Majalah Suara Harapan – Program Fasilitasi Agroforestri Pangan dan Energi Perhutanan Sosial – FAPE-PS tahun 2026 resmi menyasar enam 6 Kecamatan di Kabupaten Kupang
Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PKB Dapil NTT II, Usman Husin, mengajak masyarakat memanfaatkan program ini sebagai peluang meningkatkan kesejahteraan keluarga.
.
Saya mengajak Bapak dan Mama segera membentuk kelompok dan mengajukan usulan. Kalau kelompoknya sudah siap, sampaikan kepada saya. Saya akan bantu perjuangkan agar program ini bisa masuk ke wilayah Bapak dan Mama. Jangan sampai kesempatan ini lewat begitu saja kata Usman, Kamis (3/8/2026).
Menurutnya, FAPE-PS adalah salah satu program strategis pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan di NTT.
Negara hadir memberikan program kepada masyarakat agar lahan yang mereka kelola menjadi sumber penghasilan dan meningkatkan kesejahteraan keluarga, ujarnya.
Khusus Kabupaten Kupang, 6 lokasi ini menjadi prioritas awal:
1 Nekamese Desa Oben 25 hektare
2 Amarasi Kelurahan Nonbes 15 hektare
3 Amfoang Selatan Desa Ohaem 25 hektare
4 Fatuleu Desa Silu 25 hektare
5 Amfoang Timur Desa Netemnanu 20 hektare
6 Takari Kelurahan Takari 25 hektare
Pemerintah mengalokasikan sekitar Rp5,6 juta per hektare dalam bentuk sarana produksi, bukan uang tunai.
Bantuan meliputi:
1. Bibit berkualitas: Tanaman kayu, MPTS mete dan kakao
2. Bibit pangan: Jagung, padi, dan pangan lokal sesuai karakteristik daerah
3. Sarana produksi: Alat penunjang dan biaya pembersihan lahan
4. Pendampingan: Dari hulu sampai ada offtaker yang siap menampung hasil
Ini bukan angka yang kecil. Yang paling penting masyarakat benar-benar memanfaatkan program ini agar lahannya produktif dan mampu meningkatkan pendapatan keluarga, kata Usman.
Kalau kelompok berhasil mengelola lahannya dengan baik, hasil panennya meningkat, pendapatannya naik, maka tujuan utama program ini tercapai. Kita ingin masyarakat semakin mandiri dan kemiskinan di NTT terus berkurang, tegasnya.
Kepala Balai Perhutanan Sosial Kupang, Erwin, menjelaskan FAPE-PS dirancang untuk memperkuat ketahanan pangan, mengoptimalkan lahan, dan menjaga kelestarian lingkungan.
Keberhasilan sangat bergantung pada kolaborasi. Dari pusat, daerah, penyuluh, kelompok, hingga mitra usaha sebagai offtaker kata Erwin.
Pendampingan dilakukan sejak awal hingga pengembangan usaha. Kami juga monitoring dan evaluasi berkala agar bantuan tepat sasaran, tambahnya.
Menghadapi iklim kering, pihaknya berkoordinasi dengan BMKG untuk menentukan waktu tanam. Komoditas prioritas di Kabupaten Kupang: mete, kakao, dan jagung.
Target kami bukan hanya bertambahnya tutupan lahan, tetapi juga meningkatnya produksi, terjaganya lingkungan, dan yang paling utama meningkatnya kesejahteraan masyarakat pengelola kawasan perhutanan sosial, pungkasnya.
Tugas kami di DPR RI adalah memastikan program pemerintah benar-benar sampai kepada masyarakat, tutupnya.


































