Majalah Suara Harapan – Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada 2 Mei 2025 merupakan momen penting untuk merayakan peran guru dalam mendidik generasi penerus bangsa.
Mereka (Guru) adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang mengabdikan hidupnya untuk menyemai ilmu pengetahuan kepada anak-anak.
Namun, ironisnya di Kabupaten Kupang di dapat ada Guru yang tinggal di WC bekas Sekolah.
Ada juga sebagian Guru di Kabupaten Kupang menerima honorarium yang jauh di bawah Upah Minimum Regional (UMR).
Fakta yang ditemukan oleh Suara Harapan di Kabupaten Kupang Guru dibayar Rp100 ribu per bulan, sebuah angka nominal yang rendah dari seharusnya.
Hal ini jelas merupakan cerminan ketidakadilan dan kurangnya apresiasi terhadap para pendidik yang begitu gigih mengajar dengan penuh cinta.
Pemerintah seharusnya memberikan perhatian lebih terhadap para guru, karena merekalah pembentuk karakter dan pengetahuan bagi anak-anak. Memberikan honor yang layak, fasilitas yang memadai, adalah langkah-langkah yang harus segera diambil untuk meningkatkan kualitas pendidikan di tanah air.
Penting bagi pemerintah dan semua pihak terkait untuk bersama-sama memikirkan solusi yang tepat guna meningkatkan kesejahteraan para guru. Pendekatan yang holistik dan berkelanjutan harus dilakukan agar para pendidik dapat bekerja dengan baik tanpa harus terus menerus merasa tertekan oleh kebutuhan ekonomi.
Sebagaimana pepatah mengatakan, “padi tumbuh subur karena pupuk, bukan karena rayap”. Demikian pula dengan pendidikan di Indonesia, para guru yang mengajar penuh cinta harus diberikan apresiasi dan dukungan yang layak agar pendidikan dapat berkembang dan memberikan manfaat yang nyata bagi bangsa dan negara.
Dengan cara tersebut, kita dapat bersama-sama merayakan Hari Pendidikan Nasional dengan nurani yang tentram, mengetahui bahwa para guru telah diperlakukan dengan adil dan mendapatkann apresiasi yang seharusnya.
Mari bersama-sama berjuang agar pendidikan dapat menjadi lebih baik dari hari ke hari. Selamat Hari Pendidikan Nasional untuk para guru yang mengajar penuh cinta, dan kita harus membalasnya dengan janji yang nyata dan tindakan yang konkret.*


































