Majalah Suara Harapan – Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PKB Dapil NTT II, Usman Husin, mengajak masyarakat Nusa Tenggara Timur memanfaatkan Program Fasilitasi Agroforestri Pangan dan Energi Perhutanan Sosial – FAPE-PS sebagai jalan keluar.
Bagi Usman, program Ini adalah peluang emas untuk mengubah lahan menjadi sumber penghasilan.
Usman mengajak Bapak dan Mama segera membentuk kelompok dan mengajukan usulan. Kalau kelompoknya sudah siap, sampaikan kepada saya. Saya akan bantu perjuangkan agar program ini bisa masuk ke wilayah Bapak dan Mama. Jangan sampai kesempatan ini lewat begitu saja, kata Usman, Kamis (30/7/2026).
Menurutnya, FAPE-PS adalah salah satu program strategis pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan di NTT.
Negara hadir memberikan program kepada masyarakat agar lahan yang mereka kelola menjadi sumber penghasilan dan meningkatkan kesejahteraan keluarga, ujarnya.
Pemerintah tidak memberikan bantuan dalam bentuk uang tunai. Sebagai gantinya, dialokasikan sekitar Rp5,6 juta per hektare dalam bentuk nyata.
Bantuan itu meliputi:
1. Bibit berkualitas: Tanaman kayu, MPTS seperti mete dan kakao
2. Bibit pangan: Jagung, padi, dan pangan lokal sesuai karakteristik daerah
3. Sarana produksi: Alat penunjang kegiatan dan biaya pembersihan lahan
4. Pendampingan penuh: Dari hulu sampai ada offtaker yang siap menampung hasil
DPR RI ini menambahkan Tahun ini, FAPE-PS di NTT menargetkan 1.336 hektare lahan yang akan dikelola sekitar 40 kelompok perhutanan sosial. Dengan hitungan tersebut, nilai program yang masuk ke NTT mencapai miliaran rupiah.
Ini bukan angka kecil, yang paling penting adalah masyarakat benar-benar memanfaatkan program ini agar lahannya produktif dan mampu meningkatkan pendapatan keluarga, kata Usman.
Kalau kelompok berhasil mengelola lahannya dengan baik, hasil panennya meningkat, pendapatannya naik, maka tujuan utama program ini tercapai. Kita ingin masyarakat semakin mandiri dan kemiskinan di NTT terus berkurang, tegasnya.
Kepala Balai Perhutanan Sosial Kupang, Erwin, menjelaskan FAPE-PS dirancang untuk 3 hal: ketahanan pangan, optimalisasi lahan, dan kelestarian lingkungan.
Keberhasilan sangat bergantung pada kolaborasi. Mulai dari pusat, daerah, penyuluh, kelompok, hingga mitra usaha sebagai offtaker.
Pendampingan dilakukan sejak awal pelaksanaan program hingga proses pengembangan usaha masyarakat. Kami juga melakukan monitoring dan evaluasi secara berkala agar bantuan benar-benar dimanfaatkan sesuai tujuan, kata Erwin.
Menghadapi iklim kering NTT, pihaknya juga berkoordinasi dengan BMKG untuk menentukan waktu tanam yang tepat. Komoditas prioritasnya adalah mete, kakao, dan jagung.
Erwin optimistis, jika 2026 berjalan baik, peluang perluasan program di tahun-tahun mendatang masih terbuka lebar.
Target kami bukan hanya bertambahnya tutupan lahan, tetapi juga meningkatnya produksi tanaman, terjaganya kelestarian lingkungan, dan yang paling utama meningkatnya kesejahteraan masyarakat yang mengelola kawasan perhutanan sosial, pungkasnya.
Sebagai wakil rakyat, Usman Husin berkomitmen akan terus mengawal karema tugas kami di DPR RI adalah memastikan program pemerintah benar-benar sampai kepada masyarakat, tutupnya.


































