KUPANG, SH – Kepala Desa Tunfeu di Kecamatan Nekamese, Martinus Leonard Leli, telah memasuki tahun kedelapan masa jabatannya sejak pertama kali terpilih pada 2016.
Kepada Suara Harapan, Leli menguraikan berbagai program pembangunan yang telah dilaksanakan selama dua periode kepemimpinannya, serta rencana besar yang akan diwujudkan hingga 2030.
Leli mengungkapkan bahwa seluruh program pembangunan desa dijalankan sesuai rencana. “Kegiatan yang kami laksanakan dalam 8 tahun ini sesuai regulasi dan juknis yang ada, mencakup berbagai bidang, seperti pemerintahan, belanja pegawai, tunjangan untuk RT/RW, dan operasional kantor,” ujarnya, Selasa (23/7).
Selain itu, bantuan sosial kemasyarakatan juga diberikan berupa tenda kursi untuk berbagai acara, pakaian seragam untuk anak yatim piatu, serta dukungan dalam bentuk biaya transportasi bagi ibu hamil yang hendak melahirkan.
Di bidang pembangunan, Leli menyoroti proyek-proyek penting seperti pembangunan sumur gali, sumur bor, jalan baru, pengaspalan, rumah tidak layak huni, dan WC sehat. “Selama pandemi COVID-19, dana desa juga dialihkan untuk BLT sebesar 25 persen,” tambahnya.
Selain itu, berbagai pelatihan untuk badan pengurus BUMDes, pelatihan bahasa adat, pelatihan PKK, dan Karang Taruna terus dilaksanakan.
Pengadaan mesin jahit, mebeler, bibit lamtoro, sayur mayur, serta ternak seperti kambing, sapi, dan babi turut menjadi fokus utama dalam upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Kepala Desa Tunfeu, Kecamatan Nekamese, Martinus Leonard Leli
Salah satu proyek inovatif adalah pembangunan irigasi tetes berbasis tenaga surya. “Ini untuk memberdayakan ekonomi masyarakat dan mengurangi kemiskinan ekstrem,” jelas Leli.
Selain itu, pembangunan sumur bor juga ditujukan untuk memenuhi kebutuhan air bersih, ketahanan pangan, dan pengurangan stunting yang disebabkan oleh kekurangan air bersih.
Di bidang kesehatan, Leli menyebutkan pengadaan insentif untuk kader posyandu, kader lansia, kader posbindu, kader KPM, bidan desa, dan perawat desa. “Kami juga menyediakan alat tensi digital dan ukur stunting untuk mendukung kegiatan kesehatan,” tambahnya.
Ke depan, Leli berencana menjadikan Desa Tunfeu sebagai PAM Desa. “Pembangunan yang sudah dilakukan memastikan air bersih sampai ke masyarakat. Karena itu sekitar tahun 2027 atau 2028 kita sudah punya PAM Desa,” ujarnya optimis.
Leli juga menargetkan penurunan angka kemiskinan ekstrem dan stunting yang sudah mulai menurun. “Kami telah mengintervensi dengan PMT berupa susu, telur, dan kacang hijau,” katanya.
Perencanaan, pelaksanaan dan pertanggungjawaban pembangunan dana desa yang tepat dan cepat membuahkan penghargaan dari pemerintah Kabupaten Kupang kepada Desa Tunfeu beberapa waktu lalu.”Sudah tentu kami bangga dan termotivasi untuk bekerja lebih giat lagi,” pungkas Leli. (*)


































