Majalah Suara Harapan – Tanah di Nusa Tenggara Timur (NTT) selama ini identik dengan tanaman pangan lahan kering atau komoditas perkebunan konvensional.
Namun, pada Sabtu (20/6/2026), sebuah sejarah baru terukir serentak di dua titik berbeda: Kabupaten Rote Ndao dan Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Untuk pertama kalinya, ribuan anakan durian varietas unggul mendarat di tanah para petani, membawa serta mimpi besar tentang masa depan yang lebih hijau.
Langkah terobosan ini lahir dari jalur aspirasi Usman Husin, S.E., Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Dapil NTT II. Melalui tangan dinginnya, total 4.000 bibit durian disalurkan sebagai pemantik motor ekonomi baru berbasis desa.
Di Kabupaten Rote Ndao, wilayah paling selatan Indonesia, kedatangan 2.000 anakan durian menjadi buah bibir. Komoditas yang diserahkan bukanlah varietas sembarangan, melainkan Durian Otong salah satu varietas unggul turunan Monthong (Golden Pillow) asal Thailand yang terkenal berdaging tebal, manis, berbiji kecil, dan sangat produktif.
Kecamatan Rote Selatan dipilih menjadi pusat penanaman. Kondisi topografi dataran tinggi dengan udara yang lebih lembap dinilai menjadi modal alam yang sempurna bagi tumbuh kembang sang raja buah.
Memang ini pertama kali terjadi, petani di Kabupaten Rote Ndao mendapat bantuan anakan durian, bahkan jumlahnya mencapai 2.000 pohon. Ini adalah langkah awal untuk menjadikan Rote Ndao sebagai salah satu sentra durian di NTT, ujar Usman Husin dalam keterangan resminya.
Sebanyak 2.000 bibit tersebut dibagi rata kepada 10 Kelompok Tani (Poktan) penerima manfaat, di mana masing-masing kelompok mengantongi 200 jatah anakan. Usman juga membuka pintu bagi kecamatan lain, asalkan memiliki karakteristik lahan dataran tinggi yang mendukung.
Napas perubahan yang sama berembus di daratan Timor Tengah Selatan (TTS). Di hari yang sama, 2.000 anakan durian juga tiba dan langsung menyebar ke kantong-kantong pertanian di wilayah Mollo Utara yang terkenal subur dan sejuk.
Distribusi bantuan di TTS dibagi menjadi dua titik utama:
Desa Hoi: Menerima porsi terbesar sebanyak 1.020 anakan durian.
Wilayah Mollo Utara lainnya: Mendapatkan alokasi 980 anakan durian yang siap tanam.
Bagi masyarakat TTS, program ini bukan sekadar bantuan bibit gratis. Ini adalah pengakuan atas potensi lahan mereka yang selama ini belum tersentuh program serupa dari pusat.
Sebagai Wakil Rakyat yang membidangi pertanian, perkebunan, kehutanan, kelautan, dan pangan, Usman Husin sadar betul bahwa membagikan bibit hanyalah babak pertama. Tantangan sesungguhnya ada pada ketelatenan petani dalam merawatnya hingga masa panen tiba.
Mengingat nilai jual durian yang sangat tinggi dan stabil di pasaran, komoditas ini diproyeksikan mampu menggeser ketergantungan ekonomi petani pada tanaman semusim.
Dari Rote Selatan hingga perbukitan Mollo, ada harapan besar bahwa NTT kelak tidak hanya dikenal dengan keindahan alamnya, tetapi juga sebagai salah satu daerah penghasil durian baru di Indonesia Timur.
Apresiasi pun mengalir dari kelompok tani di kedua kabupaten. Bagi mereka, kehadiran ribuan pohon durian ini adalah bukti nyata bahwa suara dari pelosok daerah mampu menembus dinding parlemen di ibu kota, menjelma menjadi program konkret yang menyentuh langsung tanah tempat mereka mengadu nasib.


































