Majalah Suara Harapan — Di atas meja hijau, berkas perkara kasus Air Bersih Oenuntono terus berpindah tangan.
Dari ruang sidang satu ke ruang sidang lainnya, bergulir dari putusan awal, naik ke tingkat banding, hingga kini menembus meja kasasi.
Bagi para penegak hukum dan pihak yang bersengketa, ini adalah soal pasal, bukti, dan hukum. Namun, bagi Masyarakat di pelosok Oenuntono, ini adalah soal menyambung hidup.
Sabtu, 16 Mei 2026, matahari kian terbenam di Oenuntono seperti hari-hari biasanya.
Suara Harapan menemui beberapa warga di dekat bak penampung air yang kosong.
Kepada Ownership Media Suara Harapan, Yupiter Loinati, mereka mencurahkan isi hati yang selama ini terhimpit.
Demi keselamatan dan kenyamanan mereka, warga memilih berbicara dalam ruang anonim.
Namun, meski nama mereka disamarkan, keputusasaan dan harapan yang mereka suarakan sangatlah nyata.
Kata mereka, Kami tidak tahu banyak soal hukum, pak. Kami tidak paham apa itu banding atau kasasi, ujar salah seorang warga
Yang kami tahu, setiap pagi kami bangun, kami kering, dan kami harus berjalan jauh hanya untuk mencari air bersih. Sementara di pengadilan, kasus ini seperti tidak ada ujungnya.
Konflik dan proses hukum yang berlarut-larut seolah mengunci hak mereka. Palu hakim boleh saja diketuk, tetapi aliran air ke rumah warga tetap saja tersumbat oleh sengketa yang tak kunjung usai.
Di tengah ketidakpastian hukum yang melelahkan ini, masyarakat Oenuntono tampaknya mulai jenuh.
Ketika sistem manusia dirasa lambat dan berbelit, iman menjadi benteng terakhir tempat mereka bersandar.
Dengan nada suara yang bergetar namun penuh keyakinan, warga mengungkapkan kerinduan terdalam.
Mereka tidak lagi muluk-muluk meminta proyek besar; mereka hanya mendambakan sebuah mukjizat kecil.
Kami selalu berdoa setiap malam, bisik seorang warga.
Apakah akan ada pahlawan yang digerakkan oleh Tuhan untuk menolong kami di sini? Seseorang yang hatinya disentuh oleh Tuhan, yang melihat penderitaan kami sebagai sesama manusia yang haus.
Pertanyaan itu menggantung di pergumulan warga Oenuntono. Sebuah pertanyaan yang membutuhkan tindakan nyata.
Kasus Air Bersih Oenuntono kini menjadi ujian bukan hanya bagi sistem peradilan di negeri ini, tetapi juga bagi rasa kemanusiaan kita.
Di tengah proses kasasi yang sedang berjalan, kehidupan masyarakat tidak bisa ditunda.
Perut yang lapar bisa ditahan beberapa jam, namun rasa haus di tanah yang kering adalah siksaan yang terjadi setiap detik.
Masyarakat Oenuntono telah mengirimkan doa dan harapan. Saat ini kembali kepada mereka yang memiliki kuasa, harta, dan pengaruh.
Siapakah yang akan mengetuk hatinya sendiri dan menjadi jawaban atas doa-doa masyarakat Oenuntono?
Harapan besar pahlawan itu datang, karena Majalah Suara Harapan akan terus berdiri bersama warga Oenuntono.
































