Majalah Suara Harapan — Kesehatan pasien Tuberkulosis (TBC) membutuhkan perhatian secara menyeluruh (holistik), tidak hanya berfokus pada pengobatan penyakit utamanya saja tetapi juga mencakup kesehatan rongga mulut. Berangkat dari kepedulian tersebut, tim dosen dan mahasiswa Jurusan Keperawatan Gigi Poltekkes Kemenkes Kupang menggelar kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat yang menyasar para pasien TBC purna-pengobatan di wilayah kerja Puskesmas Baumata.
Kegiatan bertajuk “Satu Mulut, Banyak Dampak” ini diikuti oleh 15 peserta. Rangkaian acara meliputi pemeriksaan kondisi gigi dan mulut, edukasi interaktif, hingga evaluasi tingkat pemahaman peserta sebelum dan sesudah materi diberikan.
Dari hasil pemeriksaan langsung di lapangan, tim medis masih menemukan berbagai masalah kesehatan gigi dan mulut pada peserta. Masalah yang paling mendominasi antara lain: Karies (gigi berlubang), Gigi hilang dan sisa akar gigi, Penumpukan debris serta kalkulus (karang gigi)
Ketua Tim Pengabdian Masyarakat, drg. Manginar Sidabutar, MHID, menegaskan pentingnya pemeriksaan gigi secara berkala bagi pasien purna-TBC.
“Pasien TBC membutuhkan perhatian menyeluruh. Mulut merupakan gerbang utama masuknya bakteri ke dalam tubuh. Kami ingin masyarakat memahami bahwa kesehatan organ tubuh itu saling berkaitan,” ujar drg. Manginar.
Guna mengukur efektivitas edukasi, tim memberikan tes pemahaman (pre-test dan post-test) kepada para peserta. Hasil evaluasi menunjukkan lonjakan pengetahuan yang sangat signifikan:
Sebelum Edukasi: Rata-rata nilai pemahaman peserta berada di angka 49,3%.
Setelah Edukasi: Rata-rata nilai pemahaman melesat tajam menjadi 100%.
Meski demikian, drg. Manginar menekankan bahwa keberhasilan utama dari kegiatan ini bukan sekadar angka evaluasi di atas kertas, melainkan bagaimana pengetahuan tersebut bisa diubah menjadi kebiasaan sehari-hari secara konsisten di rumah.
Pelaksanaan kegiatan ini juga mendapat pendampingan penuh dari pihak Puskesmas Baumata yang diwakili oleh Lidia Kaka, A.Md.Kep. Kolaborasi antara institusi pendidikan tenaga kesehatan, puskesmas, dan masyarakat ini diharapkan mampu memperkuat upaya promotif dan preventif dalam meningkatkan kualitas hidup pasien TBC pascapengobatan.
Harapan kami, peserta tidak hanya berhenti pada mendapatkan pengetahuan hari ini saja, tetapi benar-benar membawa kebiasaan menjaga kebersihan mulut ini ke rumah dan menerapkannya secara berkelanjutan, tutup drg. Manginar.


































