Majalah Suara Harapan – Rapat Anggota Tahunan ke-XXXVII PUSKOPDIT Bekatigade Timor 2025 menghadirkan wajah berbeda dalam cara memandang koperasi.
Dalam Seminar Koperasi Kuantum: Memperkuat Nilai, Meningkatkan Ketahanan Kopdit dan Membangun Keberlanjutan Gerakan, Prof. Dr. Ir. Agus Pakpahan, M.S, Rektor Universitas Koperasi Indonesia, mengajak gerakan koperasi meninggalkan cara berpikir mekanistik dan beralih ke paradigma kuantum.
Di hadapan ratusan anggota Kopdit, Agus memaparkan bahwa koperasi kuantum berdiri di atas 5 pilar, 6 nilai dasar, dan 13 parameter operasional.
Kerangka ini lahir dari pengalaman 33 tahun Koperasi Kredit Keliling Kumang di Kalbar, yang bermula dari ruang 4×4 meter dengan modal Rp291.000 dari 12 orang.
Kini Kumang tumbuh menjadi ekosistem ekonomi yang melayani 233.200 anggota dengan aset Rp2,3 triliun pada 2025.
Agus menegaskan, koperasi kuantum memahami koperasi sebagai living system yang utuh, terhubung dalam jaringan kesadaran dan relasi yang saling memengaruhi. Enam nilai dasar yang menjadi energi sosial koperasi adalah:
1. Kekeluargaan
2. Kepercayaan
3. Usaha bersama
4. Demokrasi ekonomi
5. Loyalitas
6. Integritas
Keenam nilai ini kemudian dioperasionalkan melalui 13 parameter kuantum: stabilitas nilai inti, kepadatan relasional, kapasitas kelembagaan, resonansi eksternal, efisiensi operasional, fleksibilitas adaptif, koherensi naratif, otonomi dan desentralisasi, reputasi dan legitimasi, ketepatan waktu, cadangan energi sosial, lompatan kuantum, dan keberlanjutan generasional.
Perbedaan mendasar terletak pada cara memandang koperasi. Filosofi Newtonian melihat koperasi seperti mesin ekonomi: fokus pada modal, aset, SHU, dan angka. Nilai kepercayaan dan solidaritas diabaikan, anggota diperlakukan sebagai objek, sehingga pertumbuhan lambat, rapuh, dan mudah goyah saat krisis.
Sebaliknya, filosofi kuantum melihat koperasi sebagai sistem hidup. Fokusnya pada nilai, hubungan, dan makna. Dimensi material dan immaterial diukur bersama. Anggota diposisikan sebagai pemilik dan penggerak. Hasilnya, koperasi berpotensi melompat, adaptif, tahan krisis, dan berkelanjutan.
Kumang adalah buktinya. Dari 1993 hingga 2025, perkembangan Kumang melampaui prediksi ekonomi neoklasik. Ini lompatan kuantum yang lahir dari kesadaran, kepercayaan, dan kebersamaan, ujar Agus.
Di akhir pemaparan, Agus menekankan satu pesan, Berhentilah membaca koperasi dengan kacamata Newtonian. Rangkul paradigma kuantum untuk membangun koperasi yang berdaya, berkelanjutan, dan mampu melompat membawa rakyat kepada kesejahteraan.
Baginya, dari kesadaran, kepercayaan, dan kebersamaan, akan terjadi lompatan peradaban.































