Majalah Suara Harapan – Punggung putih itu tidak dicoret dengan tanda tangan tanpa makna, apalagi gambar yang merendahkan martabat perempuan.
Siswa ini memilih melukiskan wajah Superheronya di seragam kelulusan: sang Ibu. Bukan grafiti asal, tapi simbol kemenangan atas perjuangan panjang seorang ibu yang tak pernah mengeluh.
Di tengah riuhnya selebrasi kelulusan yang seringkali kebablasan, ia berdiri tegak menunjukkan arah bakti yang sesungguhnya. Coret-coretan pilox diganti kuas dan cat air. Isinya bukan nama geng, tapi wajah yang tiap malam mendoakan dan tiap pagi siapkan sarapan sebelum berangkat sekolah.
Ia tahu betul, setiap angka di rapornya adalah hasil keringat ibu. Dari bayar SPP, beli buku, sampai ongkos ojek ke sekolah.
Ini bukan sekadar coretan seragam. Ini adalah janji seorang anak untuk terus memuliakan wanita yang telah menghidupinya.
Kelulusan adalah garis start untuk menjadi manusia yang bermanfaat. Dan ia memulainya dengan cara yang paling indah: Bersyukur.


































