Majalah Suara Harapan – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membeberkan cerita di balik operasi tangkap tangan (OTT) yang menjerat Bupati Pati periode 2025–2030, Sudewo.
Proses penangkapan yang berlangsung sejak Minggu (18/1/2026) malam hingga Senin (19/1/2026) pagi tersebut diwarnai sejumlah kendala di lapangan, mulai dari kesulitan merunut alur uang hingga strategi keamanan untuk menghindari bentrokan pendukung.
Plt Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK, Asep Guntur Rahayu, mengungkapkan bahwa operasi senyap tersebut tidak dilakukan serentak, melainkan bertahap dan memakan waktu lintas hari (cross day).
“Waktu OTT-nya itu cross, dari Minggu malam sampai Senin pagi. Tidak langsung 8 atau 9 orang ini ditangkap serentak. Ada yang jam 8 malam, jam 11 malam, jadi waktunya berlainan,” kata Asep dalam keterangannya, Rabu (21/1/2026).
Asep mengakui tim di lapangan sempat mengalami kesulitan untuk menemukan hubungan langsung antara uang yang ditemukan di pengepul dengan Bupati Sudewo.
Saat awal penangkapan, tim penyidik dihadapkan pada situasi di mana para perantara, yang belakangan diketahui sebagai “Tim 8” atau koordinator kecamatan, tidak langsung membuka mulut.
“Di lapangan kita enggak tahu nih, ini siapa? Baru tahu ini orangnya bupati setelah pemeriksaan berjam-jam. Kita tanya kepala desa yang lain, baru ketahuan bagannya,” jelas Asep.
Tantangan bertambah karena adanya upaya penghilangan jejak digital oleh para pihak yang diamankan.
Asep menyebut, ada pihak yang sempat membocorkan informasi operasi kepada rekannya hingga melakukan reset pada telepon seluler.
“Betul kesulitan menghubungkannya. Belum lagi mereka enggak ngaku. Ada juga HP yang sudah direset. Itu dinamika di lapangan,” tambahnya.
*Sumber(Tribunnews/Irwan Rismawan).


































