Majalah Suara Harapan – Tema “Mencari dan Menyelamatkan yang Hilang” dalam renungan GMIT pada Ibadat Minggu 30 Maret 2025, terinspirasi oleh perumpamaan yang terdapat dalam Lukas 15. Dalam bab ini, Yesus menyampaikan tiga perumpamaan yang menunjukkan kasih Allah kepada orang-orang berdosa dan pentingnya pertobatan.
Perumpamaan tentang domba yang hilang dan uang dirham yang hilang tidak hanya menggambarkan usaha manusia untuk menemukan kembali yang hilang, tetapi lebih dari itu, menunjukkan bagaimana Allah, melalui Yesus, berusaha mencari dan menyelamatkan kita yang berbuat dosa.
Pertobatan adalah kunci untuk berjumpa dengan Yesus, serta menjadi pintu yang membuka berkat dan keselamatan bagi setiap orang percaya. Dalam kehidupan sehari-hari, kehilangan sesuatu yang berharga pasti akan mendorong kita untuk mencarinya.
Contohnya, ketika seorang anak hilang, upaya akan dilakukan untuk menemukannya, serta ketika uang atau materi lainnya hilang, pencarian akan dilakukan hingga mendapatkan kembali.
Namun, paling utama adalah nyawa dan jiwa kita di hadapan Tuhan. Kita sering kali berjuang untuk menjaga apa yang kita anggap berharga, tetapi pada akhirnya, hanya Tuhan yang dapat memberikan keselamatan sejati bagi jiwa kita.
Dalam Lukas 15:1-7, kita membaca tentang kritik yang dialamatkan kepada Yesus oleh para ahli Taurat dan orang Farisi, yang tidak senang dengan perlakuan-Nya terhadap para pemungut cukai dan orang-orang berdosa. Sikap mereka menunjukkan kesombongan dan penghakiman terhadap mereka yang dianggap tidak layak.
Di sinilah Yesus memberikan pengajaran yang berharga bahwa Allah berkenan kepada pertobatan, bukan kematian orang fasik. Ia menggambarkan dengan jelas betapa besar sukacita Allah ketika satu orang berdosa bertobat, sebagaimana terdapat dalam perumpamaan domba yang hilang. Gembala yang meninggalkan 99 domba yang lain demi mencari satu domba yang hilang mencerminkan komitmen dan cinta Tuhan yang tidak terbatas.
Penting untuk diingat bahwa dalam konteks zaman itu, gembala dan perempuan adalah kelompok yang marjinal. Gembala domba bukan hanya sekadar mencari satu domba, tetapi memberikan makna mendalam tentang tanggung jawab dan kepemimpinan.
Pemimpin sejati adalah mereka yang bersedia untuk berkorban dan menjadi teladan bagi yang lainnya, seperti Yesus yang memanggil kita untuk bertobat dan mencari orang yang hilang. Ketika domba yang hilang ditemukan, ada sukacita yang melimpah dari gembala dan orang-orang di sekitarnya, yang menunjukkan bahwa sukacita Allah adalah ketika kita mau menerima kasih-Nya dan melakukan pertobatan.
Begitu juga dengan perumpamaan tentang uang dirham yang hilang, yang memperlihatkan betapa desaknya situasi bagi seseorang yang mungkin hidup dalam kesederhanaan.
Suatu kepingan uang yang hilang dapat memiliki dampak besar bagi mereka yang berkekurangan. Allah menjadikan momen kebangkitan, bukan hanya bagi individu yang kembali kepada-Nya, tetapi juga bagi seluruh komunitas yang bersukacita atas keselamatan satu jiwa yang bertobat.
Dalam refleksi ini, kita diundang untuk peka terhadap tanggung jawab kita sebagai “gembala” di lingkungan kita. Mencari dan menyelamatkan adalah panggilan bagi kita semua, diilhami oleh teladan Yesus.
Setiap tindakan kita dalam mencari yang hilang membutuhkan usaha dan kerendahan hati, serta ketekunan, sama seperti yang dilakukan gembala yang rela meninggalkan yang lainnya untuk menemukan satu domba.
Keselamatan yang kita terima melalui pertobatan menggarisbawahi pentingnya pengakuan dan pengembalian kepada Allah, sumber kasih dan anugerah yang tiada habis.
Sebagai penutup, tema “Mencari dan Menyelamatkan yang Hilang” menantang kita untuk menyaksikan kebaikan Tuhan dalam hidup kita dan orang lain. Mari kita terus berdoa dan berusaha menjadi bagian dari proses pencarian dan penyelamatan ini. Sebab pertobatan adalah jalan menuju kasih dan anugerah Tuhan yang merubah hidup kita dan memberi harapan kepada mereka yang hilang.
Referensi
Lukas 15:1-10.



































