Majalah Suara Harapan – Pemandangan yang memilukan dari puluhan anak sekolah yang terperangkap banjir di Pariti, Kabupaten Kupang
Anak-anak ini adalah Generasi Emas yang seharusnya fokus menempuh pendidikan dan masa depan mereka, malah menjadi sandera kekuatan alam, dipaksa menunggu air surut sebelum mereka dapat melanjutkan perjalanan ke sekolah.
Situasi ini diperparah karena adanya penambangan perusahaan besar yang diberi ijin oleh pemerintah disertai kurangnya kepedulian terhadap infrastruktur khususnya jembatan, untuk menghubungkan mereka dengan sekolah
Terpantau dengan kasat mata, gambar anak-anak dengan seragam mereka yang basah kuyup dan wajah mereka yang dipenuhi rasa frustrasi dan mungkin sedikit rasa takut, melukiskan gambaran yang kuat tentang ketidaksetaraan.
Berbicara tentang pendidikan adalah sebagai hak asasi manusia dan penggerak utama kemajuan masyarakat.
Ketika anak-anak terhalang untuk mengakses pendidikan, konsekuensi jangka panjang adalah prestasi akademik yang lebih rendah, berkurangnya kesempatan untuk pendidikan tinggi dan pekerjaan, dan tentu berdampak pada kemiskinan.
Sementara itu, kita sering melihat ceremonial-ceremonial yang mewah dan penggunaan dana yang besar untuk kegiatan yang tidak terlalu berdampak pada kehidupan sehari-hari.
Membangun infrastruktur adalah langkah kecil yang bisa membuat perbedaan besar. Oleh karena itu, penting bagi para pemangku kepentingan untuk memprioritaskan pembangunan infrastruktur yang mendukung kebutuhan dasar masyarakat.
Dengan demikian, cita-cita menuju Kabupaten Kupang Emas bisa lebih mudah diwujudkan jika dimulai dari hal-hal kecil yang berdampak besar bagi masyarakat.


































