Nyong Sabu Meminang Nona Rote: Saat Pundak Kakak Tertua Berdiri Paling Tegak
Suara Harapan – Senin, 8 Juni 2026, akan selalu menjadi lembaran hari yang tidak akan pernah dilupakan oleh Yupiter Loinati.
Bagi Yupiter, hari itu adalah pembuktian dari sebuah amanah besar yang ditaruh di atas pundaknya: menunggu Ama Sabu bernama Doni dari Oesao untuk meminang belahan jiwanya, Te’o Risma, yang adalah Nona Rote bercampur Timor, di Desa Pukdale, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang, NTT.
Bagi masyarakat ketimuran yang mengalir darah Sabu, Rote dan Timor di nadinya, pernikahan tak pernah sebatas penyatuan dua insan. Ia adalah momentum penting bertemunya dua rumpun besar. Di dalamnya ada penghargaan terhadap adat istiadat, penjagaan kehormatan, dan jalinan tutur kata yang penuh kesantunan.
Di sinilah peran penting seorang kakak tertua diuji.
Beban Berat di Pundak yang Tegak
Dalam kultur Timor, ketika adik-adik mulai beranjak dewasa dan memutuskan untuk membangun bahtera rumah tangga sendiri, di situlah pundak kakak tertua harus berdiri paling tegak.
Menjadi kakak tertua bukanlah tugas yang mudah. Peran ini menuntut semangat ekstra dan ketangguhan untuk terus menjalankan tanggung jawab, tidak peduli seberapa terjal rintangan yang menghadang.
Kepercayaan yang didelegasikan oleh keluarga besar kepada Saya, Yupiter selaku Kakak bukanlah tugas yang ringan. Mulai dari pertemuan awal, mematangkan pembicaraan adat yang sensitif, hingga menjaga wibawa dan kehormatan keluarga di hadapan keluarga besar sang calon mempelai wanita, semuanya bertumpu pada keputusan, koordinasi, dan ketenangan dirinya.
”Cinta seorang kakak tidak pernah mewujud dalam kata-kata semata, melainkan dalam peluh, lelah, dan tanggung jawab yang diselesaikan hingga tuntas.”
Prosesi meminang Nona Rote hari itu berjalan dengan sangat indah dan sarat makna. Ada dinamika adat yang terjadi, ada kehangatan yang dipancarkan dari keelokan kain tenun yang dikenakan kedua belah pihak, dan ada ketegangan yang perlahan-lahan mencair menjadi tawa persaudaraan yang tulus.
Sebagai perwakilan utama dari keluarga besar, saya harus memastikan bahwa setiap jengkal langkah adat yang dilewati berjalan dengan penuh rasa hormat. Langkah demi langkah dilewati dengan khidmat, kata demi kata dirajut dengan bijaksana, hingga akhirnya pinangan tersebut diterima dengan tangan terbuka dan penuh sukacita.
Ketika malam akhirnya menjemput hari Senin yang panjang dan penuh perjuangan itu, ada rasa lega yang luar biasa membuncah di dada.
Satu lagi tugas sebagai kakak tertua telah ditunaikan dengan tuntas dan baik. Sang adik kini telah menuju pelaminan, membawa nama baik keluarga yang dijaga ketat oleh kakaknya.
Hari itu resmi menambah satu catatan penting dalam lembar kehidupan. Sebuah pengingat di masa depan bahwa pengorbanan seorang kakak adalah wujud cinta yang paling nyata.
Rasa lelah yang mendera hari itu adalah sebuah berkah yang tak ternilai. Sebab, melihat sang adik tersenyum bahagia bersanding dengan pilihan hatinya, adalah bayaran tertinggi yang menghapus semua peluh dan lelah.
Selamat berbahagia untuk Doni dan Risma yang juga telah resmi dipersatukan dalam pemberkatan Nikah Kudus.
Semoga tuntunan Tuhan selalu menyertai langkah baru kalian, dan biarlah ikatan persaudaraan rumpun Sabu, Rote dan Timor ini tumbuh abadi.


































