Oleh: Meilfrits Gaspersz
Majalah Suara Harapan – Ada perbedaan mendasar antara lomba sprint dan maraton. Sprint menuntut ledakan tenaga dalam jarak pendek. Maraton menuntut ketenangan, strategi, dan kesetiaan pada ritme.
Pengalaman itu yang kami rasakan di 24 kecamatan se-Kabupaten Kupang saat menyongsong Musda XI DPD II Partai Golkar. Dari Amfoang Barat Daya sampai Semau, dari Amarasi Timur sampai Kupang Timur, Musda ini bukan garis akhir. Ia adalah pos air kelima bagi 24 kecamatan dalam perjalanan panjang partai menuju pengabdian yang lebih luas.
Pertama, Maraton Mengajarkan Arti Disiplin terhadap Komando
Keputusan DPP dan DPD untuk menyesuaikan jadwal Musda bukanlah keraguan. Itu bentuk tanggung jawab organisasi agar seluruh unsur pimpinan dapat hadir.
Pelari sprint akan mengeluh karena aba-aba start diundur. Pelari maraton akan menyesuaikan napas, karena ia tahu tujuan bukan sekadar berlari, tapi sampai di garis finish bersama.
Dari pesisir Amfoang hingga pegunungan Fatuleu, dari 24 kecamatan dengan karakter berbeda-beda, kami memahami: jarak yang harus ditempuh tidak pernah bisa diselesaikan dengan tergesa.
Kedua, Maraton Mengajarkan Arti Kebersamaan dalam Lintasan
Sepanjang perjalanan, akan selalu ada batu kerikil yang mengganggu langkah. Ada narasi yang menguji, ada suara yang memancing.
Pelari sprint akan berhenti untuk melempar batu itu kembali. Pelari maraton akan memilih mengangkat kakinya lebih tinggi, lalu melanjutkan langkah. Karena ia sadar, setiap detik yang dipakai untuk menoleh ke belakang adalah detik yang menjauhkan dari tujuan.
Tugas kami di 24 kecamatan sederhana dan sama: memastikan tidak ada satu pun kader yang tertinggal, dan memastikan nama baik Beringin tetap bersih hingga akhir. Karena maraton dimenangkan tim, bukan pelari tunggal.
Ketiga, Maraton Mengingatkan: Garis Finish Bukan Tujuan Akhir
Setelah pita finish dipotong, pekerjaan sesungguhnya baru dimulai. Musda akan memilih nahkoda. Namun Karya Kekaryaan menuntut seluruh awak kapal turun ke lapangan: menata jalan desa, menjaga harga hasil tani, mendampingi stunting. Semua itu butuh napas panjang, bukan ledakan sesaat.
Kami tidak datang untuk berlari. Kami datang untuk berjalan serentak. Tertib, khidmat, dan penuh hormat. Bukan untuk menunjukkan siapa paling cepat, tapi untuk menunjukkan bahwa Golkar Kabupaten Kupang telah dewasa dalam mengatur irama.
Langkah seribu dimulai dari langkah satu. Saatnya berlari maraton, bukan sprint, menuju Karya Kekaryaan.
Sebab kami di 24 kecamatan percaya: politik itu maraton. Dan maraton akan selalu dimenangkan oleh mereka yang setia menjaga langkah bersama-sama sampai akhir.

































