Majalah Suara Harapan – Tangan yang dahulu tak asing dengan bau busuk dan tumpukan limbah kini memegang stempel serta wewenang penting di balai desa. Pak Surya, sosok sederhana yang mengawali usahanya dari bawah sebagai pemilah sampah, berhasil membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi dan kerja keras di gubuk daur ulang bukanlah penghalang untuk memimpin dan memberikan perubahan nyata bagi masyarakat.
Sebelum melangkah ke tampuk kepemimpinan desa, Pak Surya menghabiskan berjam-jam setiap harinya untuk memilah barang bekas. Dari plastik, kardus, hingga logam, ia mengumpulkan rezeki sedikit demi sedikit dengan penuh ketelitian dan kejujuran demi menopang hidup keluarga.
Pengalamannya merasakan getirnya hidup masyarakat kelas bawah membentuk kepedulian sosial yang tinggi. Di sela-sela kesibukannya, Pak Surya aktif membantu tetangga, menggerakkan gotong royong, dan memelopori pengelolaan sampah berbasis komunitas agar lingkungannya lebih bersih dan bernilai ekonomi.
Kejujuran, ketulusan, serta sikap kepemimpinannya yang alami lambat laun menyita perhatian warga. Berawal dari dorongan masyarakat sekitar yang melihat sosoknya yang rendah hati dan pekerja keras, nama Pak Surya akhirnya diusulkan untuk maju dalam pemilihan kepala desa.
Kini, setelah terpilih menjadi Kepala Desa, Pak Surya membawa semangat kerja keras dari tempat pembuangan sampah ke meja pemerintahan. Ia berfokus pada transparansi anggaran, pemberdayaan ekonomi warga kurang mampu, serta pengelolaan lingkungan hidup dan kebersihan berbasis kemandirian desa.
”Saya tidak malu pernah menjadi pemilah sampah. Justru dari tumpukan sampah itulah saya belajar memahami kesulitan warga dan arti penting sebuah perjuangan.” — Pak Surya


































