Pdt. Eben Nuban Timo
MEMULAI PERUBAHAN BESAR DARI KEPEDULIAN KECIL PADA PENDIDIKAN
Matius 13:31–35
Majalah Suara Harapan – Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, Jemaat Imanuel Tanah Merah yang bersekutu sebagai anggota Tubuh Kristus.
Kalau orang Meto mau mengajar sesuatu yang penting, sering kali mereka memakai uab mampolin, yaitu perumpamaan. Tujuannya bukan supaya orang langsung memperoleh jawabannya, tetapi supaya pendengar ikut berpikir, merenung, lalu menemukan sendiri nilai yang terkandung di dalam cerita itu.
Demikian juga Tuhan Yesus. Di dalam Matius pasal 13 saja, Yesus memakai beberapa perumpamaan untuk menjelaskan satu hal yang sangat besar, yaitu Kerajaan Surga. Mengapa Yesus memakai perumpamaan? Karena Kerajaan Allah terlalu besar untuk dijelaskan hanya dengan definisi. Kerajaan Allah berbicara tentang pemerintahan Allah, kasih Allah, kuasa Allah, dan keselamatan Allah. Sesuatu yang begitu agung hanya dapat dipahami melalui gambaran-gambaran yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Menariknya, Yesus tidak menggambarkan Kerajaan Allah dengan istana yang megah, pasukan yang besar, atau gunung emas yang menjulang tinggi. Sebaliknya, Yesus menunjuk kepada sesuatu yang sangat kecil: sebutir biji sesawi. Mengapa? Karena Yesus ingin mengajar bahwa Allah sering memulai pekerjaan-pekerjaan-Nya yang besar melalui hal-hal kecil yang sering diabaikan manusia.
Saudara-saudara….. Semua petani di Tanah Merah memahami cerita ini. Tidak ada pohon besar yang muncul begitu saja. Semua selalu dimulai dari sebuah biji. Saya teringat ketika masih mahasiswa praktik di Se’i. Di sana ada pohon beringin yang sangat besar. Diameter tajuknya puluhan meter. Setiap hari Kamis, ketika hari pasar tiba dan matahari mulai terik, ratusan orang berteduh di bawah pohon itu. Bayangkan, pohon sebesar itu dahulu hanya tersimpan di dalam sebutir biji yang besarnya hampir seperti sebutir garam. Itulah cara Allah bekerja. Allah menyimpan hal-hal besar di dalam permulaan-permulaan yang kecil.
Kalau kita melihat gedung gereja ini, siapa yang menyangka bahwa jemaat petani lahan kering dapat membangun rumah Tuhan yang nilainya mencapai sekitar lima miliar rupiah? Angka itu sangat besar. Tetapi percayalah, lima miliar rupiah itu tidak turun sekaligus dari langit. Gedung ini berdiri karena ada persembahan seribu rupiah, lima ribu rupiah, sepuluh ribu rupiah yang dengan setia dimasukkan ke dalam kantong kolekte minggu demi minggu, tahun demi tahun. Gedung besar ini sesungguhnya tersembunyi di dalam persembahan-persembahan kecil. Di situlah kita belajar bahwa Allah tidak pernah meremehkan hal-hal kecil.
Saudara-saudara… Prinsip ini berlaku dalam seluruh kehidupan. Seorang koruptor yang akhirnya mencuri ratusan miliar rupiah dan memiliki 74 kg emas bayangan biasanya tidak memulai dengan angka sebesar itu. Ia memulai dengan ketidakjujuran kecil yang dibiarkan terus bertumbuh. Sebaliknya, orang yang ketika dewasa hidup jujur biasanya bertumbuh di rumah yang penuh dengan teladan kejujuran. Ia melihat ayahnya bekerja dengan benar. Ia melihat ibunya tidak mengambil milik orang lain. Nilai yang kecil itu akhirnya bertumbuh menjadi karakter yang besar.
