Majalah Suara Harapan – Di sela perjalanan pulang ke NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat menyempatkan diri hadir di Fakultas Teknik Universitas Udayana, Bali.
Bukan untuk urusan politik. Tapi untuk menyaksikan Ujian Terbuka Promosi Doktor Kristomus Boimau, putra NTT yang mempertahankan disertasi berjudul:
“Pengembangan Biokomposit Serat Buah Lontar (Borassus flabellifer) Bermatriks Polylactic Acid (PLA) untuk Lingkungan Higrotermal”
Dari Yang Sederhana Menjadi Bernilai
Bagi kebanyakan orang, buah lontar mungkin hanya dikenal sebagai bahan gula, tuak, atau tikar. Seratnya sering dianggap limbah, bernilai rendah.
Namun di tangan riset, serat itu berubah wujud. Menjadi material komposit yang kuat, ringan, dan ramah lingkungan.
Penelitian seperti ini memiliki arti penting bagi NTT. Lontar tumbuh dekat dengan kehidupan masyarakat, tetapi potensi ekonominya masih dapat dikembangkan jauh lebih besar, postingan Viktor pada akun Facebook usai menyaksikan ujian terbuka tersebut, Rabu (19/8).
Viktor melihat lebih jauh dari sekadar disertasi. Ia melihat peluang industri.
Serat buah lontar, kata dia, bisa membuka ruang bagi usaha pengolahan di tingkat lokal. Dari yang tadinya hanya dijual mentah, kini bisa naik kelas menjadi bahan baku industri.
Mulai dari furnitur, kemasan, panel interior, hingga komponen ringan lainnya.
Di titik inilah ilmu pengetahuan bertemu dengan potensi daerah. Ketika pengetahuan, teknologi, dan potensi lokal dipertemukan, sesuatu yang selama ini dianggap sederhana dapat berubah menjadi sumber nilai dan peluang bagi masyarakat, tegasnya.
Bagi Viktor, karya Kristomus adalah cermin. Cermin bahwa NTT tidak perlu selalu mencari keluar untuk maju.
Saya selalu melihat masa depan NTT tumbuh dari kemampuan kita mengolah apa yang sudah kita miliki. Lontar adalah salah satunya, ujarnya.
Ia menekankan, pembangunan daerah tidak cukup hanya dengan sumber daya alam. Harus ada ilmu, riset, dan keberanian untuk berinovasi agar kekayaan lokal diberi nilai tambah.
Karya Kristomus mengingatkan kita bahwa masa depan daerah dapat dibangun dari kekayaan yang tumbuh di tanah sendiri, lalu diberi nilai melalui ilmu, pungkasnya.


































