Majalah Suara Harapan – Ketua DPRD Kabupaten Kupang sekaligus pimpinan daerah Partai Golkar, Daniel Taimenas, akhirnya angkat bicara terkait dinamika yang terjadi antara Bendahara DPD II Golkar Kupang, Rita Saduk, dan Ketua Pelaksana Musda XI, Okto La’a.
Daniel menegaskan bahwa perbedaan pendapat merupakan hal yang lumrah dalam dinamika berorganisasi.
“Tentang apa yang terjadi, dinamika kemarin. Ya memang di dunia organisasi beda pendapat itu biasa,” ujar Daniel saat memberikan keterangan di Sekretariat Golkar Kabupaten Kupang kepada Suara Harapan, Rabu (3/6/2026).
Sebagai salah satu penanggung jawab organisasi, Daniel mengaku telah menerima klarifikasi langsung dari kedua belah pihak. Ia juga menyampaikan permohonan maaf kepada publik dan jajaran internal partai atas ketegangan yang sempat terjadi.
“Saya harus sampaikan permintaan maaf kepada publik, khususnya pimpinan, dari pusat sampai daerah. Keduanya sudah komunikasi, mereka sepakat datang ke saya untuk menyampaikan apa yang telah terjadi,” jelasnya.
Menurut Daniel, gesekan tersebut dipicu oleh padatnya agenda Musda serta besarnya tanggung jawab yang diemban oleh keduanya. Namun, ia memastikan situasi kini sudah kondusif.
“Di dalam komunikasi itu mungkin karena situasi begitu padat sehingga saya yakin terjadi ketegangan. Tetapi yang terakhir, mereka sudah berdamai dan saling memaafkan satu sama lain,” tegas Daniel. Ia juga berpesan agar seluruh kader kembali fokus menjaga kebersamaan dan marwah Golkar Kabupaten Kupang.
Senada dengan Ketua DPRD, Bendahara DPD II Golkar Kupang, Rita Saduk, memastikan bahwa hubungannya dengan Okto La’a sudah kembali membaik. Rita mengungkapkan bahwa hubungan mereka sudah terjalin dekat sejak lama, bahkan sebelum Okto menjabat sebagai anggota dewan.
“Bapak Okto La’a kami sudah komunikasi, kami sudah saling memaafkan. Selaku anggota Fraksi DPRD Kabupaten Kupang, sebelum beliau jadi anggota DPR, beliau adalah teman saya dan teman suami saya. Jadi secara jujur, beliau adalah saudara saya sekali,” ungkap Rita.
Rita juga menyampaikan permohonan maaf secara terbuka atas ketegangan dan kata-kata kasar yang sempat terlontar saat dinamika berlangsung.
“Mungkin saya sedikit kasar, saya minta maaf. Tapi sebagai anak-anak Tuhan, kalau ada persoalan, kita harus melepaskan pengampunan. Karena pengampunan itu ada rasa damai, sukacita, dan kebahagiaan,” tuturnya dengan penuh ketulusan.
Sementara itu, Ketua Pelaksana Musda XI, Okto La’a, menambahkan bahwa sama sekali tidak ada niat personal untuk memarahi atau menyudutkan Rita Saduk. Ia menegaskan bahwa seluruh dinamika yang terjadi kemarin murni karena tensi kerja dalam menyukseskan acara.
“Kami sama-sama berniat membesarkan partai Golkar,” pungkas Okto singkat.



































