Majalahsuaraharapan.com – Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PDI Perjuangan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menggelar puncak peringatan Bulan Bung Karno yang berlangsung Sabtu, 27 Juni 2026.
Agenda rutin tahunan ini dipusatkan di halaman Sekretariat DPD PDI Perjuangan Provinsi NTT dengan mengusung tema besar, Setialah Kepada Sumbermu.
Peringatan Bulan Bung Karno sepanjang Juni merupakan penghormatan ideologis terhadap Proklamator RI, mengingat Bung Karno lahir pada 6 Juni 1901 dan wafat pada 21 Juni 1970. Dalam upacara puncak ini, Nelson Matara dipercaya bertindak sebagai Pembina Upacara.
Ketua Panitia Pelaksana, Melsy Juliana Bunga, menjelaskan bahwa rangkaian kegiatan dimulai sejak pagi hari dengan upacara bendera. Setelah itu, seluruh kader PDI Perjuangan bergerak melakukan aksi sosial dan ziarah ke Taman Makam Pahlawan (TMP) Nasional Dharma Loka Kupang.
Kami usahakan berziarah, bersih-bersih sedikit, lalu balik ke DPD, ujar Melsy di sela-sela kegiatan.
Tak berhenti di situ, sore harinya mulai pukul 15.00 WITA, DPD PDI Perjuangan NTT menggelar lomba pidato antar Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP) dan Organisasi Kemasyarakatan (Ormas). Sebanyak 18 mahasiswa dari berbagai delegasi organisasi telah terdaftar sebagai peserta.
Dalam lomba ini, para peserta dibebaskan memilih satu dari tiga subtema yang berakar pada ajaran Trisakti Bung Karno:
Politik (Berdaulat di bidang politik)
Ekonomi (Berdikari di bidang ekonomi)
Kebudayaan (Berkepribadian dalam kebudayaan)
Harapan kami dengan perayaan Bulan Bung Karno ini, semakin banyak terutama kaum muda yang mengenal siapa itu Bung Karno. Masih banyak anak muda zaman sekarang yang tidak mengenal beliau, ungkap Melsy.
Ia berharap momentum ini mampu membumikan nilai-nilai Pancasila dan semangat Trisakti di generasi muda.
Dalam amanat, Nelson Matara menekankan pentingnya bagi generasi penerus untuk mengambil esensi perjuangan Bung Karno.
Bung Karno pernah berpesan agar kita mewarisi apinya, bukan abunya. Yang harus kita warisi adalah semangat perjuangan, nasionalisme, persatuan, dan nilai-nilai luhur Pancasila yang selalu beliau kobarkan, tegas Nelson.
Nelson juga memberikan catatan kritis mengenai relevansi perjuangan masa kini yang dinilainya jauh lebih menantang. Menukil salah satu pidato terkenal Bung Karno, ia mengingatkan bahwa perjuangan saat ini adalah melawan bangsa sendiri.
Momentum ini harus kita gunakan untuk memperkuat persatuan, menjalin silaturahmi lintas elemen, dan saling merangkul membangun bangsa, bukan saling bermusuhan. Kobarkan semangat Bung Karno di dada kita, pungkasnya di akhir sambutan, sembari mengajak kader dan masyarakat kembali ke akar kekuatan sejati, rakyat dan Pancasila.


