Karena itu Yesus melalui perumpamaan biji sesawi mengingatkan kita bahwa masa depan selalu bertumbuh dari kebiasaan-kebiasaan kecil hari ini. Hari ini kita juga menyaksikan pelayanan baptisan kudus kepada seorang anak. Baptisan adalah tanda bahwa Allah lebih dahulu mengasihi anak ini. Tetapi baptisan bukanlah garis akhir. Baptisan justru merupakan titik awal perjalanan iman.
Sesudah ibadah selesai, pendidikan iman anak ini tidak terutama berlangsung di gereja. Pendidikan itu berlangsung di rumah. Ayah dan ibu mungkin berpikir bahwa mengajar anak berdoa sebelum tidur hanyalah hal kecil. Mengajak anak membaca satu ayat Alkitab hanyalah hal kecil. Membiasakan anak mengucapkan terima kasih, meminta maaf, berkata jujur, menghormati orang tua, rajin belajar, dan datang beribadah hanyalah kebiasaan kecil.
Tetapi justru di situlah orang tua sedang menanam sebuah pohon yang besar dan Allah akan menjadikan pohon besar itu menjadi kesukaan bagi dunia dan sumber sukacita bagi sesama. Jangan pernah berkata, “Ah, hanya doa Bapa Kami.” Jangan berkata, “Ah, hanya satu cerita Alkitab.” Jangan berkata, “Ah, anak masih kecil.” Tidak! Di dalam kebiasaan-kebiasaan kecil itulah Allah sedang membangun masa depan seorang anak.
Sekarang tentang tema kita hari ini adalah “Memulai Perubahan Besar dari Kepedulian Kecil pada Pendidikan.” Pendidikan bukan hanya urusan sekolah. Pendidikan pertama berlangsung di rumah. Guru pertama adalah ayah dan ibu. Buku pertama yang dibaca anak bukanlah buku pelajaran, melainkan kehidupan orang tuanya sendiri.
Anak-anak lebih banyak meniru daripada mendengar. Kalau mereka melihat orang tuanya berdoa, mereka belajar berdoa. Kalau mereka melihat orang tuanya bekerja keras, mereka belajar bekerja keras. Kalau mereka melihat orang tuanya menghargai pendidikan, mereka akan mencintai belajar. Sebaliknya, kalau setiap hari mereka melihat pertengkaran, kebohongan, kemalasan, atau kekerasan, semua itu pun akan bertumbuh bersama mereka.
Ada satu pelajaran lagi dari biji sesawi. Mengapa biji itu menjadi pohon? Karena ada orang yang menanamnya, menyiramnya, menjaganya, dan tidak bosan merawatnya. Mukjizat Allah hampir selalu bekerja bersama ketekunan manusia. Air berubah menjadi anggur di Kana bukan karena semua orang duduk diam. Ada pelayan yang mengisi tempayan sampai penuh. Ada ketaatan. Ada kerja. Ada kesetiaan. Begitu juga pendidikan. Tidak ada anak yang tiba-tiba menjadi berhasil. Mereka berhasil karena bertahun-tahun dididik dengan sabar, dikoreksi dengan kasih, didoakan tanpa henti, dan diberi teladan setiap hari.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan. Jangan pernah meremehkan perbuatan kecil yang dilakukan dengan kasih. Satu doa hari ini bisa menjadi iman yang teguh di masa depan. Satu buku yang diberikan kepada anak bisa membuka jalan menuju masa depan yang lebih baik.
Satu jam mendampingi anak belajar dapat mengubah seluruh perjalanan hidupnya. Satu teladan kejujuran dari ayah dan ibu dapat melahirkan pemimpin yang takut akan Tuhan.
Kiranya seperti biji sesawi yang kecil bertumbuh menjadi pohon yang besar, demikian pula keluarga-keluarga di Jemaat Imanuel Tanah Merah terus menanam benih-benih iman, pendidikan, kejujuran, kerja keras, dan kasih. Dan kelak, Tuhan akan membuat benih-benih kecil itu bertumbuh menjadi berkat yang besar, bukan hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi gereja, masyarakat, dan bangsa.
Amin.


































