KUPANG, SH – Masyarakat Kecamatan Fatuleu antusias mengikuti kampanye sosial adaptasi perubahan iklim yang digelar Perkumpulan Masyarakat Penanganan Bencana (PMPB) dan Church World Service (CWS), di kantor camat Fatuleu, Jumat (21/6).
Kegiatan ini menjadi ajang pameran hasil pelatihan adaptasi perubahan iklim yang telah dilakukan di tiga desa dampingan PMPB dan CWS, yakni Desa Naunu, Oebola, dan Camplong II.
Direktur PMPB, Kristian Nggelan, menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk menyebarluaskan informasi dan praktik baik tentang adaptasi perubahan iklim melalui pameran hasil pelatihan yang dilakukan oleh masyarakat.
Hasil pelatihan yang ditampilkan antara lain pupuk dan pestisida organik, fermentasi buah untuk pakan ternak, pengolahan energi alternatif menggunakan kotoran hewan, dan pengolahan pangan lokal.
Selain pameran, kegiatan ini juga diisi dengan demo pembuatan fermentasi pakan ternak, pupuk dan pestisida organik, pewarnaan benang untuk tenun ikat, dan pengolahan pangan lokal.

Perwakilan CWS Indonesia, Wellem Banik, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program ACTION (Assisting Community Through Inclusive Climate Change Adaptation).
“Tujuan dari project ini adalah untuk memperkuat ketahanan masyarakat kelompok rentan di Timor Barat untuk beradaptasi dengan dampak perubahan iklim,” jelas Wellem.
Kegiatan ini dihadiri oleh 76 orang peserta yang terdiri dari PKK Kabupaten Kupang, aparat dan masyarakat desa, instansi terkait, dan aparat desa lainnya di Kecamatan Fatuleu.

Camat Fatuleu, Hendra Mooy, menyambut baik kegiatan ini dan berharap pengetahuan dan keterampilan yang telah didapat masyarakat dapat terus diterapkan dan dibagikan kepada lebih banyak orang.
“Kondisi Fatuleu yang rawan kebakaran hutan dan lahan setiap tahun sehingga dengan kehadiran project ACTION bisa menjadi dukungan kepada masyarakat untuk beradaptasi dengan perubahan iklim,” ujarnya.
Antusiasme Masyarakat
Ketua PKK Desa Naunu, Hine G. Hau Oni, mengungkapkan kegembiraannya atas kesempatan yang mereka dapat untuk memamerkan hasil tenun ikat yang telah mereka kembangkan.
“Ini adalah kali pertama para wanita dari desa ini ‘dikeluarkan dari dapur untuk mengeluarkan hasil masakannya’,” ujarnya.

Menurut Hine, selama ini mereka menenun hanya sebagai pekerjaan sambilan saja. Namun dengan adanya pelatihan pencelupan benang dan bantuan benang dari CWS Indonesia dan PMPB NTT serta kegiatan pameran tersebut, ada nilai ekonomis lebih yang mereka dapatkan.
Sekretaris Desa Oebola, Selfius Kono, juga turut menyampaikan antusiasme masyarakatnya terhadap kegiatan ini.
“Ini adalah wadah bagi kami, terkhususnya para petani desa Oebola, untuk membawa hasil produksi dari rencana tindak lanjut yang dilakukan sebelumnya oleh CWS Indonesia dan PMPB NTT,” ujarnya.
Perwakilan dari kelompok tani desa Oebola juga turut hadir dalam kegiatan ini untuk melakukan demo pembuatan pupuk bokasi dan pakan ternak sapi atau yang disebut Hay.

“Pupuk bokasi ini menggunakan bahan-bahan yang ada di sekitar kita seperti kotoran sapi, dedak, sekam, dan dedaunan. Sedangkan Hay adalah hijauan yang dikeringkan dan disimpan untuk dijadikan stok. Kegunaannya adalah jika musim kekeringan dan pakan ternak mulai berkurang, maka bisa digunakan Hay ini untuk pakan,” jelas Serfius.
Charles Bones, peserta dari desa Camplong II, menyampaikan terima kasih kepada PMPB dan CWS yang telah memfasilitasi mereka dengan pelatihan-pelatihan yang sangat berguna bagi kehidupan mereka sebagai petani peternak.
“Pelatihan-pelatihan seperti fermentasi batang pisang dan pembuatan pestisida nabati sangat membantu kami sehingga bisa menghemat pengeluaran dan menjadi petani yang lebih sukses lagi,” pungkas Charles.(*)

































