Yupiter Loinati, M.Pd.
Majalah Suara Harapan – Buku ini tak sebatas narasi politik, melainkan menjawab satu pertanyaan besar, Mengapa negeri sekaya ini belum mampu menyejahterakan seluruh rakyatnya secara merata?
Dalam buku ini terdeteksi akar masalah Kebocoran yang tak kunjung Usai. Prabowo menggunakan istilah Paradoks untuk menggambarkan kontradiksi yang menyakitkan.
Indonesia memiliki segalanya, namun menurut analisisnya, kekayaan tersebut terus bocor ke luar negeri. Aliran modal keluar (outflow of national wealth) menjadi sorotan tajam.
Indonesia lebih sering berperan sebagai penyedia bahan mentah bagi industri global, ketimbang menjadi pemain industri yang berdaulat.
Efeknya terasa hingga ke daerah, proses penurunan peran sektor industri membuat lapangan kerja sektor formal menyusut, dan ketergantungan pada impor, baik pangan maupun energi menjadikan kedaulatan kita rapuh karena naik-turunnya harga pasar global.
Solusi yang ditawarkan dalam buku ini berakar kuat pada Ekonomi Pancasila, khususnya mandat Pasal 33 UUD 1945.
Prabowo menegaskan bahwa cabang-cabang produksi yang menguasai hajat hidup orang banyak tidak boleh dilepas sepenuhnya ke mekanisme pasar bebas (neoliberalisme). Negara harus hadir sebagai pengelola dan pelindung.
Ada tiga pilar utama solusi yang ditawarkan:
Pertama, hilirisasi Industri, mengubah pola pikir dari pengekspor bahan mentah menjadi produsen barang jadi. Dengan mengolah sumber daya di dalam negeri, nilai tambah dan lapangan kerja akan tercipta bagi anak bangsa.
Kedua, kedaulatan pangan dan energi, kemandirian adalah harga mati. Hal ini dicapai melalui perluasan lahan produktif dan optimalisasi energi terbarukan domestik agar Indonesia tak lagi didikte oleh harga impor.
Ketiga, investasi pada manusia, salah satu poin yang paling sering didiskusikan adalah penguatan SDM melalui perbaikan gizi. Program seperti pemberian makan siang dan susu menjadi simbol investasi jangka panjang untuk memutus rantai stunting dan kemiskinan sistemik.
Melalui Paradoks Indonesia, Prabowo Subianto mengajak kita untuk berani melihat ke dalam dan memperbaiki kebocoran-kebocoran yang ada.
Buku ini adalah seruan untuk melakukan nasionalisme ekonomi sebuah keberanian untuk berdiri di atas kaki sendiri.
Pada akhirnya, buku ini menjadi panduan penting bagi siapa saja yang ingin memahami arah kebijakan Indonesia ke depan yang menjanjikan bahwa kekayaan alam Nusantara seharusnya dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia



































