Majalah Suara Harapan – Dari Barat Sampai ke Timur, kuda berlari penuh gagah… Bait puisi itu bukan sekadar rangkaian kata, melainkan representasi dari denyut nadi, harga diri, dan warisan leluhur yang kembali membubung tinggi di bawah langit Rote Ndao.
Melalui gelaran Usman Husin Cup, tradisi pacuan kuda khas Rote atau yang akrab dikenal sebagai Hus bukan lagi sebatas perlombaan.
Ia telah menjelma menjadi panggung besar bagi persatuan, pelestarian budaya, dan kebangkitan prestasi generasi muda di beranda selatan Indonesia.
Bagi masyarakat Rote Ndao, Hus adalah ritual penghormatan, simbol rasa syukur, dan kerekatan sosial. Ketika deru kaki kuda mulai bergemuruh membelah tanah, ada getaran magis yang memanggil pulang setiap jiwa.
02 Juli kita bersatu, Hus kuda memanggil jiwa, ungkap Usman Husin kepada Suara Harapan. Ungkapan ini menegaskan bahwa esensi dari turnamen ini adalah mengumpulkan yang tercecer, merekatkan yang renggang, dan menyatukan seluruh elemen masyarakat dalam satu harmoni suka cita.
Di tengah gempuran modernisasi, menjaga orisinalitas budaya adalah tantangan besar. Namun, melalui komitmen yang digaungkan dalam Usman Husin Cup, ada pesan kuat yang dititipkan untuk masa depan: Budaya leluhur kita jaga, untuk anak cucu Rote Ndao yang tercinta.
Menariknya, ajang ini tidak berjalan di tempat sebagai tontonan masa lalu. Usman Husin Cup berhasil mengawinkan dua dimensi penting: konservasi budaya dan pengembangan potensi lokal.
Memastikan generasi muda Rote tidak kehilangan identitasnya sebagai penunggang kuda yang tangguh dan menghormati filosofi foti (tarian kuda).
Menjadi wadah kompetisi yang sehat guna melahirkan atlet-atlet berkuda berbakat yang mampu membawa nama Rote Ndao ke kancah nasional maupun internasional.
Saat bendera start dikibarkan nanti, tidak ada lagi sekat pemisah. Dari barat hingga ke timur Rote Ndao, semua mata akan tertuju pada ketangkasan para joki dan kegagahan kuda-kuda yang berlaga.


































