Majalah Suara Harapan — Di balik kokohnya deretan rumah adat bulat khas Timor di Dusun Neoftatoe, Desa Teun, Kecamatan Raimanuk, Kabupaten Belu, tersimpan ikatan kekerabatan yang begitu erat.
Rumah-rumah tradisional tersebut bukan sekadar tempat bernaung, melainkan simbol perekat adat yang terus dijaga secara turun-temurun.
Setiap bulan Oktober, kampung ini hidup lewat pesta adat meriah yang dihadiri ribuan warga dari berbagai penjuru dengan membawa hewan ternak untuk dinikmati bersama, sebuah potret gotong royong yang menolak punah.
Namun, di balik kehangatan tradisi tersebut, warga Neoftatoe harus berjuang menghadapi keterbatasan fasilitas dasar sehari-hari.
Berdasarkan kunjungan Rombongan Yayasan Mitha Peduli bersama jurnalis media Suara Harapan, Yupiter Loinati, kehidupan warga bergantung penuh pada sektor pertanian dan peternakan.
”Setiap hari usai bangun tidur, hal pertama yang kami lakukan adalah mengecek hewan peliharaan: ayam, babi, sapi, dan ternak lainnya,” tutur Bapak Arnol Ikun, salah satu warga setempat.
Hasil ternak serta komoditas pertanian seperti jagung dan ubi kayu menjadi tumpuan utama dapur warga sekaligus sumber biaya pendidikan anak-anak mereka.
Di balik ketangguhan tersebut, akses terhadap air bersih dan listrik masih menjadi tantangan berat:
Krisis Air Bersih: Warga harus berjalan kaki sejauh 2 kilometer setiap hari untuk mendapatkan air. Fasilitas Pamsimas/PPI yang dibangun pada 2019 rusak total akibat banjir besar tahun 2020 dan belum diperbaiki hingga kini.
Keterbatasan Listrik: Sebanyak 30 Kepala Keluarga (KK) harus berbagi 1 meteran listrik secara swadaya dengan menarik kabel seadanya agar lampu dapat menyala di malam hari.
Masyarakat Neoftatoe tidak meminta kemewahan, melainkan perhatian dan pembangunan yang adil dari pemerintah.


































