Majalah Suara Harapan – Suasana di halaman GMIT Elim Naibonat mendadak riuh oleh tawa dan canda ratusan anak.
Kegiatan dimulai tanggal 23 hingga 26 Juni, sebanyak 675 anak dari 42 gereja di wilayah Klasis Kupang Timur berkumpul untuk satu tujuan: mengikuti Jambore Pembinaan Anak dan Remaja Terpadu (PART) ke-V.
Mengusung tema besar “Anak Kristus Pasti Berdampak” dengan subtema “Aku Kecil namun cahayaku berdampak dan membawa kemuliaan bagi Bapa”, kegiatan ini dirancang bukan sekadar untuk berkumpul, melainkan untuk menempa mental dan iman generasi muda agar menjadi berkat bagi sesama.
Nosita Dewi Apriani Gia selaku Ketua Panitia, menyatakan, jambore tahun ini mengombinasikan kreativitas, edukasi, dan aksi sosial. Berbagai perlombaan digelar untuk mengasah bakat anak-anak, mulai dari Vokal Group, Serba Serbi Alkitab, hingga lomba kolase unik yang memanfaatkan bahan-bahan dari alam.
Namun, daya tarik jambore tidak berhenti di panggung lomba. Panitia juga menghadirkan:
Kelas Cerdas: Ruang bagi anak-anak untuk menyerap ilmu-ilmu baru.
Layar Tancap Superbook: Nonton bareng kisah Alkitab yang seru dan interaktif.
Aksi Sosial Nyata: Kegiatan kebersamaan khusus dengan anak-anak penjual jagung di seputaran Oesao. Ini menjadi momen emosional di mana para peserta belajar arti membagikan cahaya mereka langsung kepada sesama yang membutuhkan.
Bagi para peserta, jambore ini adalah petualangan baru yang tidak akan terlupakan. Salah satunya adalah Firsa (14 tahun), siswi SMPN 3 Kutim utusan dari GMIT Bait’El Tetelek. Bagi Firsa, ini adalah pengalaman pertamanya mengikuti jambore.
Perasaan saya sangat senang karena di sini bisa punya banyak teman, banyak kegiatan seru, dan banyak ilmu yang didapatkan, ungkap Firsa ceria.
Gadis remaja yang bercita-cita menjadi guru ini mengaku sangat menikmati setiap momen dan berharap kegiatan seperti ini bisa terus berjalan di masa depan.
Kebahagiaan serupa juga terpancar dari wajah Marni Bani, siswi kelas X SMK 3 Kupang. Berada di lingkungan baru bersama ratusan teman sebaya menumbuhkan rasa percaya diri yang besar di dalam dirinya.
Pertama kali ikut, rasanya campur aduk antara senang, gembira, bangga, dan bahagia, kata Marni Bani, yang memiliki cita-cita mulia menjadi seorang penjahit profesional.
Perjalanan empat hari yang padat ini nantinya akan ditutup dengan api unggun. Di bawah langit malam Naibonat, kobaran api tersebut akan menjadi simbol pengingat bagi Firsa, Marni, dan 673 anak lainnya: bahwa sepulang dari jambore, mereka harus membawa pulang api semangat tersebut ke jemaat masing-masing.
Mereka mungkin masih kecil, namun lewat Jambore PART V ini, mereka siap membuktikan bahwa cahaya kecil mereka mampu berdampak besar dan membawa kemuliaan bagi Tuhan Yesus Kristus Kepala Gereja


































