
MAI ITA BUA-BUA BUSA BUA TEU ESAMA MAO MANU NA MAO MANU NEU ESAFO ITA BOSO MA DALE DUA MA TEI TELUTE ITA TOUK ESA RARAEN DO INAK ESABOBONGGIN MUNI NUSA ROTE MAI

Majalah Suara Harapan – Aroma kayu jati yang berpadu halus dengan pekatnya minyak pelapis langsung menyergap indra siapa saja yang mendekati trofi Piala bergilir Hus Kuda Usman Husin Cup II 2026.

Trofi Hus Kuda Usman Husin Cup II itu bukan sekadar logam cetakan pabrik melainkan piala itu adalah sebongkah kayu pilihan yang dihidupkan melalui ketekunan luar biasa, memahat figur seorang kesatria Rote yang sedang menunggangi kudanya dengan gagah perkasa.
Lengkung dinamis otot-otot kuda, detail pelana, hingga lipatan kain selendang sang penunggang dieksekusi dengan kelembutan yang luar biasa, sebuah ciri khas estetika seni ukir.
Di atas kepala sang penunggang, bertengger dengan megah Ti’i Langga, topi tradisional Rote yang melambangkan kehormatan dan kepemimpinan.
Uniknya, kelopak-kelopak khas Ti’i Langga tersebut dipahat menyerupai mahkota berlapis warna emas, menegaskan bahwa pemenang turnamen ini adalah raja.
Hus Kuda bukan sekadar balapan taktik dan kecepatan. Ini adalah denyut nadi spiritualitas masyarakat Rote, sebuah ritual syukur pasca panen sekaligus penghormatan kepada leluhur.

Bukan hanya visualnya yang memikat mata, piala ini juga memuat dimensi sastra yang mendalam. Pada tiga sisi tatakan kayu penyangganya, tertempel plakat hitam dengan ukiran aksara emas yang memuat syair luhur berbahasa Rote. Bait-bait penyejuk hati tersebut berbunyi:
MAI ITA BUA-BUA BUSA BUA TEU ESA
MA MAO MANU NA MAO MANU NEU ESA
FO ITA BOSO MA DALE DUA MA TEI TELU
TE ITA TOUK ESA RARAEN DO INAK ESA
BOBONGGIN MUNI NUSA ROTE MAI
Syair ini bermakna seruan mendalam bagi seluruh anak suku Rote untuk datang berkumpul dan bersatu padu layaknya seikat padi.
Sebuah petuah luhur agar masyarakat membuang jauh-jauh kebimbangan hati, prasangka buruk, dan keretakan sosial.
Di arena Hus Kuda ini, baik laki-laki maupun perempuan, semuanya melebur dalam satu ikatan persaudaraan yang kokoh di bawah naungan bumi Nusa Rote.



































