Mengingat Karya Tuhan, Bersyukur, dan Menyembuhkan Luka
Bacaan Alkitab: Mazmur 77
Momen Perayaan: Penutupan Bulan Keluarga, Syukur HUT ke-79 GMIT, dan Syukur HUT ke-509 Reformasi Gereja
Majalah Suara Harapan – Ungkapan syukur merupakan wujud terima kasih kita kepada Tuhan. Kebanyakan orang menghubungkan ucapan syukur dengan sukacita, keberhasilan, keselamatan, atau peristiwa manis yang dirasakan dalam hidup. Namun, ucapan syukur sejati tidak selalu lahir di masa-masa yang menyenangkan.
Di tengah gelap dan kelamnya kehidupan, ucapan syukur tetap dapat dinaikkan. Bukan karena kita menyukai penderitaan atau peristiwa buruk tersebut, melainkan karena iman memperlihatkan berkas cahaya kebaikan Allah yang tetap hadir di tengah situasi terkelam sekalipun.
Mazmur ini ditulis oleh Asaf—seorang pemimpin musik, penyanyi, sekaligus nabi pada zaman Raja Daud. Secara garis besar, Mazmur 77 terbagi dalam dua bagian utama:
Pergumulan dan Ratapan yang Mendalam (Ayat 1–11)
Asaf mengawali mazmurnya dengan berseru nyaring kepada Allah. Seruan ini lahir dari kesesakan yang teramat berat. Ia telah berdoa dan berusaha tanpa kenal lelah, namun hatinya tak kunjung tenang (ay. 2–3). Ketika ia mengingat perbuatan Allah di masa lalu, jiwanya justru semakin lemah, gelisah, dan tak dapat tidur (ay. 4–5).
Dalam kecemasan yang memuncak, muncul pertanyaan-pertanyaan reflektif yang meragukan kesetiaan Allah: Apakah Tuhan akan terus menolak? Apakah kasih setia dan janji-Nya telah berakhir? Apakah Allah telah melupakan rahmat-Nya? (ay. 8–10). Ketakutan utama Asaf adalah jika Allah telah berubah dan benar-benar meninggalkan umat-Nya (ay. 11).
Titik Balik: Mengingat dan Mengakui Karya Allah (Ayat 12–21)
Pada bagian kedua, terjadi pembalikan imajinasi dan iman yang luar biasa. Ketakutan tidak membuat Asaf kecewa atau meninggalkan Allah. Sebaliknya, ia mengambil keputusan sadar untuk mengingat kembali perbuatan-perbuatan Allah sejak zaman purbakala (ay. 12–13).
Proses merenung ini memulihkan imannya. Asaf menegaskan bahwa jalan Allah adalah kudus dan tiada allah yang setara dengan-Nya (ay. 14). Kuasa Allah bukan sekadar pamer keajaiban di antara bangsa-bangsa, melainkan kuasa yang menebus, membebaskan, dan memberi kehidupan bagi umat-Nya (ay. 15–16). Bahkan seluruh alam semesta menjadi saksi atas kedahsyatan-Nya (ay. 17–20).
Mazmur ini ditutup dengan kesaksian indah: Allah tidak pernah membiarkan umat-Nya berjalan sendirian. Seperti seorang gembala, Ia menuntun kawanan domba-Nya melalui tangan Musa dan Harun (ay. 21). Tuntunan Gembala Agung ini mencakup perlindungan, penyertaan, pembalutan luka, serta jaminan kehidupan yang bermutu.
Melalui perpaduan momen Penutupan Bulan Keluarga GMIT, HUT ke-79 GMIT, dan HUT ke-509 Reformasi Gereja, teks Mazmur 77 memberikan penegasan teologis serta pemanggilan pelayanan bagi kita hari ini:
Pembalikan Orientasi Iman
Pergumulan hidup dan penderitaan sering kali terkesan seolah-olah Tuhan sedang meninggalkan kita. Namun, belajarlah dari Asaf: jangan pernah menolak atau meninggalkan Tuhan saat badai menerpa. Keputusan untuk kembali memusatkan pikiran pada kuasa dan kemurahan Allah adalah awal pemulihan jiwa.
Sejarah yang Menghidupkan Masa Kini dan Masa Depan
Sejarah bukan sekadar artefak masa lalu untuk dikenang, melainkan pijakan iman untuk melangkah. Allah yang mengikat perjanjian kesetiaan di masa lalu adalah Allah yang sama yang menyertai kita hari ini dan menuntun masa depan. Perbuatan-Nya di masa lalu memberi kita fondasi untuk optimis menatap hari esok.
Gereja yang Hadir untuk Menyembuhkan Dunia yang Terluka
Gereja ada karena Tuhan sendiri yang menghadirhkannya, menebusnya, dan memimpinnya. Di tengah realitas sosial saat ini—seperti stunting, korupsi, dinamika sosio-politik, krisis pendidikan, kerusakan ekologi, kemiskinan, hingga penegakan hukum dan HAM—banyak masyarakat dan jemaat mengalami luka mendalam serta rasa pesimisme. Gereja dipanggil tidak hanya untuk mengkritisi keadaan, tetapi juga hadir memberi solusi konkrit dan membalut luka-luka tersebut. Gereja harus terus menjaga asa pemulihan karena percaya bahwa Gembala Agung tetap menuntun langkahnya.
Peringatan HUT ke-509 Reformasi Gereja dan HUT ke-79 GMIT bukan sekadar selebrasi, melainkan momen introspeksi. Selain bersyukur atas penyertaan Tuhan, gereja perlu merenungkan kembali tingkat kesetiaannya kepada Sang Kepala Gereja. Apa langkah nyata yang harus kita lakukan hari ini dan di masa depan sebagai bentuk tanggung jawab atas kepercayaan yang Allah berikan?
Buah Syukur dalam Pelayanan Nyata
Ungkapan syukur atas kebaikan Tuhan tidak boleh berhenti pada konsep teologis atau wacana di mimbar semata. Syukur sejati harus terwujud dalam karya pelayanan yang konkret, berdampak, serta dirasakan manfaatnya—baik oleh warga jemaat di internal gereja maupun oleh masyarakat luas di tengah dunia.
Mari kita menutup Bulan Keluarga ini, melangkah memasuki usia baru GMIT ke-79, serta menghidupi semangat Reformasi Gereja yang ke-509 dengan tekad baru: terus mengingat karya-karya ajaib Tuhan, menaikkan syukur di segala keadaan, serta menjadi alat di tangan-Nya untuk membalut dan menyembuhkan dunia yang terluka. Tuhan Yesus, Sang Gembala Agung, senantiasa menuntun dan memberkati kita sekalian. Amin.



































