA:   Di Tengah Covid-19 Pengikut Kristus Wajib Bekerja dan Berkarya Melayani Tuhan

Kalau Yesus tidak naik ke sorga, betapa sulitnya murid-murid bertemu Dia. Karena mereka hanya bisa berjumpa Dia di satu tempat, minta pertolongan kepadaNya pada jam-jam di mana Yesus siap, dan mengadukan persoalan hidup mereka kepadaNya dalam bahasa tertentu saja?

Kalau begitu maka tidak semua orang di NTT bisa ditolong oleh Yesus. Karena biaya untuk ke Israel untuk bertemu Yesus sangat mahal. Hanya orang berduit saja yang bisa bayar tiket pesawat El Al ke Yerusalem. Orang yang bekerja sebagai buruh harian akan menjadi kaum yang paling sedikit bertemu Yesus, karena mereka tidak mungkin bisa berbicara dengan Yesus pada setiap jam sembahyang di mana Dia stand by untuk mendengar doa mereka. Dan karena tidak ada orang NTT yang fasih berbicara dalam bahasa di Timur tengah, pastilah mereka tidak bisa curhat pada Yesus.

Oh, menyedihkan sekali iman kristen itu jika Yesus tidak naik ke sorga. Iman kristen berubah menjadi idiologi dengan hukum-hukum yang kaku, aturan tentang jam doa yang statis, serta segudang sapaan-sapaan protokoler yang nyaring dan lancar saat diucapkan tetapi tidak dipahami artinya oleh si pembicara dan juga pendengarnya.

Murid-murid bersukacita. Oh mereka senang, karena iman kristen tidak mewajibkan orang percaya untuk menghafal kumpulan aturan-aturan, membiasakan diri dengan seperangkat ritus, dan rumusan-rumusan doa jika ingin berkomunikasi dengan Yesus. Iman kristen membuat manusia menjadi makhluk yang bebas untuk berekspresi dan berinovasi, sebuah kebebasan dalam ketaatan kepada Dia yang naik ke sorga.

Yesus naik ke sorga, artinya Dia hadir secara baru. Ia bebas ditemui dan siap menolong siapa saja, di mana saja, kapan saja dan dalam keadaan apa saja. Inilah alasannya mengapa murid-murid bersukacita. Mereka tidak menangis waktu Yesus terangkat ke sorga dari tengah-tengah mereka, amin.

[1] Buku Membuat Langit Tersenyum